Tukang Obat

obat1
ilustrasi

“Oii sanak! Kamarilah-kamarilah mandakek. Pacapek langkah saketek. Iko ado ubek, indak sumbarang ubek. Panu, kadas, kudis, kurok, dan panyakik kulik lainnyo, hanyo tigo kali oles langsung cegak. Indak babakeh. Kulik mulus sakatiko, samulus Julia Perez. Kalau sanak indak picayo, buliah dicubo saketek dulu. Kalau indak tabukti, pitih dijamin baliak.”
Seorang pria paruh baya berbekal mikrofon seadanya, terlihat berupaya menyakinkan pengunjung pasar yang kebetulan lewat di salah satu sisi Pasar Bukittinggi, siang itu. Berpakaian ala tabib serba hitam, pria itu seakan tak kehabisan akal mengajak supaya mendekat. Hanya dalam hitungan menit, belasan sampai puluhan pengunjung mendekat dan bergerombol menggelilinginya.
Melihat pengunjung sudah semakin banyak, si tukang obat semakin bersemangat. Ada-ada saja cara dilakukannya supaya pengunjung tak berlalu begitu saja. Tujuannya hanya satu, bagaimana obatnya cepat terjual. Kalau sudah begitu, bak pelaut dia pun bisa berlayar menuju pulau berikutnya. Begitu seterusnya.
Di tengah pertunjukannya, dia pun memanggil beberapa orang pengunjung untuk merasakan khasiat obatnya. Pengunjung “bayaran” itu terlihat antusias dan yakin atas kualitas obat si tukang obat. Tak menunggu lama, satu per satu pengunjung “bayaran” itu langsung marasakan kualitas obat tersebut. Bahkan, seorang pengunjung “bayaran” yang panuan, hanya sekali olesan mengaku tak merasakan lagi  gatal-gatal di sekitar kulitnya yang terkena panu.
Melihat pengunjung “terpukau”, si tukang obat pun langsung menjual obatnya. Satu per satu pengunjung pun tanpa bertanya-tanya, langsung saja membeli obat tersebut. Mereka terlihat yakin, obat yang berasal dari akar tumbuh-tumbuhan langka itu, manjur 100 persen. Uang sebesar Rp 50 ribu pun langsung berpindah tangan. Dengan langkah gontai, beberapa pengujung meninggalkan arena pertunjukan itu.
Berselang satu jam, masyarakat pun mulai kelihatan jenuh mendengar “bualan” si tukang obat. Bahkan, beberapa orang di antaranya berlalu begitu saja. Melihat kondisi itu, si tukang obat pun mulai memutar otak. Tiba-tiba dia mengeluarkan ular seukuran lengan orang dewasa dari kotak kayu seadanya. Pengunjung pun kaget. Ular pun dilepas begitu saja. Pertujukan baru pun dimulai lagi.
Ular sepanjang dua meter itu, kini menjadi pusat perhatian. Belum habis keterkejutan pengunjung, si tukang obat mengatakan bahwa ular itu bukanlah semabarang ular. Selain sudah jinak, ular itu bisa berubah-ubah sesuai permintaan si tukang obat. Kalau tak percaya, pengunjung diminta bersabar.
Tak lama, ular itu kembali dimasukan ke dalam kotak. Sambil berkomat-kamit, si tukang obat mencoba mengubah ular itu menjadi kodok. Namun sebelum ular itu disulap menjadi kodok, si tukang obat pun kembali menjual obatnya. Sampai akhirnya, azan Ashar pun berkumandang. Sambil minta maaf, si tukang obat minta izin kepada pengujung untuk shalat dulu dan pertunjukan berakhir begitu saja. Tak ada ular menjadi kodok, yang ada hanya obat si tukang obat laris manis waktu itu.
***
Ya, suasana seperti di atas, pastilah tak asing lagi bagi kita. Setiap kali berkesempatan berkunjung ke pasar-pasar tradisonal, termasuk Pasar Bukittinggi, suasana itu kerap terjadi. Kita seakan dibuat terpukau atas bualan di tukang obat. Padahal, obat itu tak bagus-bagus amat. Bahkan, diracik seadanya saja dengan kemampuan ala kadarnya.
Di tahun politik sekarang ini, kita saban hari akan disuguhan pertujukan tukang obat versi lain.  Apalagi mulai hari ini sampai tanggal 6 April mendatang, merupakan tahapan kampanye Pemilihan Legislatif (Pileg) 9 April mendatang. Ratusan orang bakal berupaya merebut hati rakyat guna lolos menjadi wakil rakyat di DPD, DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota.
Bak berpacu, masa kampanye ini adalah tahapan paling krusial bagi para calon legislatif (caleg). Mereka harus pandai merayu masyarakat dengan jurus paling ampuh. Bila tidak, jangan harap bakal terpilih. Nah, di sinilah sering membuat masyarakat terpukau atas iming-iming sang caleg. Terkadang, kita serta merta saja luluh dan berpihak padanya. Padahal seperti tadi, tabiatnya tak lebih seperti tukang obat.
Kecermatan dan kehati-hatian sebelum menjatuhkan pilihan haruslah didahulukan. Harus dibuka dulu produk obat yang ditawarkan. Bukan tak mungkin kita membutuhkan obat sakit kepala, namun yang diberikan adalah obat sakit perut. Kalau sudah begitu, jangan harap pesta demokrasi ini bakal menghadirkan wakil-wakil rakyat berkualitas dan berkomitmen membangun daerah ini.
Secara mata telanjang, kita sedikit banyaknya sudah mengetahui track record masing-masing caleg. Kalaulah mereka incumbent, pastilah secara mudah kita ketahui apa yang sudah dilakukannya selama lima tahun ini. Kalau hanya rajin “raun-raun” dan menghambur-hamburkan uang rakyat, jangan pilih lagi! Namun kalau mereka sudah berbuat melalui kewenangannya, sudah menjadi tanggung jawab moral pula bagi kita untuk kembali memberi kesempatan kepadanya.
Begitu juga caleg yang tiba-tiba saja muncul. Kalau tak ada kontribusinya selama ini, sudah seharunya pula kita untuk tidak memilihnya! Namun itu semua tergantung pada diri kita masing-masing. Kalau tetap memberikan kesempatan kepada caleg hobi “raun-raun”  dan menghambur-hamburkan uang rakyat, atau caleg “siluman”, ya silakan saja. Namun, jangan harap negeri ini berubah. Pemenangnya pastilah si tukang obat. (*)
Email: pandeka2005@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s