Kiprah Irwan Prayitno Memimpin Sumbar

Kebut Pembangunan Infrastruktur Mangkrak  
IRWAN PRAYITNOTinggal 38 hari lagi Gubernur Irwan Prayitno memimpin Sumbar. Sejumlah keberhasilan telah ditorehkan. Kendati begitu, mantan anggota DPR itu, menyadari tak dapat memuaskan semua pihak. Dia menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat menilai kinerjanya selama lima tahun memimpin Sumbar.
“Selama saya jadi gubernur, tidak ada hari libur dan saya bekerja nonstop. Bagi saya, memberikan pelayanan maksimal pada masyarakat adalah hal utama,” ujar Irwan Prayitno saat berdiskusi dengan jajaran redaksi Padang Ekspres di Adinegoro Room Graha Pena Padang, kemarin (6/7).
Selama memimpin Sumbar, lebih dari 200 penghargaan berhasil diraihnya dalam berbagai bidang. “Ada yang bilang penghargaan tersebut dibeli. Mau beli di mana penghargaan itu? Saya rasa di zaman sekarang tidak ada lagi yang seperti itu,” ujar Irwan menanggapi sentilan Pemred Padang Ekspres Nashrian Bahzein saat memandu diskusi.
Memimpin Sumbar yang baru saja dihantam gempa 30 September 2009 lalu, menjadi tantangan berat bagi kabinet  Irwan Prayitno-Muslim Kasim. Pertumbuhan ekonomi (PE) terpuruk hingga 4 persen. Infrastruktur dasar rusak, fasilitas publik, rumah masyarakat hingga perkantoran rusak. Keprihatinan itu ditandai dengan pelantikan Irwan Praytino-Muslim Kasim di garasi DPRD Sumbar.
Mujurnya, pascagempa Sumbar mendapatkan bantuan Rp 2,4 triliun. Kucuran dana pemerintah pusat itu diberikan dalam bentuk gelondongan. “Kalau saya mau, bisa saja yang dibangun duluan itu kantor gubernur. Tapi, bagi saya, pembangunan rumah masyarakat dan infrastruktur publik jauh lebih urgent dibandingkan membangun kantor pemerintahan. Sehingga, banyak SKPD yang berkantor di bedeng-bedeng, di rumah-rumah, serta bertumpuk-tumpuk pada satu ruangan pascagempa tersebut,” ujar Irwan Praytino yang hingga kini berkantor di rumah dinas.
Kini, sedang berlangsung retrofit kantor gubernur. “Sejak dilantik, saya tak pernah punya kantor. Saya pernah ditawari berkantor di escape building. Tapi melihat pegawai menumpuk-numpuk di ruang sempit, saya batalkan rencana itu dan memilih tetap berkantor di rumah,” ucapnya.
PE Terbaik Ketiga
Terkait PE Sumbar sejak tahun 2010 sampai 2014, diakui Irwan, berfluktuatif. Tahun 2010 PE mencapai 5,60 persen, 2011 sebesar 6,66 persen, 2012 sebesar  5,31 persen, 2013  sebesar 6,02 persen, dan 2014 sebesar 5,85  persen.  Kendati berfluktuatif, tetap berada di atas nasional. Untuk tahun 2014, kata Irwan,  PE Sumbar urutan ketiga dari 10 provinsi di Pulau Sumatera.
“Paling tinggi pertumbuhan ekonominya Provinsi Jambi, disusul Kepulauan Riau, setelah itu Sumbar. Data itu bukan data dikarang-karang, tapi data Badan Pusat Statistik (BPS),” tukasnya.
Sejak tahun 2010 sampai 2014, Irwan menegaskan persentase kemiskinan Sumbar terus melandai. Jika di awal kepemimpinannya tingkat kemiskinan mencapai 9,50 persen, pada 2014 tinggal 6,89 persen. “Jauh di atas rata-rata nasional yang mencapai 11 persen,” ujar Irwan.
Namun begitu, Irwan Prayitno tidak menampik tingkat pengangguran di Sumbar masih di atas nasional. Tahun 2014 sebesar 6,50 persen. “Informasi yang saya terima, Agustus 2015 nanti pengangguran Sumbar berada di angka 5,9 persen. Perlu diingat, Sumbar memang tak cocok dikembangkan industri besar atau padat karya. Alasannya, karakter orang Minang tak suka jadi pesuruh. Mereka lebih suka bekerja sendiri atau bagi hasil,” ujarnya.
Jika dibangun pabrik di Sumbar, sementara raw material dan pelemparan hasil pasarnya dibawa keluar Sumbar, Irwan menilai produk tersebut tidak kompetitif. “Mana mau investor mau berinvestasi tapi rugi. Posisi kita memang kurang strategis untuk itu. Buktinya, sudah banyak perusahaan besar tutup. Misalnya, Sumatex Subur, Asia Biskuit, Rimba Sungkyong, Poliguna dan lainnya,” ucapnya.
