Mentawai, Si Cantik Nan Eksotis

Mentawai, Si Cantik Nan Eksotis
“Kami belum tahu dampak tsunami terhadap bisnis surfing di Mentawai, karena setiap bencana pasti ada dampaknya. Tetapi, biasanya peselancar itu punya pikiran sendiri, mereka punya dunia sendiri,”
Sikap optimistis itu diungkapkan Ketua Asosiasi Kapal Selancar Sumbar, Aim Zein, lima hari pascagempa diiringi tsunami berkuatan 7,2 skala richter, Senin (25/10) lalu. Bencana paling merusak dan memakan korban jiwa sejak beberapa dekade belakangan.
Teteu, begitu orang Mentawai menyebut gempa, jelas menjadi mimpi buruk bagi upaya percepatan pembangunan di provinsi kepulauan di Sumbar itu. Tak terkecuali sektor periwisata. Apalagi tsunami itu juga menghancurkan Macaroni Resort, salah satu basecamp turis surfing asing di Teluk Makaroni di Pagai Utara. Selain itu, juga Katie resort.
Selaku sektor vital, kerusakan infrastruktur dan fasilitas pariwisata memberi dampak besar bagi Mentawai secara umum. Tak terkecuali geliat perekonomian masyarakat menengah ke bawah. Mengingat sektor pariwisata bukan hanya mempengaruhi pemilik modal besar (pemilik resort, misalnya), juga masyarakat sehari-harinya penyuplai makanan ke resort ataupun mereka berprofesi jadi guide.
Bila berpatokan kasus bom Bali I (2001) dan II (2005), dua peristiwa itu sempat mengakibatkan penurunan jumlah kunjungan wisatawan. Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, seperti dikutip majalah Tempo edisi 23 Oktober 2005 lalu, sempat memprediksi jumlah kunjungan wisatawan turun sekitar 30 persen. Kondisi hampir sama juga berpeluang terjadi di Mentawai pascatsunami, seiring adanya sejumlah penundaan iven tahun depan.
Pelaksanaan iven world surfing championship disponsori Ocean Pacific, misalnya. Sedianya iven final seri kejuaraan dunia surfing diikuti peselancar nomor wahid dunia itu direncanakan akan digelar di Mentawai tahun depan. “Ini rencana kami beberapa tahun lalu. Pihak sponsor surfing kelas dunia sudah bersedia mendanai ini semua. Tapi, kurang etis rasanya menggelar iven seperti ini di saat Mentawai dalam keadaan sekarang,” aku Aim Zain.
Tak jauh beda, Anom Suheri, pengelola Kandui Resort juga berpadangan sama. Babak awal pascatsunami di Mentawai akan berdampak pada tingkat kunjungan. “Dalam waktu dekat pasti ada perubahan kunjungan. Sebagai bentuk shock awal usai tsunami,” ujar Anom Suheri, awal November 2010 lalu. Kendati begitu, baik Aim maupun Anom berkeyakinan pawisata Mentawai cepat bangkit.
Keyakinan praktisi pariwisata ini bukan tanpa alasan. Daya tarik bahari Mentawai menjadi magnet tersendiri bagi pencinta surfing. Si cantik nan eksotis ini masih menyimpan sejuta pesona. Alamnya menghadap lautan Samudera Hindia, menjadikan kualitas ombaknya sangat spesifik. Bahkan, peselancar terbaik dunia saat ini, Kelly Slater juga pernah merasakan ombak di Kepulauan Mentawai.
Ombak Mentawai bagi peselancar super komplit, ibaratnya toko serba ada. Mau ombak kiri, ombak bergulung ke kanan, ombak tingginya hingga tiga meter atau ombak untuk peselancar pemula, semua ada dan itu juga tersedia sepanjang tahun. Selain itu, ombak Mentawai juga masih bersih, pantainya alami, tidak membuat badan peselancar gatal-gatal usai bermain air. Hampir sepanjang waktu, imbuh Aim, turis asing mendatangi Mentawai, terutama musim ombak besar dimulai April hingga November.
