Perlu Perda Penataan Kios Pupuk Bersubsidi

Nofi Candra—Anggota MPR RI
sumbar- Dua orang Wanita tengah baya menjunjung mesin pembersih padi melewati sawah-sawah menawarkan jasanya pada   petani yg lagi panen di  kec koto Tangah -syamTugas tak mudah harus diemban pemerintah provinsi (Pemprov) Sumbar selaku perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah tiga tahun ke depan. Sumbar ditargetkan mampu meningkatkan produksi padinya sebesar 500 ribu ton gkg tahun 2017 mendatang guna mencapai produksi padi 3 juta ton gkg. Bila berkaca pada pencapaian produksi padi Sumbar beberapa tahun terakhir, jelas ini bukanlah perkara mudah.
Kenapa tak mudah? Bayangkan saja, lima tahun terakhir saja berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi Sumbar hanya mengalami peningkatan sebesar 13,9 persen. Tahun 2010 produksi padi mencapai 2.211.248 ton gkg, tahun 2014 baru mencapai 2.519.020 ton gkg (Asem 2014, BPS). Atau bila dirata-ratakan hanya terjadi peningkatan 3 persen per tahun. Bila tetap bertahan dengan kondisi ini, peningkatan produksi 500 ribu ton gkg tiga tahun mendatang hampir pasti meleset.
Paling kurang ada tiga persoalan mendasar yang berpotensi menjadi hambatan mencapai target ini. Pertama, persoalan benih. Keberadaan benih jelas menjadi salah satu faktor penentu peningkatan produksi padi di Sumbar. Bila tetap mengandalkan benih-benih yang biasa digunakan petani sekarang ini, jelas bukanlah memberi jaminan untuk menyelesaikan persoalan ini.
Semua kan tahu, sekarang ini produksi padi petani Sumbar rata-rata baru 3-4 ton per hektare. Bila dibadingkan dengan daerah di Pulau Jawa, pencapaian ini jelas tidak terlalu bagus. Rata-rata produksi padi petani sebagian besar Pulau Jawa sudah mencapai 5-6 ton per hektare. Bahkan bila dibandingkan negara lain seperti Thailand atau Vietnam, lebih timpang lagi. Rata-rata produksi petani setempat bisa mencapai 8-11 ton per hektare.
Sebetulnya pemerintah daerah sudah mencoba mencarikan jalan keluar terhadap persoalan ini, namun sejauh ini belum sesuai harapan. Sebut saja gerakan padi tanam sebatang/ SRI (The system rice of intensification), sistem jajar legowo, atau lainnya. Nyatanya, peningkatan produksi padi nyaris berjalan lambat. Padahal, gerakan padi tanam sebatang misalnya, sudah dicanangkan sekitar lima atau empat tahun terakhir.
Nah merujuk kepada persoalan benih ini, keberadaan benih unggul jelas sudah menjadi harga mati. Sebetulnya, Sumbar mempunyai potensi menghasilkan benih unggul sendiri. Selain memiliki balai-balai benih, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) juga terdapat di Sumbar. Harus diakui bahwa institusi ini sudah menghasilkan benih-benih unggul, cuma saja belum sepenuhnya dikembangkan secara massif di masyarakat.
Persoalan kedua, pemupukan seimbang dan tepat waktu. Untuk persoalan satu ini, boleh jadi sudah menjadi persoalan kronis dalam upaya peningkatan produksi padi di Sumbar. Kenapa kronis? Hampir saban waktu, petani senantiasa didera masalah pupuk langka atau stok pupuk kosong di daerah. Parahnya lagi, persoalan ini juga terjadi ketika musim tanam. Mau tak mau, petani pun tak bisa berbuat apa-apa.
Kampanye penggunaan pupuk kompos yang kerap disuarakan pemerintah daerah, sejauh ini juga belum mampu menyelesaikan masalah. Ketergantungan petani secara massif terhadap pupuk an-organik ditambah lagi terkesan kurang seriusnya pemerintah daerah mengkampanyekan penggunakan pupuk organik, tetap menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Penerapan sistem rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) notabenenya guna mengatur distribusi pupuk bersubsidi, belum berjalan sempurna di lapangan. Malahan kerap didengar kasus-kasus penyelewengan pupuk bersubsidi, oplosan dan lainnya.
Rentannya terjadi penyelewengan pupuk bersubsidi ini, sebetulnya tak perlu terjadi apabila semua pihak yang berkaitan langsung dengan distribusi pupuk bersubsidi berjalan sesuai aturan. Terlebih lagi, bukanlah hal yang sulit juga kiranya mendeteksi pada titik mana terjadi penyelewengan distribusi pupuk karena distribusinya menggunakan sistem RDKK. Cuma saja cenderung belum terlihat keseriusan pihak terkait termasuk aparat penegak hukum dalam menegakan aturan.
Dan ketiga, keterbatasan penyuluh. Persoalan ini jelas paling krusial belakangan ini. Jamak diketahui bahwa pascapergantian Orde Baru, tenaga-tenaga penyuluh fungsional ditarik menjadi tenaga struktural. Akibatnya, Sumbar pun kekurangan tenaga penyuluh pertanian. Dampaknya pun bisa dirasakan belakangan ini, rata-rata petani hanya mengandalkan kemampuan turun-temurun. Nyaris tanpa sentuhan teknologi.
Ambil bagiannya Babinsa guna memerankan fungsi penyuluh pertanian, jelas patut diapresiasi. Terlebih lagi, tercatat ada sekitar 1.205 orang Babinsa yang bakal memainkan peranan ini. Namun perlu diketahui bahwa menjadi penyuluh pertanian jelas perlu juga didukung dengan background keilmuan yang jelas pula. Bukannya meragukan kemampuan Babinsa, tapi bagaimana pun bicara pertanian jelas berkaitan erat dengan persoalan-persoalan teknis yang membutuhkan kemampuan teknis pula.
Mau tak mau, pemerintah perlu mencarikan jalan keluar terhadap keterbatasan penyuluh ini. Kalau mengharapkan penerimaan melalui seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) setiap tahunnya, tentu butuh waktu lama sedangkan kebutuhannya sangat mendesak. Salah satu peluang yang bisa dilakukan yakni mewajibkan kios pupuk bersubsidi mengadakan seorang penyuluh di tiap kios.
Intinya, kios pupuk bersubsidi bukan saatnya lagi hanya berperan menjadi penjual. Namun, juga menjadi tempat memberikan pecerahan dan pengarahan kepada petani terkait persoalan yang dihadapinya. Di sinilah pentingnya seorang tenaga penyuluh. Tentu untuk menerapkan ketentuan ini, perlu legalisasi dari pemerintah. Sebaiknya memang berdasarkan keputusan Kementerian Pertanian (Kementan), atau paling kurang peraturan daerah (Perda). Cuma persoalannya sekarang, apakah Pemprov bersama DPRD Sumbar sudah memikirkan persoalan ini. Kita tunggu saja. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s