Pola yang tepat mengurangi jumlah  pengangguran dan kemiskinan di Sumbar, menurut Irwan, melalui pola pemberdayaan. “Itu yang paling cocok di Sumbar. Jika ada pakar mau bilang industri besar bisa berkembang di Sumbar, berarti ia belum mengenal Sumbar,” ujarnya.
Terkait program pemberdayaan masyarakat itu, Irwan-MK menggulirkan gerakan peningkatan pendapatan, pengentasan kemiskinan dan pengangguran. Di antaranya, Gerakan Pensejahteraan Petani (GPP), Gerakan Pensejahteraan Ekonomi Masyarakat Pesisir (GPEMP), Gerakan Pensejahteraan UMKM (GPUMKM), dan Gerakan Pemberdayaan Fakir Miskin (GPFakin).
Tuntaskan Pembangunan
Selama lima tahun kepemimpinan, Irwan Prayitno tidak menafikan adanya penilaian sebagian orang bahwa gubernur saat ini hanya mampu melanjutkan program gubernur sebelumnya. Tidak membuat proyek prestisius.
“Itu saya akui. Banyak proyek pembangunan infrastruktur yang mangkrak, namun di masa kepemimpinan saya, proyek infrastruktur tersebut selesai dan ada yang sedang dalam proses pengerjaan,” ujarnya.
Di antara pembangunan infrastruktur yang telah, sedang dan akan dilaksanakan adalah, pembangunan jembatan Berok Siteba Kota Padang, jembatan Pasir Jambak Kota Padang,  jembatan Kuranji Kota Padang,  jembatan Lingkar Unand Kota Padang, jembatan Araipinang Kota Padang. Lalu, jembatan Batubusuk Kuranji, jembatan Rantaupanjang Pasaman Barat, jembatan Bayang Pessel, jembatan Sikabau Ujunggading Pasbar.
Selanjutnya, jembatan Bukikkandung, jembatan Batangpiaman, jembatan Subangsubang, jembatan Lubuk Ulang Aling Solok Selatan, jembatan Talao, jembatan Batukudo Solok, jembatan Baburai Tanahdatar, jembatan Pinangawan Tanahdatar, jembatan Baturijal Dharmasraya.
Sedangkan pembangunan jalan, yakni jalan Duku Sicincin Padangpariaman, jalan Nipah–Telukbayur, jalan Tugu Cokelat–Paritmalintang Padangpariaman, jalan Lingkar Timur Kota Padang, jalan Taluak Kabung–Mandeh-Tarusan Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan. Lalu, jalan Bungo Tanjung-Teluk Tapang, jalan Pantai Padang, jalan Alai-Bypass Padang, serta pembangunan jalur dua Bypass.
“Sejak tahun 1983 pembangunan jalur dua Bypass mangkrak, barulah tahun 2014 dimulai pembangunannya. Rencananya, pembangunan Bypass tuntas Agustus 2016. Dengan 4 lajur cepat dan 2 lajur lambat,” paparnya.
Irwan mengakui kepemimpinannya belum ada mencetus proyek mercusuar di Sumbar. Pasalnya, ia ingin menuntaskan pembangunan infrastruktur yang digagas gubernur terdahulu. Sehingga, masyarakat mendapatkan manfaat dari kehadiran proyek infrastruktur itu.
“Tahun 2015 ini, barulah kita punya uang untuk membangun. Kalau tahun sebelumnya, uang kita gunakan untuk menyelesaikan pembangunan proyek infrastruktur yang terbengkalai. Pembangunan infrastruktur yang kita bangun itu sudah mengacu pada  Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) tahun 2005-2025,” ucapnya.
Menurut Irwan, Sumbar tak hanya maju dalam pembangunan proyek infrastruktur. Namun, juga sudah maju dalam pembangunan manusia. Itu tampak dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Tahun 2010, IPM Sumbar 73,78, 2011 sebesar 74,28, 2012 sebesar 74,70, 2013 sebesar 75,01 dan 2014  sebesar 75,01. “Indikatornya dapat kita lihat dengan banyaknya pelajar kita yang diterima perguruan tinggi,” katanya.
Gubernur didampingi Kepala Bappeda Sumbar Afriadi Laudin, Kepala Dinas PU Suprapto, Kepala Dinas Kesehatan Rosnini Savitri, Kepala Dinas Pendidikan Syamsurizal, Kepala Dinas Perkebunan Fajarudin, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Djoni, Kepala Dinas PSDA Ali Musri, Kepala Dinas Sosial Abdul Gafar, dan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Burhasman.
Diskusi diikuti Wakil General Manager Sukri Umar dan Two Efly, Wapemred Heri Sugiarto dan Revdi Iwan Syahputra, Redpel Rommi Delfiano dan Suryani dan jajaran redaksi lainnya. (gusti ayu gayatri)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s