Jamsostek Memberikan Keuntungan Plus

Perlindungan sosial terhadap te­naga kerja masih menjadi persoalan krusial di dunia ketenagakerjaan Indonesia. Biarpun ketentuan ini sudah diama­natkan UU No 3 tahun 1992 ten­tang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jam­sos­tek), namun tetap saja pengusaha belum se­penuhnya tunduk dengan ke­ten­tu­an itu. Selain beralasan belum memiliki ke­mam­puan, minimnya ke­sadaran pe­ngu­sa­ha dan tenaga kerja sendiri akan hak­nya juga menjadi pe­nyebab masih banyak tenaga kerja belum tersentuh jaminan.

Di Sumbar misalnya, khusus peserta Jamsostek menurut mantan Ketua Ca­bang Jamsostek Sumbar, Jonaidi Basir, baru terdaftar 165 ribu tenaga kerja dengan 50 ribu tertanggung. Angka itu jelas belum sebanding dengan jumlah tenaga kerja di Sumbar yang jumlahnya mencapai jutaan. Apalagi Sumbar terma­suk salah satu daerah dengan risiko kecelakaan kerja tertinggi. Ini tak lepas dari berbagai ancaman musibah yang kerap terjadi di Sumbar.

Seperti dampak gempa berkekuatan 7,9 skala richter 30 September 2009 lalu. Data Kadin Sumbar menyebutkan, se­tidak­nya 50 persen pelaku usaha kecil menengah (UKM) di Sumbar  terhimbas secara langsung. Bila berpatokan kepada data UKM tahun 2007 lalu dengan jumlah mencapai 943 usaha, maka kata Ketua Kadin Sumbar Asnawi Bahar, bisa diper­kirakan sendiri berapa jumlah tenaga kerjanya. Kalau minimal ada seorang pekerja tiap UKM, berarti jumlahnya 943 orang dan separuhnya terancam kehi­langan pekerjaan. Itu pun belum ter­masuk UKM yang terhimbas secara tidak langsung.

Persoalannya sekarang, belum selu­ruh tenaga kerja tersebut tersentuh jaminan. Akibatnya, mereka yang teran­cam atau pun terkena pemutusan hubu­ngan kerja (PHK), tak menerima apa-apa. Bahkan ada di antaranya, meninggal dunia sewaktu bekerja. Kenyataan pahit ini jelas tak hanya ditanggung tenaga kerja bersangkutan, tapi juga anak dan istrinya. Persoalan inilah yang banyak dirasakan tenaga kerja yang sudah di rumahkan di Sumbar. Ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Kejadian paling memilukan juga pernah terjadi dalam ledakan tambang di Bukitbual, Kecamatan Talawi, Sa­wah­lunto, beberapa waktu lalu. Lebih 30 pekerja pada usaha tambang yang dike­lola PT Dasrat Sarana Arang Sejati yang disubkontrakan kepada CV Perdana meninggal terpanggang gas metan. Lagi-lagi perusahaan tersebut belum men­daftarkan pekerjanya menjadi peserta jaminan sosial tenaga kerja. Ini sesuai laporan PT Jamsostek (Persero) Cabang Solok. Padahal, PT Jamsostek bersama Dinas Tenaga Kerja Sawahlunto sudah berulang kali menyampaikannya.

Padahal, mengacu kepada ketentuan UU No 13 tahun 2003 mengenai Ketena­gakerjaan dan UU No 3 tahun 1992 secara jelas dan tegas mengamanatkan bahwa perusahaan yang membayar upah seluruh tenaga kerja Rp1 juta dan atau mem­pekerjakan 10 orang, wajib hu­kumnya masuk Jamsostek. Bila lalai memenuhi amanat UU itu, bisa diancam kurungan penjara dan didenda.

Biarpun begitu, bila berkaca pada kedua kejadian itu, di sinilah pentingnya memberikan jaminan terhadap tenaga kerja. Jaminan itu tak serta merta hanya menguntungkan tenaga kerja. Tapi, juga berkorelasi terhadap peningkatan pro­duk­tivitas tenaga kerja. Mereka tak lagi dihantui dengan ketakutan saat melak­sanakan pekerjaannya. Ujung-ujungnya, juga menguntungkan pengusaha sendiri. Produk yang dihasilkan bisa bertambah dan kualitasnya juga lebih baik. Seti­daknya ini sesuai dengan konsep pro­duktivitas kerja. Produktivitas di kelom­pokan dalam dua dimensi, individu dan organisasi.

