Telkomsel Berdering sampai Jauh…

“Kami sangat berterima kasih lagi Pak, kepada pemerintah atas terselenggaranya pembangunan fasilitas telekomunikasi ini yang dilaksanakan oleh Telkomsel di desa kami, Pak. Dan juga di desa kami, Pak, sekarang belum tersedianya sarana listrik, tapi meskipun belum tersedianya sarana listrik dan karena terang belum terlalu memadai, tapi kami sangat bersyukur, telekomunikasi di desa kami lancar. Terima kasih, Pak.”
Begitulah ungkapan polos Juni, Sekretaris Desa Sebandut, Capkala, Bangkayang, Kalimantan Barat dalam telekonferensi dengan pengguna program desa berdering, Senin (30/11/2009) lalu. Momen itu jelas tak pernah terlupakan di benak Juni. Ia bukan berbicara dengan camat, bupati, gubernur, atau pun menteri. Namun, bersama orang nomor satu di negeri ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Juni jelas sangat berbahagia waktu itu. Sekian banyak sekretaris desa se-Indonesia, mungkin bisa dihitung dengan jari mereka yang berkesempatan berbicara langsung dengan SBY. Apalagi ia hanya orang nomor dua di desa berpenduduk 738 jiwa, rata-rata pekerjaan dan penghasilan hanya petani dan peternak. Sekitar 145 kepala keluarga di antaranya terkategori miskin.
Di samping listrik, terbatasnya akses informasi jadi keluhan warga setempat. Kalau berurusan dengan kecamatan saja, warga harus menempuh jarak 70 km, kondisi jalan pun tak sepenuhnya bagus. Begitu juga memasarkan hasil produksi karet, kakao, padi dan lainnya. Tanpa didukung alat komunikasi memadai, jelas menambah beban biaya. Padahal, mereka hanya mengantongi pemasukan sekitar Rp1 juta per bulan kalau cuaca baik.

Sekarang persoalan itu jelas mulai teratasi. Desa Sebadut termasuk satu dari 25.000 desa berdering yang memperoleh layanan akses telekomunikasi dan informatika bagian program pemerintah dikemas dalam USO (Universal Service Obligation). Jelas Telkomsel sangat berkepentingan atas keberhasilan program ini. Selain jadi pemenang tender, juga sejak awal Telkomsel berkomitmen membangun negeri. Apalagi program ini ditujukan mengurangi ketimpangan akses informasi antara kota dan daerah terpencil. Program ini sendiri difokuskan untuk wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Kalimantan.

Tak salah juga kiranya Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno menekankan, Telkomsel melalui program desa berdering ini makin mempertegas komitmen melayani dan memajukan seluruh wilayah Indonesia yang selama ini kesulitan mendapatkan layanan telekomunikasi. “Telkomsel diberi amanah melayani 24.051 desa, namun dalam rangka mendukung program 100 hari pemerintah kami berkomitmen untuk menyelesaikan penggelaran layanan akses telekomunikasi dan informatika hingga 25.000 desa,” ujar Sarwoto Atmosutarno akhir tahun lalu.

Seakan tak mau setengah-tengah, untuk mengakomodasi kebutuhan layanan telekomunikasi, Telkomsel juga menambah satuan sambungan telepon (SST) menjadi 2 SST berupa 2 fixed wireless telephone (FWT) di setiap desa berdering. Di samping itu, Telkomsel juga menghadirkan desa pinter (desa punya internet) dan pusyantip (pusat layanan telekomunikasi dan informasi perdesaan) berupa portal lumbung desa untuk menambah kemanfaatan program desa berdering.

Desa pinter sendiri ditujukan menghilangkan kesenjangan informasi dan pendidikan. Adanya perangkat komputer dilengkapi akses internet, jelas membuat masyarakat bisa mengakses informasi. Begitu juga bagi dunia pendidikan dan pengetahuan lainnya. Untuk saat ini, Telkomsel menghadirkan tiga desa pinter di setiap provinsi.

