Bangun Tahura, Jangan Sekadar PAD

Pengelolaan taman hutan raya (tahura) jangan sekadar mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selain sudah menyalahi substansi pembangunan tahura sendiri, juga perlu diingat pembangunan tahura sendiri merupakan proyek rugi. Tahura lebih difungsikan sebagai kawasan pelestarian alam yang khusus diperuntukan sebagai tujuan koleksi tumbuhan atau pun satwa, nantinya digunakan sebagai bahan penelitian, budaya dan rekresiasi.
Demikian mengemukan dalam Lokakarya Revitalisasi Pengelolaan Taman Hutan Raya (Tahura) Dr Mohammad Hatta, di Gedung F Kampus Unand Limaumanih, Padang, kemarin. Kegiatan yang dibuka Wakil Gubernur Sumbar, Marlis Rahman ini ditujukan untuk menghimpun masukan dan jalan tengah pengelolaan Tahura Dr Mohammad Hatta menyusul keluarnya Izin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) dari Menteri Kehutanan (Menhut) kepada PT Sumber Wisata Agrolestari (PT SWAL).


“Seharusnya pengelolaan tahura tidak dilihat dari aspek PAD-nya saja. Toh, tahura ini termasuk proyek rugi. Jadi, kalau hanya dilihat dari aspek PAD saja, sebaiknya tak usaha saja,” jelas Kepala KRB Bogor, Dr Irawati. Ia melihat pengelolaan tahura sudah banyak melenceng dari relnya, apalagi kalau bukan untuk sekadar mencari PAD.
Sejak beberapa tahun belakangan, jelas Irawati, keinginan daerah untuk membangun tahura kian besar. Saat ini saja ada sembilan tahura yang sedang dibangun, seperti Tahura Bukit Sari Jambi seluas 425,5 Ha. Selain itu, juga ada lima tahura yang segera dubangun, di antaranya Tahura Sambas, Kalimantan Barat, seluas (300 Ha). Gencarnya pembangunan tahura ini, jelas Irawati, tak lepas dari anjuran Presiden RI agar setiap daerah memiliki tahura.
Sayangnya, jelas Irawati pengelolaannya lebih banyak untuk mengejar PAD saja. Biarpun begitu, ia berharap pengelolaan Tahura Dr Mohammad Hatta mendatang tetap berpijak pada konsep dasarnya. Salah satunya, tetap mempertahankan statusnya sebagai tahura, tapi aktivitas penataan dan penambahan tumbuhannya lebih intensif sesuai dengan Kepres RI No 35 tahun 1986 tentang Pembangunan Kebun Raya Setia Mulya sebagai Taman Hutan Raya Dr Mohammad Hatta.
Utamakan Aspek Lingkungan
Sebelumnya Marlis Rahman mengingatkan dalam pengelolaan mendatang, aspek keseimbangan lingkungan perlu menjadi skala prioritas. Semua ini tak lepas dari keunikan ekosistem yang dimiliki tahura tersebut. Untuk itu, dibutuhkan perencanaan yang baik sehingga tidak merugikan daerah untuk jangka panjang.
“Kita prihatin juga dengan kondisi tahura sekarang. Padahal keberadaanya berperan vital bagi daerah. Itulah sebabnya, kita berharap kepada investor yang menggarapnya nanti untuk mengawalinya dengan perencanaan matang. Serahkanlah sepenuhnya kepada ahli-ahlinya,” tukas Marlis. Selain Irawati, tampil menjadi narasumber, perwakilan Warsi, Fitra Akhriadi, juga Prof Drs Sjahbuddin MS.
Unand sendiri kata Rektor Unand Prof Dr Musliar Kasim MS siap memberikan masukan untuk mengelola tahura tersebut. Ini tak lepas dari kenyataan, Unand merupakan universitas yang sudah sejak awal turut mendukung pengadaan tahura ini. “Tentu, harus ada perencanaan yang jelas,” tukas Musliar, didampingi Pembantu Rektor IV, Dr Elvi Sahlan Ben.
Hanya Manfaatkan 240 Ha
Sementara Kepala Bapedalda Padang, Indang Dewata mengatakan, perizinan yang dikeluarkan Menhut hanya untuk pengelolaan 6,8 Ha dari 240 Ha kawasan tahura yang menjadi tanggung jawab Pemko Padang. Selain itu, prinsip pengelolaan kawasan itu, hanya diperuntukan bagi objek wisata berwawasan lingkungan.
“Bukan keseluruhan, namun hanya kawasan yang sudah diperuntukan untuk objek wisata sekarang. Ya, seperti lokasi yang sudah dibangun gedung-gedung itulah. Selain itu, setelah izin keluar bukan otomatis investor langsung bekerja. Mereka harus membuat dokumen Andal, Amdal, RKL, RUPL, dan lainnya. Setelah itu kita harapkan masyarakat juga turut berperan untuk mengawasi pembangunannya,” tukasnya. (rdo)

Iklan

2 pemikiran pada “Bangun Tahura, Jangan Sekadar PAD

  1. Saya sepakat. Karena sebenarnya Tahura sebenarnya lebih diarahkan pada upaya pelestarian fungsi kawasan hutan yang belum tergantkan oleh potensi sumber daya lainnya. Misalnya produksi oksigen, pengatur hidrologi, iklim mikro dan lain sebagainya.

  2. Kita semua prihatin akan keadaan Tahura Dr.Moh Hatta sekarang, apalgi dengan adanya rencana pengembangan kawasan Tahura menjadi objek wisata. Studi AMDAL yang sedang dilaksnakan tidak selalu “menghalalkan” setiap kegiatan yang akan dilaksanakan karena mendatangkan dampak besar bagi lingkungan. Hasil akhir studi AMDAL bisa saja tidak menyetujui rencana kegiatan. Jangan sampai Studi AMDAL dipolitisir untuk melakukan pembenaran terhadap renacana kegiatan yang akan dilakukan…. Sekali kita berbuat kesalahan dalam pengelolaan lingkungan,Sampai tujuh keturunan anak cucu kita akan mengutuk kita…Pemerintah Kota jangan hanya demi mengejar PAD semua kegiatan dihalalkan tanpa mempertimbangkan resiko lingkungan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s