Tim Teknik Sipil Unand, Peraih Penghargaan Unesco

Ingin Bangun Sekolah Plus Evakuasi
Gempa tak selamanya menimbulkan duka, tapi juga bisa menjadi kebahagiaan. Setidaknya itulah yang dirasakan tim Teknik Sipil Fakultas Teknik Unand. Kolaborasinya bersama tim Standford University Amerika Serikat dalam merancang proyek bangunan evakuasi tsunami, berhasil meraih penghargaan dari UNESCO. Bagaimana ceritanya?
Laporan: Rommi Delfiano—Padang
Andi Syukri terlihat sumbringah ketika bertemu dengan Padang Ekspres beberapa hari lalu, di Dekanat Fakultes Teknik Unand. Alumni Teknik Sipil Unand ini baru saja kembali dari Sttugart Jerman mengikuti ajang Mondiologo Intercultural Dialogue and Enchange bekerja sama UNESCO dengan Daimler. Tak tanggung-tanggung, Andi berhasil mengondol medali perak dalam iven keteknikan bertaraf internasional itu.
Prestasi ini memang bukan milik Andi secara pribadi, tapi tim Unand dan Stanford University. Ajang ini memang mengharuskan peserta berkolaborasi antara perguruan tinggi asal negara maju dan berkembang. Indonesia masuk kategori negara berkembang. Dari tiga kali kompetisi ini dilaksanakan, inilah keikutsertaan pertama Unand. Kendati belum memperoleh medali emas, setidaknya keberhasilan ini membuktikan putra Ranah Minang masih bisa bersaing di kancah internasional.
“Awalnya, sebanyak 930 proposal masuk panitia dari berbagai negara. Lalu, disaring menjadi 30 finalis. Alhamdulillah, kita masuk finalis. Selain Unand, tim UGM dan Udayana juga lolos. Kita diundang ke sana (Sttugart, red) mempresentasikan proposal yang diajukan. Waktu itu saya diutus, sedangkan Stanford University Kelly Rust Wood. Inilah kali pertama saya mengunjungi negara yang terkenal dengan Tembok Berlin itu,” kata Andi didampingi rekannya, Fengky Satria Yoresta.
Fengky sendiri memiliki andil besar dalam lomba ini. Ia lah yang pertama kali mendaftarkan keikutsertaan tim Unand dalam ajang Mondiologo sekitar Februari 2009 lalu. Waktu itu lebih difokuskan pada bangunan tahan gempa. “Idenya sendiri berasal dari dukungan Bapak Febrin Anas Ismail (Ketua Tim Assesment Konstruksi Bangunan Sumbar, red) selaku pembimbing. Waktu itu belum ada Stanford,” kata Fengki, alumni SMA 2 Sungaipenuh, Kerinci ini.
Mujurnya. Tak beberapa lama setelah itu, kebetulan tim Stanford University berkeinginan meneliti bangunan di Padang. Mereka tertarik memilih Padang sebagai objek penelitian setelah mempelajari data nasional geographical Maret 2005. Padang sangat rawan bencana, terutama tsunami. Apalagi tekstur wilayahnya relatif datar dan masyarakat menetap di bagian pesisir pantai. “Mereka ingin memastikan kelayakan gedung di Padang,” kata Andi, alumni SMA 2 Payakumbuh.
Kendati awalnya penelitian tersebut tak ditujukan untuk mengikuti iven Mondiologo, namun dalam perjalanan pihak Unand dan Stanford bersepakat menjadikan penelitian itu sebagai judul perlombaan. Jadilah sebelum penutupan akhir pendaftaran (30 April 2009, red), judul proposal diubah menjadi “Evacuation Infrastructure from Tsunamis for Costal Communities in West Sumantra” (Infrastuktur evakuasi dari tsunami untuk masyarakat daerah pesisir di Sumbar).
Usai itu, tambah Andi, tim Unand dan Stanford melakukan survei terhadap kelayakan gedung Padang. Terutama gedung-gedung pemerintahan, dan gedung bertingkat lainnya. “Kita memulai survei 15 Juli sampai 14 Agustus 2009. Waktu itu kita mensurvei 40 gedung bertingkat, termasuk beberapa jembatan,” tambah Andi.
“Tahapan selanjutnya, kita memulai melakukan assesment (penilaian, red) terhadap gedung itu. Di antaranya, Plaza Andalas, Sentral Pasar Raya, Hotel Ambacang, Hotel Bumiminang, termasuk LBPP LIA dan lainnya. Tentunya menggunakan standar penilaian yang jelas dan terukur. Pokoknya menyeluruh, baik kolom, struktur  dan penilaian lainnya,” kata Andi.
Hasil assesment itu memang mengkhawatirkan. Pasalnya, banyak bangunan yang memperoleh skor rendah. Persoalan yang paling banyak ditemukan, tidak berkesuaiannya antara beban lantai dasar dengan gedung di atasnya. Kondisi itu sangat memperihatinkan. Bila terjadi gempa, bisa-bisa gedung itu ambruk ke bawah. Penilaian itu terbukti ketika 30 Septermber 2009 terjadi. Banyak gedung ambruk dan menghimpit lantai dasar.
Selain memperoleh medali dan piagam, tim Unand dan Stanford ini juga mengondol hadiah berupa uang tunai 10 ribu Euro. Dana inilah yang diperuntukkan melakukan pelatihan tukang se-Sumbar. Setelah itu, juga akan dibangun sekolah plus tempat evakuasi. “Memang masih kurang, tapi kita akan mengupayakannya mencarinya di Dikti,” kata Fengky.(***)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s