Dianggap Sektor Unggulan, Namun Kerap di Pandang Sebelah Mata

Elegi Pengembangan Sektor Pertanian Negeri Ini (1)
GambarTantangan pengembangan sektor pertanian di Indonesia terasa kian berat. Selain dibumbui inkonsistensi pemerintah dalam membuat kebijakan, juga kurangnya sentuhan perbankan guna mendorong pembiayaan petani dalam skala kecil. Masihkah ada harapan?
Rommi Delfiano—Padang
Mengupas persoalan seputar prolematika sektor pertanian, jelas tak mungkin hanya dalam waktu 3,5 jam. Namun paling kurang sejumlah benang merah persoalan yang membelit pengembangan sektor pertanian bisa ditarik ke permukaan. Ya, semuanya bermuara pada perlunya konsistensi dan keseriusan pemerintah dalam membuat kebijakan.


Setidaknya itu mengemuka dalam seminar bertajuk ”Arah dan kebijakan pertanian Indonesia 2014-2019” yang dihelat Komisariat Daerah Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Komda Perhefi) Padang, di gedung Perpustakaan Univesitas Andalas, Rabu (14/5) lalu. Kegiatan ini didukung oleh PT Incasi Raya, Bank Indonesia dan Bank Nagari.
Seminar menghadirkan empat pembicara dari berbagai latar belakang secara panel, yakni Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Prof Dr Bustanul Arifin, Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VIII B. Rusdiharsono, Direktur Pemasaran Bank Nagari Indra Wediana, dan dosen Prodi Agribisnis Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Unand Dr Ir Endry Martius MSc. Seminar yang dihadiri sekitar seratusan peserta itu, dipandu oleh Prof Dr Ir Asdi Agustar MSc dari Fakultas Peternakan Unand.
Harus diakui bahwa membahas soal pertanian memang selalu seksi. Bagaimana tidak, satu sisi sektor ini kerap dijadikan pemerintah sebagai sektor unggulan yang harus mendapat porsi lebih. Ini bukan tanpa alasan, bagaimanapun mayoritas penduduk Indonesia termasuk Sumbar masih menggantungkan hidup dari sektor satu ini.
Bahkan menurut data Bank Indonesia per tahun 2013, sektor ini paling banyak menyerap tenaga kerja mencapai 40 persen di Sumbar. Biarpun melambat, namun kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Sumbar tetap paling tinggi yakni 22,7 persen. Padahal, sektor petanian beberapa tahun terakhir, cenderung tak lepas dari sejumlah persoalan. Mulai soal pupuk langka, bibit palsu, dan sentuhan perbankan terbilang masih minim.
Namun di sisi lain, keberpihakan pemerintah pada sektor pertanian masih jauh dari harapan. Hanya sekitar 2 persen dari total APBN tahun 2014 mencapai Rp 1.816,7 triliun dialokasikan untuk sektor pertanian. Kondisi tak jauh berbeda juga terlihat dari postur alokasi anggaran untuk sektor pertanian dalam APBD Sumbar Tahun 2014. Jumlahnya tak lebih dari 5 persen dari total APBD Sumbar 2014 mencapai Rp 3,7 triliun. Dari kondisi ini jelas terlihat adanya ambivalensi keberpihakan pemerintah terhadap sektor pertanian.
Melihat kondisi ini, wajar kiranya banyak kalangan menilai bahwa pengelolaan sektor pertanian di Indonesia masih setengah hati. Jadi sangatlah wajar pula terjadi penurunan rumahtangga petani sejak beberapa waktu belakangan. Setidaknya ini diamini oleh Bustanul Arifin yang juga ketua Perhefi pusat. Berdasarkan Sensus Penduduk 2013, rumah rumahtangga petani mengalami penurunan secara signifikan dari tahun sebelumnya menjadi 26,14 juta atau menurun 5 juta (1,75 persen).
”Jika penurunan rumah tangga petani ini diikuti oleh peningkatan pangsa PDB dan tenaga kerja sektor industri dan jasa, itu jelas bagus. Tapi, jika sebaliknya, maka pembangunan pertanian bersifat regresif (kemunduran) dan involutif (stagnan),” sebut Bustanul yang juga dewan pendiri/ekonom senior INDEF, Jakarta.
Jika melihat kondisi sekarang, jelas terlihat bahwa penurunan rumah tangga petani menyebabkan pembangunan pertanian mengalami kemunduran dan stagnan. Ya, salahsatunya terlihat dari terjadinya kemunduran kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Sumbar hanya 22,7 persen tahun 2013 lalu. Padahal, menurut Rusdiharsono, tahun 2008 lalu masih berada di posisi 24 persen.
Masih menurut Rusdiharsono, penurunan kontribusi sektor pertanian ini juga diikuti oleh penurunan sektor industri. Tahun 2008 masih berada pada posisi 12,14 persen, namun tahun lalu mengalami penurunan menjadi 10,9 persen. Kontribusi sektor jasa boleh dibilang lebih baik. Kalau tahun 2008 baru 15,7 persen, tahun lalu malah mengalami peningkatan menjadi 16,8 persen.
Persoalan lain yang tak kalah pentingnya, menurut Bustanul, sumberdaya petani masih terbilang rendah. Miskin inovasi, minim sentuhan teknologi. Bahkan sekarang ini, rata-rata pengetahuan petani dalam mengelola usahanya masih didapatkan secara turun-temurun. Ini setidaknya terlihat dari kualifikasi pendidikan petani lebih didominasi oleh sekolah dasar ke bawah. Angkanya mencapai 39,3 persen.
Bila melihat kenyataan ini, jelas sulitkan kiranya kesejahteraan petani bisa terangkat. Sangatlah wajar pula, sektor pertanian ini penyumbang angka kemiskinan terbesar di Sumbar. Terlebih lagi, peranan tenaga penyuluh yang berperan penting dalam mendampingi dan membimbing para petani, kini tak bisa terlalu diharapkan. Selain jumlahnya terbilang kecil, juga daya jelajahnya terbatas pula.
Kondisi ini jelas kian menutup peluang petani memperoleh akses kredit dari perbankan. Pasalnya, perbankan pun tak mau mengambil risiko terhadap pinjamannya. Setiap pinjaman harus memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku. Kenyataan ini setidaknya terlihat dari tidak bertumbuhnya kredit sektor pertanian, khususnya di Sumbar.
Bila tahun 2011 pertumbuhan kredit sektor pertanian mencapai 22,01 persen, namun dua tahun belakangan terus menurun. Bahkan tahun lalu, angkanya berada pada posisi 11,61 persen. Pertumbuhan kredit terbesar berada pada sektor pengangkutan dan komunikasi. Bila tahun 2011 menyentuh 16.77 persen, naik menjadi 47,33 persen tahun 2013.
Masih adakah harapan pengembangan sektor pertanian ke depan? Jelas menjadi pertanyaan yang teramat sulit dijawab secara gamblang melihat begitu banyaknya persoalan di sektor satu ini. Segalanya terlihat suram, nyaris tak ada celah membuat petani bisa sedikit tersenyum. Senyum petani seakan terhimpit oleh kebijakan impor pemerintah yang berlangsung massif. (bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s