Irwan Fikri, dari Legislator ke Wakil Bupati Agam

Bisa Kuliah berkat Iuran Keluarga Jumat (8/2/2013) lalu, menjadi momen spesial dalam kehidupan seorang Irwan Fikri Datuak Nagari Batuah. Ya, hari itulah mantan anggota DPRD Padang ini dilantik menjadi wakil bupati Agam. Sebuah kesuksesan yang didapat dengan kerja keras.

SUASANA ramai terlihat di sebuah rumah di ruas Jalan Raya Indarung No 20 RT 2 RW 1 Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubukkilangan, Padang. Di depan samping kanan rumah itu, sebuah mobil berpelat merah dengan nomor polisi BA 5 T terparkir. Di luar, beberapa mobil dan sepeda motor juga terparkir. Bila ditelisik, rumah itu tentu milik seorang pejabat teras di Agam. Namun, hajatan apa yang tengah digelar si empunya rumah? Ya, itulah rumah Wakil Bupati Agam Irwan Fikri. Politisi Partai Persatuan Pembangunan itu tengah menggelar syukuran atas dilantiknya sang istri, Nika Kartika menjadi anggota DPRD Padang periode 2014-2019. Padang Ekspres yang berkesempatan hadir dalam hajatan siang itu, disambut ramah si pemilik rumah. Seorang perempuan berkebaya hijau menyalami dan mempersilakan masuk. “Silakan masuk, Pak Irwan Fikri juga ada di dalam,” jelas istri Irwan Fikri, yang juga ketua DPC PPP Padang. Irwan Fikri tengah berbincang-bincang dengan beberapa koleganya. Ada Reri L Tanjung, mantan direksi PDAM Kota Padang, Syahrial anggota DPRD  Sumbar dan lainnya. Mengetahui kehadiran Padang Ekspres, Irwan mempersilakan untuk bergabung. Setelah mengetahui maksud kedatangan Padang Ekspres, Irwan Fikri pun terlihat antusias. Secara blak-blakan, Irwan mengisahkan perjuangan hidupnya sebelum akhirnya menduduki kursi wakil bupati Agam. Jalan terjal dan “berdarah-darah” harus dilewati Irwan Fikri sebelum terjun di dunia politik. Terlahir dari keluarga sederhana, membuat Irwan Fikri harus berpandai-pandai mengatasi segala keterbatasan. “Abak (ayah) hanya seorang PNS golongan 1 di Pemprov Sumbar dan pensiun pada golongan 2A. Sedangkan amak (ibu ), hanya ibu rumah tangga,” tutur penyuka olahraga bulutangkis itu. Untuk membiayai perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Andalas tahun 1988 lalu, seluruh anggota keluarga pun beriuran. Sedangkan kebutuhan terhadap buku-buku, Irwan Fikri lebih memanfaatkan perpustakaan dan meminjam buku dari kawan-kawannya. Masih ingat di benak Irwan Fikri  memori pertengahan tahun 1988 lalu, ketika dirinya baru saja diterima di Fakultas Hukum Unand melalui jalur PMDK. Irwan Fikri sesampai di rumahnya (Perumnas Siteba Padang, red), basah kuyup akibat hujan deras, termasuk sepasang sepatu satu-satunya. Tanpa pikir panjang, Irwan pun mengambil kompor dan meletakannya di tengah rumah. Dia pun mengeringkan sepatu lusuh yang sudah bolong di ujungnya itu dengan api kompor. Maklum, esoknya harus dipakai lagi untuk ke kampus. “Waktu itu, amak yang kebetulan duduk di ruangan itu, terlihat meneteskan air mata. Hatinya sangat sedih karena tak bisa membelikan sepatu baru,” sebut Irwan Fikri. “Ndeh nak, coiko banalah nasib waang kuliah, sapatu sajo indak tabalikan dek amak doh (Aduh nak, begini betul nasib kamu kuliah, sepatu saja tidak terbeli oleh amak),” ujar Irwan Fikri meniru kata-kata sang ibu waktu itu. “Mak, yang kuliah bukan sepatu mak, tapi yang kuliah adalah utak. Jadi amak jangan bersedih. Bialah sepatu yang bolong asal jangan utak dan keimanan awak yang bolong (Ibu, yang kuliah itu bukan sepatu, tapi adalah otak. Jadi ibu jangan bersedih. Biarlah sepatu yang bolong asal jangan otak dan keimanan kita yang bolong),” kata Irwan Fikri membesarkan hati ibunya. Kemiskinan tidak lantas membuat Irwan Fikri patah arang. Tapi, malah terpacu belajar dan bekerja lebih keras. Perjuangan lepas dari kemiskinan ini pula yang membuatnya berbaur dengan semua kalangan. Bermodal pergaulan, pria kelahiran Bayur Maninjau ini terjun ke dunia politik dan langsung cemerlang. Semuanya berawal ketika dirinya terpilih menjadi anggota DPRD Padang periode 2009-2014 dari daerah pemilihan Lubukkilangan dan Lubukbegalung. Tahun 2010, dia menjadi ketua DPC PPP Padang dan ketua Fraksi PPP. Hingga akhirnya, Jumat (8/2) tahun lalu, dia dilantik menjadi wakil bupati Agam menggantikan Umar. Satu hal yang membuatnya bersedih, kesuksesan yang diperolehnya sekarang ini tidak disaksikan sang bapak. “Abak berpulang hanya beberapa hari menjelang Pileg 2009,” tuturnya. (***)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s