Kiprah Nasrul Abit Memimpin Kabupaten Pesisir Selatan

Keluar dari Ketertinggalan, Kemiskinan Menurun
nasrul abitSELAMA dua periode sejak 2005, Nasrul Abit dipercaya menjadi Bupati Pesisir Selatan (Pessel). Pertengahan September mendatang, amanah itu pun akan berakhir. Bagaimana kiprah pria kelahiran Airhaji itu memimpin Pessel selama ini?  
Di awal-awal masa jabatannya selaku mantan wakil bupati Pessel periode 2000-2005, dia sadar betul bahwa memimpin Pessel bukanlah perkara gampang. Di mana, banyak persoalan-persoalan berat yang harus diurai untuk membuat Pessel lebih baik dari sebelumnya.
Pertama, di kabupaten berluas 5.749,89 km2 itu praktik illegal logging sangat marak. Lalu, kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat rendah. Sementara income per kapitanya juga rendah. Hanya Rp 5 juta. Kondisi tersebut, memposisikan Pessel sebagai salah satu kabupaten tertinggal di Sumbar.
Nah, pada bidang pendidikan, langkah pertama yang diambil Nasrul Abit untuk mengeluarkan Pessel dari kabupaten tertinggal adalah memperbaiki kondisi pendidikan di daerah tersebut. Di mana, sejak 2006, dia membuat kebijakan untuk membebaskan biaya pendidikan di tingkat SD dan SMP. Para peserta didik pun diberi bantuan lainnya, seperti pakaian sekolah atau buku-buku sekolah.
“Pada 2005, APM (angka partisipasi murni) di Pessel sangat rendah. Hanya 42 persen. Penyebabnya adalah kemiskinan. Untuk itu, pada 2006 kami membuat programa wajib belajar 12 tahun dengan membaskan biaya pendidikan bagi anak-anak SD dan SMP,” tutur Nasrul Abit berdiskusi dengan awak redaksi Padang Ekspres di Graha Pena Padang, Senin (29/6).
Setelah itu, sejak 2008 hingga 2012, bupati yang 24 Desember mendatang akan berusia 61 tahun ini, mulai bergeser pada pembangunan infrastruktur pendidikan. Seperti pembangunan gedung sekolah, dan juga pembangunan jalan-jalan menuju ke sekolah.
Secara perlahan, sektor pendidikan pun mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hingga tahun lalu, APM Pessel telah mencapat 123,94 untuk SD, 98,97 untuk SMP, dan 83,21 untuk SMA.
Begitu juga dengan jumlah siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri. Pada 2010 hanya 301 siswa yang diterima. Lalu, meningkat menjadi 736 pada tahun berikutnya, 852 pada 2012, dan 1.003 siswa pada 201.
Dalam kepemimpinan Nasrul Abit ini, tahun lalu, Pessel juga telah memiliki sekolah komunitas dengan tiga jurusan. Salah satunya adalah jurusan yang lekat dengan kehidupan sehari-hari sebagian masyarakat Pessel, yakni mesin perkapalan.
“Tentunya, dari sekolah ini kami berharap akan lahir tenaga-tenaga andal untuk memperbaiki mesin-mesin kapal di Pessel. Sehingga nelayan Pessel tidak perlu lagi ke Padang. Lapangan pekerjaan pun bisa terbuka lebih luas,” terang Nasrul Abit.
Dalam kunjungannya, Nasrul Abit didampingi Kabag Humas Sabrul Bayang, Kepala BPBD Pri Nurdin, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Yozki Wandri, Kepala Dinas PSDA Yusdi Ali Umar, Sekretaris Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Pesisir Selatan Sudirman, Sekretaris Bappeda Sukardi, serta para staf SKPD.
Sejak 2014,  kata Nasrul Abit, Pessel juga telah memiliki alat untuk naik dok kapal ukuran 30 GT di Kambang. Biayanya hanya Rp 300 ribu. Lebih murah dari di Padang yang kabarnya mencapai Rp 750 ribu.
Namun, hingga masa jabatannya berakhir, bukan berarti dunia pendidikan di Pessel bebas dari persoalan. Salah satunya, penyebaran guru yang belum merata. Saat ini, guru-guru di Pessel masih menumpuk di ibu kota kabupaten, Painan. “Salah satu cara mengatasi dalam penerimaan guru mendatang, kami akan langsung membuat pilihan penempatan saat mendaftar,” tuturnya dalam diskusi yang dipandu Wapemred Heri Sugiarto dan dihadiri Wapemred Revdi Iwan Syahputra, Redpel Rommi Delfiano, Korlip Fajril Mubarak dan para redaktur.
