Negeri Asap

asaaaapALKISAH dahulu kala tersebutlah sebuah negara bernama Negeri Asap. Tak ubahnya seperti bumi, Negeri Asap dianugerahi kekayaan alam melimpah. Ada gunung, sungai, laut, danau, bukit, lembah, tak terkecuali hamparan hutan nan menghijau. Ketika pagi sampai sore, sinar mentari selalu tak absen menyapa penduduk Negeri Asap. Begitu pula bulan beserta bintang, juga tak pernah absen ketika matahari sudah tenggelam di ufuk timur.
Negeri Asap ini dipimpin seorang raja yang disegani dan dekat dengan rakyat. Sudah menjadi sebuah kebiasaan dari sang raja, setiap hari pastilah dia berjalan menemui rakyatnya sampai ke pelosok-pelosok sempit. Nyaris, tak ada seorang pun warga tak mengenal sosok sang raja. Bahkan, dia sudah menjadi buah bibir dan membuat iri negeri lain. Terutama, kedekatan dia dengan rakyat yang dipimpinnya. Tak sedikit pula warga negeri lain berandai-andai bisa dipimpin oleh sang raja itu.
Saking terkenalnya, nyaris tak ada kegiatan sang raja yang menjadi bahan pembincangan di Negeri Asap. Ke mana pun dia pergi, pastilah diiringi banyak orang. Bukannya dia tak risih seiring begitu tingginya intensitas pembicaraan terkait dirinya. Namun, dia tak bisa berbuat banyak. Bagaimana pun, pemberitaan soal dia memang ditunggu-tunggu rakyatnya. Padahal, sudah berulang kali dia mengingat juru tinta agar mengeksposnya sewajarnya.
Sejak awal dia diangkat menjadi raja menggantikan mediang ayahnya, rakyat memang sudah berharap benar pada dia. Bukan apa-apa, di samping jadi pewaris tunggal, dia juga dikenal punya banyak terobosan sewaktu dia jadi putra mahkota. Berkat dialah, Negeri Asap lebih dikenal negeri lain. Setiap kali melontarkan ide, pastilah langsung diwujudkan secara nyata. Pertimbangan mengedepankan kepentingan rakyat dan tak merusakan keseimbangan lingkungan, jadi dua hal yang paling diprioritaskan.
Sebetulnya, tak hanya rakyat berharap banyak kepada dia. Ayahnya sebelum mangkat pun, juga sudah menaruh harapan besar. Dia berharap pelanjut kerajaan yang sudah turun temurun sejak ratusan tahun, bisa makin memperkokoh dan lebih disegani lawan maupun kawan. Hal terpenting lainnya, bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat dan tegas menegakkan hukum. Negeri asap diharapkan bisa menjadi motor dan penyeimbang di antara negeri-negeri lainnya.
“Wahai anakku, jadilah raja bagi semua golongan. Jadikanlah penegakan hukum sebagai martil keadilan bagi semua. Negeri Asap ini hanya butuh pemimpin yang mau mendengar dan merasakan penderitaan rakyatnya. Jadilah pemimpin menempatkan kepentingan rakyat banyak, di atas kepentingan pribadi, kerajaan dan lainnya,” begitulah wasiat sang ayah sebelum mangkat.
Nah, di awali-awal kepemimpinannya, semua harapan rakyat dan sang ayah dijalankan secara sungguh-sungguh. Tak ada pungutan upeti terhadap rakyat jelata. Malahan, rakyat jelata diberi kemudahan dalam hal apa saja. Mau sekolah, berobat, dan memperoleh akses terhadap kebutuhan pokok lainnya, dibuka selebar-lebarnya. Intinya, segala sesuatu aturan yang membuat rakyat terbebani dicabut. Siapa pun terlibat kejahatan termasuk kalangan keluarga sekali pun, pastilah dihukum sesuai aturan berlaku.
Namun, ternyata tak selamannya roda pemerintahan berjalan seperti apa yang diharapkan semua orang. Memasuki tahun kedua kekuasaannya, sang raja mulai memperlihatkan perubahan. Banyak kebijakannya bertolak belakang dengan apa yang jadi komitmennya salama ini. Malahan dia mulai tergoda untuk meraup harta sebanyak-banyaknya, dan tak sengan-sengan menghilangkan siapa saja yang menghalang-halanginya.
Perubahan 180 derajat sang raja, berawal dari kedatangan sejumlah investor yang ingin berinvestasi di sektor perkebunan, pertanian, pertambangan dan lainnya. Awalnya, sang raja tak tergoda dengan bujuk rayu sang pengusaha. Dia seakan teguh dengan komitmennya. “Apa pun bentuk kebijakan, kepentingan rakyat dan keseimbangan lingkungan harus terjaga,” sebutnya.
Sadar sang raja tak mau dipengaruhi. Sang pengusaha itu tak menyerah begitu saja. Keluarga kerajaan dan orang kepercayaan raja pun didekati. Bahkan, mereka tak segan-segan memberikan hadiah super mewah. Tak terkecuali, “menservis” mereka dengan memberikan wanita-wanita cantik super seksi yang siap melayani kapan pun waktunya. Awalnya, banyak juga yang menolaknya. Namun lama kelamaan, mereka pun tergoda.
Sampai akhirnya, hati sang raja luluh juga. Semua itu, tak terlepas dari bisikan orang terdekatnya yang terlebih dahulu dipengaruhi sang investor. Kini, sang saja siap pasang badan mem-back up apa pun kepentingan sang investor. Seluruh pengawal pun juga diperintahkan berdiri di belakang investor. “Siapa pun yang berani menghalang-halangi mereka (investor, pen), tangkap dan penjarakan,” perintah sang raja.
Sejak itulah ketentraman Negeri Asap berubah total. Rakyat dihantui ketakutan. Nyawanya bisa saja melayang kapan pun juga. Lahan rakyat, hutan dan lainnya disulap jadi perkebunan, pertanian dan lainnya. Upeti terhadap rakyat jelata pun, kini kembali diadakan. Bila tak sanggup membayar, harta disita. Kemiskinan dan pengangguran pun meraja lela di negeri yang dulunya tentram tersebut.
Tanpa disadari sang raja, tindakan “menganak-emaskan” investor ternyata mulai merugikan kerajaannya. Atas alasan membuka lahan perkebunan hutan dibakar. Belum lagi, lubang-lubang besar bekas-bekas pertambangan ditinggal begitu saja. Sungai jadi tercemar. Ikan-ikan jadi mati dan penyakit pun meraja lela di Negeri Asap. Bahkan, matahari, bulan dan bintang seakan enggan menyapa penduduk Negeri Asap. Kini, semuanya tertutup asap. (*)
pandeka2005@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s