Resiana, Angeline dan Arie Hanggara

117trauma“Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau. Mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu…” (Kahlil Gibran)
KETIGA nama di atas, bukanlah siapa-siapa. Hanyalah bocah ingusan berumur 9, 8 dan 7 tahun. Belum bisa mandiri, cenderung senang dimanja dan suka mencari perhatian. Lebih banyak bermain, dan berkepribadian sangat labil. Terkadang nakal dan suka meledak-ledak. Bahkan, sering membuat kegaduhan.  
Ya, seperti itulah kepribadian Resiana, warga Dusun Sirisurak, Desa Saibisamukop, Kecamatan Siberut Tengah, Kepulauan Mentawai; Angelina, warga Jalan Sedap Malam No 26 Denpasar Bali; serta Arie Hanggara, warga kawasan Mampang, Jakarta Selatan. Sepintas, tak ada hal menarik yang bisa digali dari ketiga bocah tersebut.
Namun di balik itu semua, ketiganya sama-sama meninggal pada usia sangat belia. Lebih menyayat hati, ketiganya meninggal dengan cara tak wajar. Kematian ketiganya diduga dilakukan orang terdekat. Kematian Angeline diduga didalangi Margriet, ibu angkatnya. Begitu juga, Resiana diduga dibunuh ayahnya, serta Arie diduga dibunuh ayah dan ibu tirinya.
Tentu dari ketiganya, kematian Angelina dan Arie paling mendapat perhatian secara luas dari publik. Khusus Arie, kisah pilunya diangkat dalam sebuah film layar lebar berjudul “Arie Hanggara” (1985) disutradarai Frank Rorimpandey. Sementara kematian Angline (kini pengusutan kasus kematiannya masih berjalan, pen), sampai menyita perhatian dunia internasional, tak terkeculi Presiden Jokowi.
Lalu, bagaimana dengan Resiana? Bisa jadi, kematian “hanya” mendapat perhatian dalam tataran lokal. Bahkan, cenderung hanya dianggap menjadi hal biasa. Buktinya, nyaris tak ada gejolak selama kasus kematiannya bergulir di Pengadilan Negeri Padang. Akhirnya, terdakwa yang juga ayahnya sendiri Bonar Ventura Sabeilai, 34, divonis 10 tahun penjara.
Padahal, kematian Ana—panggilan Resiana—terbilang sangat tragis. Dia dibakar hidup-hidup oleh sang ayah hanya gara-gara dituduh mencuri uang Rp 100 ribu. Sang ayah kesal setelah mendapat informasi dari adik Ana berumur 4 tahun, bahwa memang Ana lah pencuri uang tersebut. Entah apa dalam pikiran Bonar, akhirnya tega menyiramkan bensin dan membakar anaknya hidup-hidup.
Kematian tak wajar ketiganya, seakan membuka mata kita lebar-lebar bahwa begitu mudahnya seseorang mengakhiri hidup orang lain, hanya akibat hal-hal sepele. Terlebih lagi, dilakukan orangtua yang seharusnya bertanggung jawab penuh terhadap penghidupan sang anak. Wajar lah ada ungkapan bahwa manusia itu lebih kejam dari binatang!
Memang harus dipahami, sebetulnya banyak faktor yang membuat seseorang mudah mengambil tindakan di luar akal sehat. Namun, jelas tak satu pun alasan yang bisa memaafkan tindakan keji seperti itu. Lebih memprihatinkan lagi, itu terjadi di Sumbar. Provinsi yang dikenal santun dan beradat.
Kondisi ini kian membuka tabir gelap potret perlindungan anak di Indonesia. Sebetulnya, pemerintah sendiri bukan tak pernah memikirkan persoalan ini. Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) No 5 Tahun 2014 pada Juni 2014 tentang Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual terhadap Anak.
Sayang, gerakan lagi-lagi hanya sebatas seremonial, tanpa aksi nyata. Banyaknya muncul kasus-kasus kekerasan terhadap anak, salah satu buktinya. Setidaknya bisa dilihat di 19 kabupaten/kota di Sumbar. Nyaris, tak terlihat komitmen kepala daerah menindaklanjuti gerakan nasional antikejahatan seksual terhadap anak tersebut. Kalau ada, baru sekadar slogan dan terkesan hanya mencari penghargaan, salah satunya seperti adanya kota layak anak.
Persoalan mendasar lainnya, ternyata aturan yang akan menjerat pelaku kekerasan terhadap anak ini, hukumannya tak sepenuhnya bisa membuat efek jera. Hanya dihukum maksimal 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar. Harusnya, minimal dihukum seumur hidup atau bila perlu pelakunya dihukum mati pula sekalian.
Kisah tragis Reasian, Angelina dan Arie Hanggara, jelas hanya sebagian kecil kasus-kasus kekerasan berujung kematian terhadap anak. Bak fenomena gunung es, jelas masih banyak lagi kasus-kasus serupa terjadi di daerah ini. Cuma saja, bisa jadi tidak terekspose atau pun dibiarkan “menghilang” begitu saja. Bukan tak mungkin kasus serupa bakal terjadi, dan terjadi lagi.
Satu-satunya hal yang bisa dilakukan sekarang, bagaimana orangtua bisa memperdalam ilmu keagamaannya, termasuk menjalankan nilai-nilai adat istiadat di setiap daerah. Tentunya, pemerintah jelas bisa pula berlepas tangan menghadapi persoalan ini. Harus ada gerakan yang massif guna menghindari terulangnya kasus kekerasan terhadap anak. (*)
Email: pandeka2005@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s