RS Tipe B
Di bidang kesehatan, pada awal kepemimpinannya, Nasrul Abit dihadapkan pada persoalan gizi buruk. Di lain hal, angka kematian bayi dan ibu melahirkan juga cukup tinggi.
Sementara itu, kondisi fasilitas kesehatan juga kurang baik. RSUD Dr Muhammad Zein Painan yang berkategori C, tak memenuhi syarat. Pasalnya, hanya ada dua dokter spesialis ketika itu. Yakni, ahli kandungan dan bedah. Padahal, minimal harus ada empat dokter spesial. Yaitu, bedah, kandungan, anak, dan penyakit dalam.
Untuk memenuhinya, Nasrul Abit pun bergerilya meminta bantuan ke sana ke mari, khususnya ke Kanwil Kesehatan saat itu. Dia pun menjanjikan dokter spesialis yang mau menetap di Pessel jadi PNS. Dia juga menyekolahkan istri dari salah satu kepala dinas di Pessel yang kebetulan juga seorang dokter.
Dari berbagai usaha, kini Pessel telah memiliki 18 dokter ahli. Tahun depan ditargetkan Pessel telah memiliki 35 dokter spesialis. Sebanyak 17 dokter saat ini sedang disekolahkan.
Pada tahun 2012, Pemkab Pessel juga sudah berencana membangun membangun rumah sakit tipe B di Pincuran Boga, Painan. Dengan luas lahan tiga hektare, rumah sakit itu diperkirakan memakan biaya Rp 100 miliar. Anggarannya berasal dari pinjaman Pusat Investasi Pemerintah (PIP) di Kementerian Keuangan.
Pertengahan tahun depan, ditargetkan pembangunannya tuntas. Dan awal 2017, rumah sakit tipe B itu bisa beroperasi. Dengan 175 tempat tidur, rumah sakit ini bisa menjadi rumah sakit rujukan seperti RSUP M Djamil Padang.
Tak hanya pembangunan rumah sakit. Nasrul Abit juga memperkuat pelayanan ke tingkat kecamatan. Setiap kecamatan sudah ada puskesmas dengan tiga hingga empat orang dokter. Hasilnya, persoalan gizi buruk, angka kematian bayi dan ibu melahirkan dapat diminimalisir.
Berantas Ilog
Salah satu yang membuat pembangunan Pessel selalu tertinggal dari daerah lain adalah maraknya illegal logging (ilog) alias pembalakan liar. Praktik pembalakan liar tersebut merusak alam dan kerap mendatangi bencana alam, seperti banjir bandang dan longsor.
Nah, pada awal kepemimpinannya, pemberantasan ilog jadi fokus Nasrul Abit. Bersama pihak terkait, 16 tronton kayu ilog pun “dikandangkan”. Itu ternyata mampu menekan angka ilog.
Diiringi dengan memberi pemahaman secara langsung kepada masyakarat, praktik ilog semakin jauh berkurang dan masyarakat pun kini lebih banyak untuk memilih menjadikan lahannya sebagai lahan perkebunan.
“Perkebunan pun memberi keuntungan besar kepada masyarakat yang dulu terlibat ilog. Penghasilan mereka kini jauh lebih besar,” sebut Nasrul Abit.
Dari segi produksi pangan, Pessel pun mengalami peningkatan di era Nasrul Abit ini. Tahun 2006 adalah tahun produksi pangan terparah di Pessel. Tahun itu Pemkab Pessel mesti menjalankan operasi pasar dengan mengeluarkan 300 ton beras setiap bulan.
Dengan berbagai daya dan upaya seperti pembangunan irigasi, Pessel pun saat ini mengalami surplus beras pada tahun lalu. Yakni, sebesar 131.355 ton beras. Produksi padi sendiri mencapai 313.654 ton pada tahun lalu
Dengan penambahan 1.100 petak sawah baru sejak 2012-2014, Pessel meningkat target produksi menjadi 315 ton di tahun ini. Untuk mencapai itu, Pemkab Pessel memberi berbagai bantuan kepada para petani. Misalnya hand tractor.
