Ironi

KATA ironi jelas tak asing bagi kita. Bisa jadi dalam percakapan keseharian, kata satu ini kerap digunakan. Lantas apa sebenarnya arti kata ironi? Bila mengacu situs artikata.com, ironi merupakan kejadian atau situasi yang bertentangan dengan yang diharapkan atau yang seharusnya terjadi. Das sollen (keharusan) tak berkesesuaian dengan das sain (kenyataan).
Intinya, bicara ironi berarti kita memperbandingkan antara sesuatu kondisi saling bertentangan. Kondisi ini jelas akan kita temukan dalam keseharian. Misalnya saja, di Minangkabau menganut falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (ABS-SBK). Mengandung hakekat bahwa keseluruhan tantanan adat ini mengacu kepada agama (Islam, red).
Kalaulah falsafah fundamental ini terealisasi sampai ke akar rumput, jelas tak ada perilaku orang Minang menyimpang dari kaidah agama. Tak akan kita temukan setiap sebentar personel Satpol PP mengejar-ngejar atau menangkap pekerja seks komersil (PSK), bencong atau anak muda berlainan jenis “mondok” di gubuk-gubuk liar tepi pantai.
Begitu juga polisi. Tugas polisi pastilah semakin ringan, karena tak lagi mengejar-ngejar pencuri, perampok, pembunuh, pencopet, penjambret, pegedar barang haram dan sejenisnya. Mungkin tugasnya lebih banyak mengatur arus lalu lintas belakangan makin padat, bahkan beberapa titik sudah rawan kemacetan.
Penjara pun pastilah akan lenggang. Petugas penjara pun tak perlu banyak-banyak seperti sekarang ini. Kalau pun ada orang masuk penjara, bisa jadi dia bukanlah orang Minang yang tak menganut falsafah ABS-SBK. Makanya jika ada orang masuk penjara, kita bisa dengan mudah menebak bahwa orang itu bukanlah dari Sumbar.
Begitu juga perilaku “virus” koruptif beberapa waktu belakangan sudah merasuki hampir semua sendi kehidupan. Mulai hal-hal kecil sampai besar. Misalnya saja, pada pelaksanaan ibadah kurban setiap tahunnya. Tak ada lagi panitia kurban mengambil daging bukan haknya dan lebih banyak membagikan tulang ketimbang daging (karena dagingnya sudah disisihkan untuk jatah panitia kurban, pen) kepada masyarakat.
Penggunaan uang rakyat pun benar-benar sesuai kebutuhannya. Tak ada proyek-proyek seharusnya tidak pantas ditempatkan pada suatu lokasi, namun tetap “dipaksakan” di lokasi tak terlalu dibutuhkan masyarakat. Akibatnya, proyek itu menjadi mubazir atau bermasalah. Padahal, masyarakat di beberapa daerah lainnya sangat membutuhkan proyek tersebut.
Atau lebih kentara, masjid-masjid atau mushala setiap masuk waktu shalat selalu dipenuhi jamaah. Tak ada lagi ustad atau buya secara halus menyindir bahwa lebih banyak tiang ketimbang jamaah di setiap ceramahnya. Tak ada jamaah Jumat terancam tak jadi Jumatan, akibat khatib jumatnya tidak datang dan tidak menyertakan penggantinya.
Pastilah lebih banyak lagi dampaknya, kalau benar-benar ABS-SBK mengakar di masyarakat. Namun di sinilah letak ironinya. Kenyataannya banyak tak berkesesuainya dengan keharusannya. Das sollen, tak sesuai das sain. Hampir semua bagian kehidupan masyarakat, dipenuhi sebuah ironi.
Lihatlah perjuangan mengharu-biru anak-anak Kampung Lambungbukik, Kenagarian Koto Nan Tigo, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), menuju sekolahnya. Demi sebuah harapan, mereka harus menyambung nyawa menyeberangi Batang Surantiah.
Perjuangan pelajar Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) ini, sungguh membuat mata kita terbelalak. Sudah 67 tahun Indonesia merdeka, nyaris tak ada perubahan berarti dirasakan pelajar di kampung terisolir itu. Bukan sekali, dua atau tiga kali, mereka menyeberangi sungai sepanjang 50 km dan lebar 90 meter itu.
Namun, sudah puluhan tahun! Ironisnya, pemerintah daerah seakan tutup mata menyaksikan perjuangan tunas-tunas bangsa itu. Bahkan, di salah satu media nasional, sang kepala daerah mengaku tidak mengetahui lokasi tersebut. Kenyataan ini jelas memprihatinkan. Kalaulah kejadiannya baru berlangsung, tak apalah. Namun ini sudah puluhan tahun. Ke mana saja pemerintah?
Lihatlah juga nasib Azaria, bocah berusia 7 tahun warga RT I RW 6 Gadut, Kelurahan Bandarbuat, Lubukkilangan, Padang. Dua tahun sudah dia mengerang sakit kanker otak di rumah semipermanen milik orangtuanya. Sewaktu normal, berat badan Azaria 15 kg. Kini, berat anak bungsu dari dua saudara itu menjadi 7 kg. Biarpun rumahnya terletak hanya beberapa meter dari simpang jalan menuju RS Jiwa Saanin, nyaris tidak ada orang mempedulikan nasib anak kedua dari pasangan Elvison Chan, 37, dan Susi Erlina, 35, ini. Sampai akhirnya Padang Ekspres mengekspose keberadaan bocah malang ini.
Setelah itu, bisa kita lihat sendiri bagaimana jadi. Pejabat berbondong-bondong memberikan simpati. Kita tentu berbaik hati saja, niatnya murni tulus dan ikhlas. Namun inilah ironinya. Sudah dua tahun orangtua Azaria mati-matian mengobati anaknya, nyaris tak tersentuh bantuan. Bocah malang itu seakan-akan dibiarkan menyambung nyawa melawan penyakit kanker otak sudah menghancurkan cita-citanya.
Harusnya anak-anak Kampung Lambungbukik, Kenagarian Koto Nan Tigo tak perlu lagi menyeberangi Batangsurantiah, begitu juga nasib Azaria. Kalaulah pihak berkepentingan (termasuk kepala daerah, pen) benar-benar merasakan setiap denyut nasib rakyatnya. Bukan hanya disibukkan oleh urusan seremonial saja. Begitu juga masyarakat sekitar, perlu benar-benar membuka mata dan menumbuhkan kepedulian terhadap sekitarnya.
Hidup memang penuh ironi. Namun bukan berarti sebuah ironi itu dibiarkan begitu saja. Banyak cara bisa dilakukan, mengubah sebuah keharusan menjadi kenyataan. Bukan berlepas tangan saja dan saling lempar tanggung jawab. Oper ke sana, oper ke sini, kayak main sepakbola saja. Semua bertanggung jawab mengubah sebuah ironi, sesuai kedudukan dan fungsinya dalam masyarakat. Bila tidak, makin banyak lagi anak-anak lain bernasib sama seperti Azaria maupun anak-anak Kampung Lambungbukik. (*)
pandeka2005@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s