Kiprah Ismet Amzis Memimpin Bukittinggi

Fokus pada Empat Sektor Pembangunan
ismet amzisPARIWISATA, pendidikan, kesehatan serta perdagangan dan jasa, merupakan empat sektor yang menjadi fokus pembangunan Ismet Amzis selama memimpin Bukittinggi dalam lima tahun terakhir. Baginya, empat sektor tersebut sesuai dengan potensi dan kondisi riil “Kota Wisata” itu.
Hal tersebut dikatakan Ismet Amziz saat diskusi dengan awak redaksi Padang Ekspres di Adinegoro Room Graha Pena Padang, Selasa (7/7). Diskusi dipandu Wakil General Manajer Padang Ekspres, Two Efly.
Ismet Amzis didampingi Asisten II Setko Bukittinggi Ismail Djohar, Kadisdikpora Ellia Makmur, Kadisbudpar Melfi Abra, Kadis PU Syahrizal, Kakan PMPKN Risman Hadi, Kadinkes Syofia Dasmauli, Sekretaris Bappeda Albertiusman, dan Kabag Humas Yulman. Sedangkan dari Padang Ekspres hadir Pemimpin Redaksi Nashrian Bahzein, Wakil Pemimpin Redaksi Revdi Iwan Syahputra dan Heri Sugiarto, Redaktur Pelaksana Rommi Delfiano dan Suryani, beserta jajaran redaksi lainnya.
“Sejak dicanangkan menjadi daerah kunjungan wisata pada 1984 lalu, pembangunan Bukittinggi tidak bisa dilepaskan dari sektor pariwisata,” ujar Ismet Amzis pada awal-awal diskusi tersebut.
Selama lima tahun terakhir, wali kota yang akan mengakhiri masa jabatannya pada 13 Agustus mendatang ini, mengklaim dunia pariwisata Bukittinggi terus tumbuh. Ini dibuktikan dengan tingkat kunjungan wisatawan. Pada awal kepemimpinannya, tingkat kunjungan wisatawan hanya tumbuh sekitar 5 persen. Namun, pada 2014 naik pada angka 7-8 persen.
Pertumbuhan kunjungan wisatawan itu pun menimbulkan sejumlah persoalan di kota seluas 25,24 km2 tersebut. Salah satunya kemacetan di sejumlah ruas jalan. Khususnya ruas jalan yang menuju ke objek wisata, Pasar Atas, dan Pasar Simpang Aur.
Salah satu upaya untuk mengurai kemacetan di Bukittinggi, Ismet Amzis melalui anggota DPR RI Mulyadi, melobi pemerintah pusat untuk membuat jembatan layang di Pasar Simpang Aur. Jembatan layang sepanjang 650 meter itu sudah selesai dan sudah dioperasikan saat ini.
Selain kemacetan, persoalan yang muncul akibat pertumbuhan kunjungan wisatawan itu adalah kesemrawutan parkir. Bahkan khusus soal parkir ini, Bukittinggi sangat terkenal sebagai daerah dengan biaya parkir termahal di Indonesia. Saat liburan, seperti Lebaran, biaya parkir bisa mencapai Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per kendaraan.
Kondisi tersebut diakui Ismet Amzis. Katanya, itu adalah kelakuan oknum atau preman. Secara peraturan, sesuai Perda Nomor 4 Rahun 2011, parkir di Bukittinggi hanya Rp 1.000 untuk kendaraan roda dua atau sepeda motor, serta Rp 2.000 untuk kendaraan roda empat atau mobil.
“Saya sendiri pernah menangkap tangan kelakuan oknum petugas pakir tersebut dengan menyamar. Juru parkir nakal itu langsung saya bawa ke kantor polisi. Tapi, kini sudah ada pos pengaduan. Jika masyarakat dipungut lebih dari aturan yang ada, silakan mengadu ke pos pengaduan tersebut. Salah satunya ada di sekitar kawasan Jam Gadang,” ujarnya.
Jumlah titik parkir legal di Bukittinggi pun meningkat selama lelaki kelahiran 20 Agustus 1953 itu menjadi wali kota. Bila pada 2010 hanya ada tujuh titik, kini sudah ada 12 titik. Bukittinggi pun saat ini sudah memiliki satu gedung parkir dengan kapasitas 300 satuan ruang parkir (SRP).
Gedung parkir tingkat tiga ini berdiri di Jalan Perintis Kemerdekaan atau dibekas Kanwil Kehutanan Sumbar. Meski belum 100 persen tuntas, gedung tersebut sudah mulai diuji coba dan diharapkan bisa menjadi jawaban untuk mengatasi persoalan perpakiran dan kemacetan di Bukittinggi.
Dari dunia pariwasata ini, Bukittinggi mendapatkan pendapatan asli daerah (PAD) terbesar. Pada 2014, PAD Bukittinggi Rp 62.661.939.729. Nah, 60 persen lebih adalah dari sektor pariwisata. Total PAD 2014 itu, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2010 yang hanya Rp 35.140.170.375.
IPM Tertinggi di Sumbar
Lalu bagaimana pembangunan Bukittinggi di sektor pendidikan? Sejak awal menjadi wali kota, satu hal yang sangat disadari Ismet adalah Kota Wisata ini memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan Sumbar dan Indonesia.
Dalam sejarahnya, di Bukittinggi pernah ada sekolah raja yang melahirkan sejumlah tokoh nasional. Lalu ada perguruan untuk keguruan yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya IKIP atau UNP Padang. Sekolah polisi wanita pun lahir di kota berhawa sejuk itu.
Dengan demikian, selain Kota Wisata, Bukittinggi pun memiliki imej sebagai Kota Pendidikan di Sumbar. Untuk mempertahankan imej tersebut, Ismet pun menganggarkan 36 persen APBD Bukittinggi untuk dunia pendidikan.
