Rekonsiliasi Mandela

mandela1“Saya dan Pak JK ini sahabat baik dengan Pak Prabowo dan Pak Hatta. Lalu, apanya yang mau direkonsiliasikan? Kalaupun nanti ketemu, ya itu silaturahmi biasa.”

Begitulah komentar Presiden Terpilih Jokowi ketika disinggung soal perlunya rekonsiliasi dengan kubu Prabowo-Hatta pascakeputusan Mahkamah Konstitusi (MK) di rumah dinas gubernur DKI Jakarta, Taman Suropati, Menteng, Kamis (21/8) malam. Lugas dan bermakna mendalam.
Sebetulnya apa makna rekonsiliasi dan seberapa penting Jokowi-JK melakukannya? Lalu, adakah dampak bila Jokowi-JK tak melakukan rekonsiliasi? Atau bisakah kedua kubu berdampingan membangun pemerintahan baru? Tentu banyak pertanyaan lain.
Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rekonsiliasi bermakna; 1. Perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula; perbuatan menyelesaikan perbedaan; 2. Penetapan pos-pos yang diperlukan untuk mencocokkan saldo masing-masing dari dua akun atau lebih yang mempunyai hubungan satu dengan lain; 3. Ikhtisar yang memuat rincian perbedaan antara dua akun atau lebih.
Dari ketiga makna itu, jelas dalam kondisi sekarang mengacu kepada pengertian pertama. Sadar atau tidak sadar, pilpres kali ini benar-benar melelahkan, menyita waktu, pikiran dan tenaga. Kita dihadapkan pada dua pilihan. Prabowo-Hatta atau Jokowi-JK! Ibaratnya, kalau tidak putih, ya hitam. Tak ada alternatif.
Satu keluarga terbelah. Suami-istri berbeda pilihan. Atasan dan bawahan tak sejalan. Dua sahabat pun memilih berseberangan. Pilih A atau B. Tak ada pilihan C, D atau E. Kalau tetap memaksakan pilihan, hilanglah hak konstisional kita sebagai warga negara.
Selaku pemilih, kita benar-benar dihadapkan pada pilihan sulit. Kita menduga hari “H” pencoblosan, 9 Juli, akhir mimpi buruk ini. Namun di luar perkiraan, malah makin belarut-larut sampai akhirnya memasuki antiklimak pukul 20.44 WIB, Kamis (21/8) malam.
Kondisi seperti ini sebetulnya lumrah dalam sebuah negara demokrasi. Warga Amerika Serikat sebagai “mbah”-nya demokrasi, sudah mengalaminya puluhan tahun. Toh, tak ada apa-apa. Birokrasi pemerintahan negara adidaya itu berjalan seperti apa adanya. Tak ada tindakan anarkis dan lainnya. Malahan pemerintahan semakin kuat.
Lalu, kenapa Indonesia seperti sekarang? Pilpres-nya berlarut-larut. Biarpun sudah diputuskan hakim mahkamah, tetap saja ada keinginan sejumlah pihak menggiring persoalan ini ke ranah politik dan lainnya. Tentu banyak jawabannya, salah-satunya ingin membuat pemerintahan baru rapuh dan negara ini tak berjalan semestinya.
Nah, merujuk pada persoalan ini, penulis menekankan pentingnya rekonsiliasi. Tentu paling penting, rekonsiliasi diarahkan untuk merajut kembali kebersamaan dan keutuhan bangsa pascapilpres. Sebetulnya bukanlah dalam artian politik, tetapi lebih mengarah pada rekonsiliasi sosial di antara masyarakat.
Melalui rekonsiliasi ini, tentu harapannya kedua capres dan para pendukungnya mau duduk bersama. Bahu-membahu membangun bangsa Indonesia. Tidak ada lagi persaingan antarkedua kubu yang membuat para elite politik terbelah dan masyarakat terperangkap dalam permusuhan.
Keberhasilan mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela bisa menjadi rujukan kedua kubu, terutama Jokowi-JK. Nelson memimpin rekonsiliasi nasional usai runtuhnya politik apartheid.  Rekonsiliasi Mandela ini benar-benar menjadi salah satu model terbaik rekonsiliasi.
Mandela adalah korban kekejaman penindasan HAM yang tidak ada melebihi penderitaannya. Selama 27 tahun dia dipenjara, dizalimi, ditindas, dan disiksa.  Bahkan, rezim apartheid  mencabut hak-haknya. Namun ketika rezim apartheid diruntuhkan dan rontok akibat perlawanan yang dipimpin Mandela, dia justru memimpin rekonsiliasi nasional.
Keberhasilan Mandela pun dipuji banyak pihak. Bahkan, kepergian Mandela pada 5 Desember 2013 ditangisi dunia. Presiden Barack Obama menjabat tangan Presiden Kuba Raul Castro pada upacara penghormatan  Mandela, sebuah gesture langka di antara kedua seteru politik. Tentu ini, sekaligus menandai semangat perdamaian.
Kita tentu berharap “mimpi buruk” ini benar-benar hilang. Kedua kubu bisa memaknai rekonsiliasi yang sudah digariskan seorang Mandela. Mari kita tatap masa depan, hilangkan perbedaan. Bangun bangsa ini lebih kuat, lebih maju dan lebih sejahtera. Semoga. (*)
email: pandeka2005@yahoo.com.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s