Setia

”Kekasih yang tidak setia akan meletihkanmu, seperti menangkap asap dan menegakkan benang basah.” (Mario Teguh)
Setia bukanlah kata asing di telinga kita. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefenisikan seperti ini, ”berpegang teguh (pada janji, pendirian, dan lainnya); patuh; taat”. Secara sederhana bisa didefenisikan, ”dianya berpegang teguh terhadap apa sudah diikrarkannya”.
Biarpun gampang pengucapannya, namun menjaga sebuah kesetiaan tidaklah gampang. Kerap kesetiaan itu layu sebelum mekar, jatuh sebelum matang, mati sebelum bertumbuh, atau pun lainnya. Ada khianat dalam kesetiaan, dusta, atau pun makar.
Semua pasti sepakat, kesetiaan itu barang mahal sekarang ini. Kesetiaan bisa jadi bersanding dengan kejujuran, keikhlasan, dan lainnya. Sebab, namanya setia haruslah berbarengan dengan kejujuran, keikhlasan. Bila tidak, lunturlah namanya kesetiaan tersebut.
Kalaulah kesetiaan itu bisa terpatri, pastilah kita tak pernah mendengar seorang suami atau pun istri saling bunuh, saling menyakiti, saling menghakimi, saling berkhianat, saling dusta, saling mencela dan seterusnya.
Begitu juga bila setia itu bersemayam dalam diri pasangan kepala daerah. Pastilah masyarakat tak pernah mendengar ada kepala daerah berseberangan, saling menjatuhkan, menggunting dalam lipatan, saling ”membunuh”, dan berkhianat.
Dalam sebuah institusi juga begitu. Bilalah anak buah dan atasan bisa menjaga kesetiaan, tidaklah mungkin terjadi anak buah mencela atasan atau sebaliknya, ”membunuh” satu sama lain, saling hujat, bahkan sampai bertarung satu sama lain.
Nah, inilah berlangsung hari ini. Di negeri menjunjung tinggi filosofi ”adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”. Bahkan, mencari kesetiaan lebih sulit daripada mencari emas sekalipun. Secara ilegal pun, pastilah emas bisa dikantongi. Namun kesetiaan, secara legal sekalipun amatlah sulit didapatkan.
Lihatlah bagaimana suami atau istri dengan gampangnya membunuh satu sama lain. Sebulan terakhir saja, sedikitnya ada tiga kasus pembunuhan melibatkan pasangannya (suami/ istri, pen). Parahnya lagi, kesetiaan itu dibunuh hanya akibat perkara sepele, diomeli, cemburu, atau pun balas dendam.
Mungkin tak pernah terlintas dipikiran kita, seorang istri tega mengujamkan 18 tusukan ke sekujur suaminya. Kalau di luar negeri atau Jakarta, mungkin kasus ini bisa dianggap biasa. Namun, ini terjadi di Sumbar Bro!
Ya, tepatnya di Korong Sungaipinang, Kenagarian Kasang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padangpariaman, Selasa (19/3) lalu. Seorang istri tanpa merasa bersalah mengujamkan pisau ke tubuh suaminya. Hanya akibat cemburu, suami disangka sudah memiliki istri muda. Lebih memprihatinkan lagi, sang istri sambil menenteng pisau masih berlumuran darah, menyerahkan diri ke kantor polisi.
Begitu juga pembunuhan di Kelurahan Bungus Selatan, Kota Padang, Sabtu (16/3) lalu, dan terbaru di Kelurahan Balai-Balai, Kecamatan Padangpanjang Barat, Kota Padangpanjang, Kamis (28/3). Kasus terakhir lebih parah lagi, hanya akibat diomeli istri, sang suami tega membunuh istrinya menggunakan pisau dapur. Empat tusukan bersarang di tubuh sang istri. Usai membunuh di hadapan dua anaknya, pelaku membiarkan pisau tertancap di leher istrinya.
Tiga kasus ini cukuplah mewakili bagaimana kesetiaan itu amatlah sulit dipertahankan. Kita juga bisa melihat bagaimana kepala daerah dengan pasangannya, saling menghancurkan dan berkhianat. Padahal, keduanya sudah melafazkan janji setia sebelum berpasangan dulu. Di depan publik keduanya saling bermanis-manisan, bercipika-cipiki, namun di belakang saling ”bunuh”.
Ya, inilah negeri tanpa kesetiaan itu. Kesetiaan itu seakan terbungkus dalam kemunafikan, pengkhianatan dan kebusukan. Biarpun begitu, masih banyak jalan menjaga kesetiaan tentunya harus terpatri terlebih dahulu dalam diri sendiri. Ikatlah diri dengan kesetiaan, jadikan penghalang sebagai amal ibadah dan maafkalah.
Sang maestro Khalil Gibran secara magis menulis, ”penyiksaan tidak membuat manusia tak bersalah jadi menderita: penindasan pun tak dapat menghancurkan manusia yang berada di pihak kebenaran: Socrates tersenyum ketika disuruh minum racun, dan Stephen tersenyum ketika dihujani dengan lemparan batu. Yang benar-benar menyakitkan hati ialah kesedaran kita yang menentang penyiksaan dan penindasan itu, dan terasa pedih bila kita mengkhianatinya. (*)
pandeka2005@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s