Sejumlah sekolah pun dibentuk menjadi sekolah unggulan. Keunggulan sekolah-sekolah itu pun memiliki kekhususan programnya masing-masing. Salah satunya SMAN 1 Bukittinggi dengan keunggulannya Tahfidzul Quran.
Selain itu, sekolah-sekolah di Bukittinggi pun dilengkapi dengan sarana dan prasana modern. Seperti, pembelajaran menggunakan komputer dan laptop.
Kapasitas guru pun mendapat perhatian. Saat ini, sudah ada 2.131 guru berijazah S-1 dan 102 tamatan di Bukittinggi. Sedangkan yang bersertifikasi sudah mencapai 1.605 guru.
Tidak hanya kapasitas dari sisi keilmuan yang diperhatikan, selama kepemimpinan Ismet ini, guru-guru di Bukittinggi tampil dengan pakaian elegan. Tidak seperti pegawai negeri umumnya.
Dengan berbagai inovasi tersebut, tahun lalu tercatat angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM) di seluruh jenjang di Bukittinggi lebih dari 100 persen. Lulusan SMA yang diterima di perguruan tinggi pun naik drastis. Dari di bawah 50 persen pada 2010, menjadi 76,40 persen pada 2014.
“Kini, dengan segala upaya yang telah kami lakukan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Bukittinggi pun telah mencapai angka 79. Tertinggi di Sumbar dan berada di atas IPM nasional,” sebut Ismet.
Koneksikan Tiga Pasar
Sejak zaman penjajahan Belanda, Bukittinggi juga dikenal sebagai pusat perdagangan di Sumatera. Bukti konkretnya, pada zaman Belanda lah Pasar Atas dan Bawah dibangun. Di luar dua itu, Bukittinggi juga dikenal dengan Pasar Aur-nya, merupakan pusat grosir terbesar di Sumbar.
Saat ini, tiga pasar itu masih menjadi jantung perekonomian Bukittinggi. Ismet sendiri sadar, dengan luas kota yang seberapa, dia tidak bisa leluasa membuka lahan-lahan baru untuk membuat pasar atau pusat perbalanjaan.
Sebab itulah, dia pun berencana memperkuat keberadaan tiga pasar tersebut. Yakni, membuat ketiga pasar itu saling terkoneksi. “Perencanaannya sudah ada meski masih dalam perencanaan yang kasar,” tuturnya.
Untuk membuat Pasar Atas, Pasar Bawah dan Pasar Aur terkoneksi, Ismet pun mengincar dana dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP). “Rencana tersebut akan segera dimantapkan. Dan kalau sudah ada kesepakatan dengan para pedagang, anggarannya akan diusahakan dari PIP,” ujar Ismet yang pada Pilkada Bukittinggi 9 Desember mendatang, kembali berniat maju menjadi wali kota.
Sebagai kota yang fokus pada perdagangan dan jasa, Bukittinggi cukup memiliki pertumbuhan ekonomi yang bagus. Data terakhir dari Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi di kota tersebut mencapai 6,9 persen. Itu merupakan angka pertumbuhan tertinggi di Sumbar, dan berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.
Kalau ditarik ke tahun 2010, pertumbuhan ekonomi Bukittinggi tersebut jauh meningkat. Pada tahun itu, pertumbuhan ekonominya hanya 5,51 persen.
Terkait pembangunan di bidang kesehatan, Bukittinggi fokus pada pelayanan di tingkat dasar. Yakni, pembangunan puskesmas-puskesmas di kecamatan. Tidak hanya dari sisi fisik, menurut Ismet, puskesmas ini sudah memiliki tempat tidur perawatan, dan memiliki dokter spesialis. Sehingga, beberapa puskesmas pun menjadi rujukan untuk penanganan sejumlah penyakit tertentu.
“Jadi, kami di Bukittinggi tidak memiliki rumah sakit daerah. Yang ada rumah sakit milik pemerintah pusat dan provinsi. Sebab itulah, dalam beberapa tahun belakangan kami fokus pada pembangunan di tingkat dasar,” terangnya.
Di bidang kesehatan ini, sekarang ini Bukittinggi menjadi rujukan pengobatan sejumlah penyakit di Sumatera. Seperti, stroke dan HIV/AIDS. “Jadi, ada data yang mengatakan penderita HIV/AIDS di Bukittinggi terbesar di Sumbar. Itu benar. Tapi, sebagian besar itu adalah penderita dari luar Bukittinggi yang datang berobat ke mari. Warga Bukittinggi sendiri tidak lebih 10 persen dari jumlah penderita yang tercatat,” tutur Kepala Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi Syofia Dasmauli.
Ke depan, Pemko Bukittinggi berencana membangun sebuah rumah sakit. Lokasinya berdekatan dengan STIKES Fort de Kock. “Persiapan pembangunan sudah dianggarkan di APBD sejak tiga tahun belakangan. Kini, sudah melangkah pada feasibility studies-nya,” tukas Ismet, mantan wakil wali kota Bukittinggi periode 2005-2010 ini.
Bila rencana tersebut terwujud, tentu sektor kesehatan di Bukittinggi semakin baik. Untuk saat ini saja, indeks pembangunan kesehatan masyarakat (IPKM) Bukittinggi pada 2014 mencapai 0,7445 atau tertinggi di Sumbar. Angka itu meningkat dibanding 2010 hanya 0,6407. (ganda cipta)

Iklan

Satu pemikiran pada “Kiprah Ismet Amzis Memimpin Bukittinggi

  1. Ping balik: Kiprah Ismet Amzis Memimpin Bukittinggi | Ismet Zulbahri Untuk Bukittinggi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s