Sinergi Provinsi dan Kabupaten/Kota Harga Mati

Mulyadi: Kepala Daerah tak Bisa Mengandalkan APBD
mulyadi1Kepala daerah tak bisa lagi beralasan terbentur anggaran dalam mempercepat pembangunan di daerahnya. Kondisi itu justru harus menjadi tantangan bagi seorang kepala daerah mencari peluang untuk memajukan daerah. Bila tidak, jangan terlalu berharap percepatan pembangunan terutama untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, bisa terwujud.
Demikian mengemuka dalam diskusi terbatas Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Mulyadi bersama awak redaksi Padang Ekspres Group di Graha Pena Padang, Senin (1/6). Pria yang juga calon gubernur Sumbar periode 2015-2020 itu, blak-blakan mengemukakan pemikirannya soal percepatan pembangunan Sumbar lima tahun ke depan.
“Kalau hanya mengandalkan APBD, siapa saja pasti bisa menjadi seorang pemimpin. Soalnya, pengalokasian anggaran itu sudah memiliki rumus baku, terutama dari pemerintah pusat. Cuma, jelas tak akan bisa memenuhi ekspektasi tinggi dari masyarakat terhadap percepatan pembangunan di daerah,” sebut politisi Partai Demokrat itu.
Seperti diketahui, APBD Sumbar 2015 sebesar Rp 3,4 triliun. Dari anggaran itu, hanya sekitar Rp 1 triliun untuk belanja modal. Selebihnya, tersedot untuk biaya rutin dan membayar gaji pegawai. Anggaran sekitar Rp 1 triliun itulah yang dibagi-bagi untuk pembangunan jalan, jembatan, irigasi dan lainnya.
“Apa yang bisa kita lakukan kalau hanya mengandalkan anggaran segitu (sekitar Rp 1 triliun, red)? Terlebih lagi, bila tak diikuti perencanaan efektif. Inilah yang kerap menjadi kelemahan kita,” terang pria kelahiran Bukittinggi, 13 Maret 1963, dalam dialog yang dipandu Pemred Padang Ekspres Nahrian Bahzein.
Idealnya, tambah Mulyadi dalam diskusi yang juga dihadiri anggota DPRD Sumbar Nofrizon, Pemimpin Perusahaan Padang Ekspres Mukhtisar, Pemred Posmetro Padang Reviandi, Wakil Pemred Padang Ekspres Heri Sugiarto dan Revdi Iwan Syahputra,  Wakil Pemred Padang TV Noval Wiska, penggunaan anggaran harus benar-benar selektif sehingga bisa dirasakan masyarakat. “Tepatnya, berbasis keunggulan komparatif kabupaten/kota,” jelas Mulyadi.
Untuk merealisasikan ini, Mulyadi menekankan, pentingnya membangun sinergi antara provinsi dan kabupaten/kota. Tentunya, tetap harus melibatkan pemerintah pusat. Terutama, membuat master plan secara terencana dan terukur. Setelah itu, dijabarkan dalam program-program yang bisa “dijual” ke pemerintah pusat.
“Perlu diingat bahwa kementerian itu memiliki anggaran yang sewaktu-waktu bisa dicairkan. Jadi, selama daerah (baik provinsi, kabupaten/kota) bisa mengusulkan program-program yang meyakinkan, bagus dan menarik, saya yakin 100 persen kementerian tersebut bisa menyetujuinya. Dan, ini sudah saya buktinya selama menjadi wakil rakyat Sumbar, khususnya di Sumbar II,” jelas mantan wakil ketua Komisi V itu.
Di antaranya, pembangunan jalan di Nagari Maek, Kabupaten Limapuluh Kota. Kendati bukan tanggung jawab pemerintah pusat, Mulyadi mampu meyakinkan kementerian terkait sehingga dialokasikan di APBN. Hal serupa terjadi pada pembangunan jalan Sicincin-Malalak, Palupuah dan lainnya.
“Intinya, bagaimana kita bisa meyakinkan pemerintah pusat. Mereka pun terbantu bila ada program yang jelas dan terukur dari daerah. Kalau berhasil, pastilah mereka akan sebut di forum-forum resmi. Tak mungkin pula mereka yang punya uang, mereka pula yang membuat perencanaan untuk daerah,” jelas Mulyadi.
Semuanya bergantung kelihaian kepala daerah. Berdasarkan pengalamannya selama duduk di DPR, diakuinya peluang itu jarang dimanfaatkan Sumbar. “Harusnya dengan APBD kita terbatas, kepala daerah gesit mengambil peluang itu,” ujarnya.
Karena itu, Mulyadi tidak kaget bila Sumbar relatif tertinggal dibandingkan daerah lain di Sumatera. “Inilah yang menjadi tantangan kepala daerah ke depan. Harus kreatif. Lalu, tidak terbelenggu dengan kepentingan partai, kelompok atau belenggu-belenggu lainnya. Jangan campur adukkan antara kepentingan partai dengan pemerintahan,” ujar Mulyadi.
Soal keputusannya maju sebagai calon gubernur Sumbar, menurut Mulyadi, sudah melalui banyak pertimbangan, termasuk masukan beberapa tokoh Sumbar di Jakarta dan Sumbar, serta dukungan keluarga. “Awalnya, tak pernah terpikirkan bagi saya untuk maju. Namun seteleh melalui refleksi dan masukan dari sejumlah kalangan, barulah saya memutuskan untuk maju. Saya ingin mendarmabaktikan diri saya untuk kemajuan Sumbar, seperti yang sudah saya lakukan selama ini, terutama di Sumbar II,” kata Mulyadi. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s