Layanan pusyantip portal lumbung desa sendiri dimaksudkan untuk memajukan perekonomian daerah. Di mana, seluruh nomor FWT di seluruh desa berdering dapat berbagi informasi via SMS. Tak hanya kebutuhan pupuk, bibit, juga hasil panen, laut, dan lainnya. Informasi itu akan diteruskan ke portal lumbung desa dan website internet. Jelas, semua pihak bisa tahu kendala dan potensi suatu daerah.

“Dengan melakukan penggelaran program USO (desa berdering, red) hingga ke pelosok negeri, kami harapkan layanan Telkomsel dapat menjangkau seluruh wilayah populasi Indonesia sehingga ke depannya Negara Kesatuan Republik Indonesia benar-benar terajut indah dengan adanya jaringan komunikasi,” jelas Sarwoto.

Tak salah kiranya, program jitu provider yang berhasil melayani lebih dari 95 persen wilayah populasi penduduk didukung 32.000 BTS (base transceiver station) ini mendapat apresiasi secara luas dari masyarakat. Terutama masyarakat  di daerah terpencil yang sudah lama merindukan akses informasi lebih luas.

Alwi, warga Desa Buwun Mas, Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, misalnya. Usai telepon masuk desa, tadinya masyarakat kalau ingin berhubungan, berkomunikasi dengan keluarga atau pun perekonomian, harus menempuh jalan kurang lebih 11 km ke pusat ibu kota. Namun, sekarang tidak lagi. “Tadinya membawa barang dagangan, hasil pertanian pakai mobil ngangkut ke kota, sekarang pakai telepon saja sudah pembelinya datang,” katanya.

Layanan telekomunikasi dan informatika di desa berdering sendiri menggunakan tarif khusus. Untuk SMS, misalnya dikutip biaya Rp50 per SMS. Sementara komunikasi (telepon) lokal dan seluler Rp350 per menit. Untuk sambungan internasional tarif antara Rp880 hingga Rp2.490 per menit.

Sampai saat ini, hampir seluruh desa dalam program desa berdering dapat menikmati akses telekomunikasi Telkomsel. Hingga Februari 2010 lalu saja jumlah desa terjangkau jaringan telepon mencapai 100,7 persen dari target Departemen Komunikasi dan Informasi (Kominfo). Desa-desa masuk dalam program desa berdering tersebut berjumlah sekitar 25.176 desa. Padahal, targetnya hanya 25.000 desa berdering. Dari realisasi tersebut, sebanyak 100 di antaranya merupakan desa pintar yang dilengkapi jaringan internet.

Keberhasilan ini jelas kian menunjukkan perusahaan karya anak bangsa dirikan 26 Mei 1995 lalu ini kian matang di usia ke-15 tahun. Lebih membanggakan lagi, di usia relatif muda Telkomsel mampu membangun layanan telekomunikasi selular hingga pelosok. Ini jelas menandai dimulainya era kebangkitan bangsa Indonesia dalam perjuangannya untuk merdeka dari keterisolasian komunikasi dan informasi sekaligus mempersatukan negeri dari Sabang sampai Merauke.

Namun keberhasilan itu tak membuat Telkomsel berbesar hati. Sarwoto menilai keberhasilan berinovasi dalam upaya memberikan yang terbaik bagi Indonesia sepanjang 15 tahun perjalanannya, tak lepas dari dukungan dan kepercayaan yang diberikan berbagai pihak seperti: pemerintah, pemegang saham, pelanggan, masyarakat, kompetitor, mitra kerja, karyawan, lembaga swadaya masyarakat, dan stakeholders lainnya. “Untuk itu kami mengucapkan terima kasih atas semua dukungan dan kepercayaannya,” katanya.

Harapan besar masih ditompangkan masyarakat Indonesia terhadap Telkomsel. Selain terus membuat terobosan sesuai core business-nya, juga lebih berperan lagi membebaskan masyarakat Indonesia keterisolasian dan kemiskinan akses informasi. Tentunya, melalui program-program jitu dan berbiaya murah. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s