Di sisi lain, untuk bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Pessel, Nasrul Abit meningkatkan kondisi jalan di Pessel. Selama kepemimpinannya, jalan di Pessel bertambah panjang 2 kali lipat. Bila sebelumnya hanya 1.246 km, kini Pessel telah memiliki jalan sepanjang 2.500 km. “Jalan-jalan itu dibangun dengan konsep menembus dan menghubungi sentra-sentra atau potensi-potensi ekonomi di Pessel,” ungkapnya.
Sayangnya, sambung Nasrul Abit, soal jembatan gantung yang sering menjadi sorotan media lokal dan nasional, tidak begitu mudah untuk diatasi. Bukan karena Pemkab Pessel tidak tahu dengan kondisi tersebut. “Kami mengetahuinya. Dan, kami pun mau membangun jembatan yang layak. Tapi persoalannya, masyarakat tidak mau melepaskan tanahnya,” jelasnya.
Misalnya di Langgai. Untuk membuat jembatan di sana, perlu pembebasan lahan sepanjang 1 km. Namun tanah 1 km itu dimiliki 23 orang, yang tidak satu pun mau melepas tanahnya.
Upaya lain untuk meningkatkan ekonomi masyarakat adalah lewat pengembangan pariwisata. Tahun 2012, pengembangan pariwisata mulai difokuskan politisi yang digadang-gadang akan berduet dengan incumbent Irwan Prayitno pada Pilgub 2015 ini. Dia mulai membenahi lahan parkir di berbagai objek wisata unggulan, seperti di Pantai Carocok. Kemudian, juga ada reklamasi pantai seluas 3 hektare.
Kini, ekonomi Pessel pun menggeliat. pendapatan asli daerah (PAD) sektor pariwisata yang awalnya Rp 40 juta pada 2013 melonjak drastis jadi Rp 1,6 miliar pada 2014. Para nelayan mulai beralih profesi menjadi pemandu wisata ke pulau-pulau.
Pendapatan mereka pun meningkat tajam. Bila saat menjadi nelayan yang melaut dua atau tiga hari, paling banyak mereka hanya bisa berpenghasilan Rp 500 ribu. Tapi dengan menjadi pemandu wisata, pada akhir pekan mereka bisa berpenghasilan Rp 1 – 1,5 juta.
Kejar Anggaran Pemerintah Pusat
Dengan berbagai capaian dan realisasi pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi tersebut, pada 2014 lalu, Nasrul Abit mampu membawa Pessel keluar dari kabupaten berlabel kabupaten tertinggal.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada awal kepemimpinannya hanya 68, tahun lalu telah mencapai 73,61 persen. Pertumbuhan ekonomi pun mengalami peningkatan. Dari 5,28 pada 2010 menjadi 5,92 pada tahun 2014. Tingkat kemiskinan menurun dari 10,72 persen pada 2010 menjadi 8,43 tahun lalu.
Lalu apa yang menjadi kunci keberhasilan Nasrul Abit dalam kepemimpinannya selama dua periode tersebut? “Saya coba membangun komunikasi dengan berbagai pihak. Khususnya membangun jaringan dengan orang-orang pusat,” jawabnya.
Pembangunan di daerah akan berkembang dengan pesat, katanya, bila pemerintah daerah mampu menyerap dana dan program-program pusat dan provinsi. Ini yang dia pelajari dari pembangunan sejumlah kota di Sulawesi.
“Bagi saya, APBD sudah barang jelas. Lauak dalam balango. Jadi yang perlu diusahakan itu adalah memasukkan uang dan program pembangunan dari pusat. Saya coba fokus ke sana,” terangnya.
Hanya saja, mesti pembangunan Pessel cukup bagus dalam 10 tahun terakhir, bukan berarti Nasrul Abit tidak meninggalkan bengkalai. “Ya masih ada bengkalai dari pembangunan yang saya programkan dalam 10 tahun terakhir. Untuk mewujudkannya, tentu perlu kerja yang lebih keras lagi bagi bupati selanjutnya,” kata Nasrul Abit.
Di antaranya, bengkalai itu adalah pembangunan kota satelit Tapan, pembangunan jalan Tapan-Kerinci sepanjang 43 km, mengatasi abrasi pantai di empat kecamatan, pembangunan pelabuhan Panasahan. “Tapi itu semua, sebenarnya tidak akan berat diwujudkan, bila komunikasi dengan pemerintah pusat dan provinsi bisa dijaga. Apalagi, sebagain besar program pembangunan tersebut sudah masuh dalam RPJMN,” tukasnya. (ganda cipta)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s