Bripda Taufik

taufikMuhammad Taufik Hidayat jelas bukan siapa-siapa. Dia bukan lah anak seorang pejabat tinggi di negeri ini. Bukan pula anak pejabat, pengusaha kaya, politikus andal atau lainnya. Namun, dia hanya lah anak seorang buruh bangunan dengan pendapatan tak jelas. Bisa makan sehari sekali saja, sudah mujur baginya.
Tempat tinggalnya pun jangan tanya lagi. Bukan rumah berukuran besar berlantaikan batu pualam, berpagarkan baja terbaik di negeri ini, dan berpenjaga tiga ekor anjing herder di depan pintunya. Namun hanyalah bekas kandang sapi yang disulap menjadi rumah semi permanen berlantaikan tanah. Itu pun mengontrak Rp 175 ribu per bulannya.
Taufik hanyalah seorang anak muda yang baru saja lulus menjadi anggota kepolisian, Desember 2014 lalu. Pangkatnya pun baru Brigadir Polisi Dua (Bripda), pangkat paling rendah dan penghasilan terendah pula di institusi penegak hukum itu. Kini, pemuda empat bersaudara ini pun bertugas di Dit Sabhara Polda DIY.
Lulus menjadi anggota polisi, jelas bukan perkara mudah bagi pria kelahiran 20 Maret 1995 ini. Terlebih lagi, imej masuk polisi harus bayar “uang pelicin”, pakai beking atau sejenisnya, jamak diketahui masyarakat. Biarpun nyatanya tak sepenuhnya pula begitu. Namun imej yang terlanjur melekat itu, sulit dilepas setiap kali perekrutan calon polisi.
Sampai-sampai, putra Triyanto warga Dusun Jongke Tengah, RT 04/RW 23, Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, DIY ini, tak percaya ketika pertama kali mengetahui dirinya lulus. “Bapak tampar pipi saya. Ini bukan mimpi toh. Saya benar diterima menjadi polisi”. Itulah kata-kata pertama yang keluar dari mulut Taufik kepada ayahnya, saat pertama kali tahu kalau dirinya lulus.
Kendati lulus menjadi anggota polisi, bukan berarti pula masalah Taufik selesai. Lagi-lagi keterbatasan membatasi geraknya. Terlebih lagi, jarak rumahnya dengan Mapolda DIY mencapai tujuh km. Kondisi itu memaksa Taufik harus bangun pagi-pagi guna berjalan kaki ke kantornya. Kalau nasib mujur, dirinya bisa berboncengan dengan rekan-rekannya yang kebetulan melintas. Walau nyatanya, dirinya tetap sering telat.
Sampai suatu saat, atasannya pun mengetahui keterbatasan yang dihadapi anak buahnya ini. Tanpa pamrih, sang atasan bersedia meminjamkan motor. Sementara, seniornya di Dit Sabhara Polda DIY pun tak tinggal diam. Secara urungan, mereka pun mengumpulkan uang seadanya bagi Taufik guna memenuhi kebutuhan hariannya.
Nah, perjuangan dan kesederhanaan Taufik ini akhirnya mendapat simpati banyak pihak setelah diekspose media online.Seorang Wakapolri yang sekarang ini ditunjuk Presiden Jokowi menjadi Plt Kapolri Badrodin Haiti pun mengenal pria satu ini. Bahkan, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama sampai terpanggil membantu Taufik dengan sebuah sepeda motor. Bagitu pula Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rayahu yang siap menyekolahkan ketiga adik-adik Taufik.
***
Ya, perjuangan hidup Taufik menjadi seorang anggota polisi jelas menginspirasi. Sekaligus, membuka mata kita bahwa ternyata masih ada orang-orang sederhana yang ingin mengabdi untuk memperbaiki negeri ini. Terlebih lagi, institusi tempatnya bernaung sedang dilanda persoalan. Paling kentara, tentu soal rekening gendut sang calon Kapolri.
Tentu Taufik belum bisa dibandingkan dengan mantan Kapolri Jenderal Pol Hoegeng Iman Santoso. Keteladanan Hoegeng jelas tak diragukan lagi. Hingga pensiun, Hoegeng tak memiliki tanah dan rumah. Ia juga tak memiliki mobil-mobil mewah yang berjajar di garasi rumahnya. Namun, Hoegeng memiliki “harta” yang tak dimiliki semua polisi, yaitu kejujuran.  Bahkan, uang pensiunnya pun pernah hanya Rp 10 ribu.
Namun paling kurang Taufik, bisa memberi inspirasi bagi anak muda bahwa keterbatasan dan kesederhanaan tidak bisa menghalangi diri untuk maju. Kita tentu berharap bisa lahir Taufik-Taufik lain yang betul-betul ingin mengabdi bagi kebaikan negeri ini. Bukan mereka yang hanya menginginkan keuntungan, menebar simpati palsu , pamer prestasi yang tak jelas untungnya bagi masyarakat. (*)
Email: pandeka2005@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s