Ubah Imej Mentawai Tempat ”Pembuangan” Anggota

Reko Indro Sasongko, Kapolres yang Hobi Berenang
mentawaiMenjadi Kapolres Kepulauan Mentawai, jelas tak mudah. Nah, tugas inilah yang kini diemban AKBP Reko Indro Sasongko. Pria memiliki hobi berenang ini dituntut mampu mengubah imej tempat ”pembuangan” bagi anggota yang bermasalah. Bagaimana caranya?   
PRIA kelahiran Tanjungperak, Surabaya, itu betul-betul terhenyak mendapati tiga anggotanya diduga mengonsumsi sabu-sabu di sebuah kamar kos di KM 2 Tuapejat, Kepulauan Mentawai, Selasa (7/4) lalu, sekitar pukul 21.00.
Ketiga bintara itu pun juga terkejut alang-kepalang. Di depan matanya, sang atasan langsung memergoki perbuatannya itu. Mau tak mau, ketiganya hanya bisa pasrah. Apalagi dalam penggerebekan itu, ditemukan satu paket kecil sabu seharga Rp 500 ribu dan sejenis alat berupa bong sebagai alat pengisap sabu.
Ya, begitulah sekilas kondisi ketika AKBP Reko bersama jajarannya menggerebek kamar anggotanya malam itu. Penggerebekan itu merupakan operasi penegakan disiplin dan ketertiban anggota Polres Mentawai. Kegiatan ini rutin dilakukan Polres Mentawai sejak beberapa waktu belakangan. Salah satu aktor di balik ini semua, tentu AKBP Reko sendiri selaku Kapolres. Operasi ini memang khusus dilakukan ke tempat kos, kontrakan, dalmas, termasuk asrama polisi.
”Ini salah satu upaya kita ’bersih-bersih’ di internal Polres Mentawai. Tentunya, semua ini juga arahan bapak Kapolda Sumbar menekankan seluruh pimpinan berkewajiban mengawasi anggotanya,” sebut AKBP Reko merendah.
Menjadi kewajiban tentu sudah jelas, namun ini semua juga bagian dari upaya AKBP Reko mengubah imej Polres Mentawai tempat ”pembuangan” anggota yang bermasalah. Sudah menjadi rahasia umum selama ini, bahwa personel yang dimutasi ke Mentawai kerap dicap bermasalah. Apakah terlibat narkoba, tidak tertib atau lainnya. Bahkan, setiap personel polisi bermasalah, kerap ”Dimentawaikan” oleh pimpinannya.
Imej inilah yang tengah diubah AKBP Reko. ”Kita tentu tak ingin pula ada duri dalam daging. Jelas sangat tak pantas pula kiranya, apabila penegak hukum malahan ikut melanggar hukum. Bagaimana pula nanti pandangan masyarakat terhadap kita,” sebut pria yang mengikuti sekolah perwira (Sepa) prajurit karir (PK) tahun 1995.
Pria yang dikenal tanpa kompromi dalam menegakkan disiplin ini, memang tak main-main ’membersihkan’ jajarannya dari jeratan narkoba. Jika anggotanya ketahuan memakai atau melanggar disiplin, pastilah diberi sanksi tegas.
Bahkan pernah suatu kali ada anggotanya yang ketahuan melanggar disiplin, AKBP Reko pun tak segan-segan merendam anak buahnya itu di telaga samping Mapolres Mentawai. Anggota ini malas masuk kerja, karena disinyalir memakai narkoba. ”Biasanya kalau udah malas masuk kerja, diduga menggunakan narkoba,” ujar AKBP Reko.
Efek jera ini diberikan pada anggotanya yang bersalah, agar anggota lainnya tak melakukan perbuatan yang sama. ”Lucu juga kan, bila anggota bersalah dibiarkan begitu saja. Jadi, mau tak mau tetap harus ada sanksi,” ujar AKBP Reko.
Sebetulnya, penegakan disiplin bukan hanya dilakukan AKBP Reko setelah anggotanya bersalah. Namun dalam berbagai kesempatan, Reko tak bosan-bosannya memberikan arahan dan penegasan kepada anggotanya agar selalu disiplin, termasuk tak terlibat narkoba.
”Biasanya setiap awal bulan kita juga selalu melakukan pembinaan rohani dan mental. Bagi beragama Islam, kita bawa ke mushala Polres Mentawai dengan mendatangkan ustad. Sedangkan beragama Nasrani, kita kumpulkan mereka dalam aula. Di sana, mereka mendapat pembinaan mental dan spiritual,” sebut AKBP Reko.
Lari tanpa Sepatu
AKBP Reko juga memiliki cara sendiri menyehatkan anggotanya. Setiap Sabtu, biasanya AKBP Reko membawa anggotanya lari pagi di Pantai Mapadegat, Pulau Sipora. Namun bukan sekadar lari, seluruh anggota termasuk dirinya harus melepas alas kaki alias telanjang kaki.
Kegiatan ini, menurut AKBP Reko, bukan tanpa alasan. Melalui kegiatan ini, AKBP Reko meyakini bisa menjadi semacam refleksi alami bagi anggota. ”Ya, semacam refleksi alamilah. Sehingga, mereka yang selama ini kerap bergadang atau tugas malam, aliran darahnya bisa mengalir lebih sempurna setelah menginjak pasir ataupun kerang di pinggir pantai,” kata AKBP Reko.
Selain berlari di pantai, AKBP Reko juga pernah membawa anggotanya berlari ke gunung. Tentu, upaya ini dilakukan untuk menjaga stamina anggota sekaligus menyehatkan. ”Bila mereka sudah beraktivitas secara positif, tentu peluang untuk melakukan hal-hal negatif bisa diminimalisir,” ujar pria kelahiran 14 Februari 1970 silam itu.
Di samping itu, AKBP Reko sendiri juga kerap menyalurkan hobi berenangnya di Pantai Mapadegat. Hobi berenang ini tak terlepas dari kesukaan dirinya sejak kecil yang berdomisili di Tanjungperak, Surabaya. Dirinya sudah terbiasa berenang di laut. Sekadar bermain-main atau mencari ikan. Nah, kebiasaan itu kembali dilakoninya sewaktu bertugas di Mentawai. (Rommi Delfiano & Arif RD)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s