Dimensi individu melihat pro­dukti­vitas dikaitkan dengan karakteristik kepribadian individu yang muncul dalam bentuk sikap mental. Intinya, individu selalu berusaha meningkatkan kualitas kehidupannya. Sedangkan dimensi keor­ganisasian lebih menekankan pada ke­rang­ka hubungan teknis antara masukan (input) dan keluaran (out put). Pening­katan produktivitas tidak hanya dilihat dari aspek kuantitas, tatapi juga dari aspek kualitas. Dalam kedua aspek itu, jaminan kenyamanan dalam bekerja dan berkarir sangat menentukan. Men­daf­tarkan tenaga kerja mengikuti program Jamsostek, menjadi prasyarat penting yang perlu dipahami pengusaha.

Jamsostek Pilihan Tepat

Keberadaan PT Jamsostek (Persero) sebagai badan penyelenggara program jaminan sosial tenaga kerja di Indonesia berdasarkan UU No 3 tahun 1992, me­mang tak perlu diragukan lagi. Sejauh ini, Jamsostek sudah memberikan andil signifikan terhadap jaminan sosial tenaga kerja.

Melalui program-prog­ramnya, yakni jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua dan jaminan pemeliharaan kesehatan, telah men­dapat kepercayaan dari pesertanya.

Tak berbelit-belitnya prosedur men­jadi peserta dan iuran tiap bulannya, menjadi alasan utama banyak kalangan bergabung dengan perusahan ini. Seperti diutarakan Kepala Kantor Wilayah I PT Jamsostek (Persero) Mas’ud Mu­ham­mad. Pembayaran bagi bujangan tiap bulannya maksimal Rp30 ribu, se­dangkan bagi mereka berkeluarga mak­simal Rp60 ribu. Dengan iuran seperti itu, Jamsostek bisa menjamin bukan hanya kesehatan, na­mun juga hari tua para peserta.

Ambil contoh pekerja dengan upah Rp1 juta. Bila saat berkerja mengalami kecelakaan dan meninggal, bisa mem­peroleh minimal Rp50 juta ditambah santunan berkala selama dua tahun sebesar Rp200 ribu/bulan, dan beasiswa bagi anak korban. Jelas dengan santunan sebesar itu, kata Mas’ud, sudah bisa membantu keuangan keluarga yang ditinggalkan. Secara tidak langsung, program-program yang ditawarkan Jam­sostek turut mengangkat kesejahteraan kepada peserta atau pun tanggungannya.

Dalam gempa Sumbar 30 September lalu misal. PT Jamsostek (Persero) setidaknya sudah membayarkan asu­ransi santunan sebesar Rp2 miliar kepada korban meninggal dunia. Ter­masuk kepada keluarga dari lima kar­yawan PT Suzuki Finance Cabang Pa­dang yang meninggal dunia. Mereka, kata Direktur Operasi dan Pelayanan PT Jamsostek (Persero), Ahmad Ansyori, di Jakarta, Rabu (11/11), memperoleh santunan jaminan kecelakaan kerja dan jaminan hari tua. Total peserta Jam­sostek yang meninggal dunia, luka-luka dalam musi­bah itu sekitar 200 orang. Untuk korban meninggal santunan diberikan sebesar 48 kali upah (gaji yang dilaporkan perusa­haan). Untuk korban cacat tetap, total jumlah santunan sebesar 56 kali upah.

Melihat berbagai keuntungan dan kemudahan yang ditawarkan Jamsostek, seharusnya bisa menggugah pengusaha bergabung dengan program-program Jamsostek. Tenaga kerja pun mesti begitu, mesti mendorong pimpinan peru­sahaannya memenuhi hak pekerja. Apa­lagi itu sudah menjadi ketentuan UU yang wajib ditunaikan. (***)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s