Data Asosiasi Kapal Selancar Sumbar menunjukkan, kunjungan peselancar ke Mentawai tiap tahunnya mencapai 5.000 orang. Mereka datang dari Amerika Serikat, Selandia Baru, Australia, Perancis dan lainnya. Ombaknya diklaim banyak kalangan (terutama peselancar) adalah salah satu ombak terbaik di dunia. Menempati urutan ketiga setelah Hawai dan Tahiti. Wisatawan rata-rata menghabiskan US$ 2.500 selama berselancar di Mentawai.
Tak Hanya Selancar
Bagi wisatawan peminat objek wisata selain surfing, tak perlu khawatir. Keelokan bumi Sikerei siap menghadirkan daya tarik lain. Kabupaten berjarak 150 km dari lepas pantai Pulau Sumatera dengan luas 601 km² didiami 64.235 jiwa ini, juga dikenal dengan cagar biosfernya.
Ya, sejak 1981 lalu badan PBB urusan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan (Unesco) menetapkan Pulau Siberut jadi salah satu cagar biosfer Siberut. Makanya, keberadaannya harus dilindungi dan dijauhkan dari eksploitasi. Keeksotisan Siberut ditambah adanya empat primata endemik Mentawai, yaitu simakobu atau monyet ekor babi (Simias concolor), bilou atau siamang kerdil (Hylobates klosii), joja atau lutung mentawai (Presbytis potenziani), dan beruk mentawai (Macaca pagensis).
Cagar biosfer Siberut ini, imbuh Herwasono Soedjito, peneliti LIPI, tidak semata-mata berdimensi konservasi keanekaragaman hayati. Namun, juga berdimensi ekonomi, sosial dan pelestarian budaya lokal. “Jadi, program ini tidak semata melindungi primata endemiknya saja, tapi juga masyarakatnya,” kata Herwasono.
Bahkan, Russell A Mittermeier, President Conservation International, menyebut kepulauan ini Galapagos versi Asia yang harus dipertimbangkan statusnya sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Site). Setidaknya ada 16 spesies mamalia endemik di pulau ini, melebihi pulau Sumatera yang luasnya 67 kali lebih besar. Spesies reptilia, ampibia dan ikan-ikan sangat sedikit diketahui secara sains, begitu juga avertebratanya.
Masyarakat asli Mentawai khususnya Siberut, sama menariknya. Russell menyebutnya, warisan budaya kuno di Indonesia. Hingga sekarang ini sangat bergantung dengan hutan dan alam di mana mereka tinggal. Kesan etnik ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkeinginan menyelami tradisi turun temurun dianut masyarakat setempat. Begitu juga seni tatonya dianggap banyak kalangan memiliki kreasi khas dan menonjol.
Kendati begitu, menjual kembali objek wisata Mentawai pascatsunami membutuhkan dukungan semua kalangan. Tak hanya pemerintah daerah, namun juga praktisi pariwisata, masyarakat, serta media massa. Semua kalangan harus berkolaborasi membuat strategi khusus sesuai peran masing-masing.
Media massa misalnya, mesti ikut membangkitkan optimisme bahwa Mentawai tak ditinggalkan. Kendati memberitakan perkembangan pascatsunami, juga perlu dilaporkan suasana Mentawai mulai berdenyut dan turis terus berdatangan. Ini jugalah salah strategi kebangkitan pariwisata Bali pascadihantam bom Bali I dan II. Kita tentu berharap Mantawai tetap jadi si cantik nan eksotis. (*) Rommi Delfiano—Wartawan Padang Ekspres

Iklan

Satu pemikiran pada “Mentawai, Si Cantik Nan Eksotis

  1. salam kenal..!
    senang sekali bisa baca situs yg memuat ttg mentawai. tapi maaf pak, saya mau tau sumber informasi atau sumber data kunjungan wisatawan ke mentawai diperoleh dari mana?? mohon sumber informasinya dicantumkan agar lebih tajam dan terpercaya.
    trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s