Pemda Abai, Populasi Kuda Kritis

Fakultas Peternakan Unand Helat Semiloka
kudaPadang, Padek—Dari dulunya, Sumbar dikenal sebagai salah satu provinsi sentra peternakan kuda terbesar di Indonesia bahkan ASEAN, khususnya kuda pacuan. Setidaknya, kenyataan ini ditandai dengan banyak iven pacuan kuda dihelat di sejumlah kabupaten/kota di Sumbar. Sayangnya, pemerintah daerah kurang serius mengembangkan potensi satu ini, sehingga berimbas pada makin menurunnya populasi kuda di Sumbar.
Belakangan, berdasarkan sejumlah sumber, populasi kuda di Sumbar tinggal sekitar 600 ekor saja. Kendati masih bisa diperdebatkan, namun yang pasti populasi kuda beberapa tahun terakhir mengalami penurunan signifikan. Populasinya semakin berkurang, seiring kian terbatasnya lomba pacuan kuda, plus kurang berperannya kuda sebagai alat transportasi di Sumbar.
”Kondisi ini kian bertambah parah, seiring minimnya perhatian pemerintah daerah. Setidaknya, bisa dilihat sendiri berapa alokasi dana yang diajukan dalam APBD provinsi atau pun kabupaten/kota di Sumbar. Pengembangan ternak kuda ini ditempatkan pada prioritas nomor sekian,” sebut Dekan Fakultas Peternakan Unand Dr Jafrinur kepada Padang Ekspres, Sabtu (7/11).
Di Bukittinggi contohnya. Menurut Jafrinur, semasa kepemimpinan Wali Kota Jufri, perhatian pengembangan kuda masih terbilang tinggi. Tak sekadar berkomitmen mengembangkan ternak kuda. Namun, dia benar-benar dia tunjukan di lapangan. Termasuk, rutin mendorong iven pacuan kuda di Bukit Ambacang.
”Begitu juga sewaktu kepemimpinan mantan Wali Kota Sawahlunto Amran Nur. ”Penggila” kuda ini juga rutin mendorong terealisasinya iven-iven pacuan kuda. Tak sekadar menggemari, beliau terjun langsung membina dan ambil bagian di setiap perlombaan dengan mengikutsertakan kudanya. Selepas itu, kurang terlihat adanya kepala daerah benar-benar berkomitmen mengembangkan ternak kuda di Sumbar,” sebut Jafrinur.
Khusus Kota Padang misalnya. Dulu, tambah Jafrinur, terdapat gelanggang pacuan kuda di kawasan Tunggulhitam. Namun, seiring jarangnya iven pacuan kuda dilaksanakan di gelanggang itu, kini gelanggang itu tinggal nama. Kondisi hampir sama juga terjadi di beberapa gelanggang lainnya . ”Belum lagi kian terpinggirkannya tranportasi bendi di daerah ini,” sebut Jafrinur.
Nah, merujuk kenyataan ini, Fakultas Peternakan Unand mengangkat sekaligus mencarikan solusi terhadap persoalan ini dengan menghelat seminar dan lokakarya ternak kuda di aula Dekanat Fakultas Peternakan Unand, Selasa (10/11). Semiloka ini menghadirkan tiga narasumber. Selain menghadirkan pakar ternak kuda IPB Prof Dra R Iis Arifiantini MS, juga Ketua PP Pordasi Muhammad Chaidir Saddak, serta perwakilan Dinas Peternakan Sumbar. ”Bagaimana pun juga, kita tak boleh melupakan sejarah perkudaan di Sumbar,” sebut Jafrinur didampingi seksi acara Erwin Awal. (rdo)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s