Pertumbuhan Ekonomi Sumbar di Bawah Nasional

Elfindri: Bupati/ Wali Kota Jangan hanya Menunggu
Padang, Padek—Pelambatan ekonomi global diikuti melemahnya konsumsi masyarakat, kian membuat pertumbuhan ekonomi (PE) Sumbar terperosok. Bahkan untuk kali pertamanya sejak lima tahun terakhir, PE Sumbar berada di bawah PE nasional pada triwulan III 2015.
Data Bank Indonesia, Senin (30/11), PE Sumbar pada triwulan III hanya tumbuh sebesar 4,71% (year to year) atau lebih rendah dibandingkan PE nasional mencapai 4,73 % (yoy).
“Kondisi ini tak terlepas dari menurunnya konsumsi rumah tangga dan kinerja ekspor, sehingga berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi triwulan III 2015,” ujar Kepala Perwakilan BI Sumbar Puji Atmoko dalam siaran persnya.
Dia menyebutkan, pelemahan konsumsi rumah tangga terjadi seiring menurunnya daya beli dan pendapatan masyarakat. Turunnya harga komoditas internasional dan permintaan ekspor dari negara mitra dagang utama, berdampak pada penurunan kinerja ekspor.
Dari sisi lapangan usaha, tambahnya, perlambatan ekonomi juga terjadi pada hampir semua lapangan usaha dominan di Sumbar, yaitu perdagangan, transportasi dan pergudangan, dan industri pengolahan. “Semua ini seiring dengan menurunnya permintaan dan konsumsi domestik,” sebutnya.
Terkait laju inflasi tahunan, katanya, mulai memperlihatkan grafik penurunan pada triwulan III 2015 dibandingkan triwulan sebelumnya. Inflasi Sumbar tercatat sebesar 6,25% (yoy) atau menurun 8,17% (yoy) dibandingkan triwulan II. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan laju inflasi nasional dan rata-rata provinsi di Sumatera. “Menurunnya tekanan inflasi akibat pasokan bahan pangan khususnya bumbu-bumbuan, relatif terjaga,” jelasnya.
Menurunnya permintaan masyarakat terhadap sejumlah barang dan jasa seusai periode Idul Fitri plus dampak melemahnya ekonomi, juga berpengaruh terhadap penurunan inflasi pada triwulan laporan.
Dari sisi perbankan, menurut Puji, pertumbuhan aset, dana pihak ketiga (DPK) dan kualitas kredit, juga menurun. Berbeda dengan pertumbuhan kredit yang relatif masih baik. Penurunan kualitas kredit perbankan ini berimbas pada melambatnya pertumbuhan aset bank umum. “Namun seiring mulai meningkatnya realisasi belanja pemerintah daerah dan penarikan sejumlah deposito perusahaan, berdampak pada menurunnya dana pihak ketiga,” jelasnya.
BI juga mencatat bahwa pertumbuhan kredit tinggi terjadi pada beberapa sektor korporasi, seperti sektor industri pengolahan dan sektor pertanian. Namun, kinerja kredit pada sektor lainnya, seperti industri perdagangan, cenderung melambat.
“Kondisi ini akibat penurunan kinerja ekspor dan pelemahan daya beli masyarakat seiring masih berlanjutnya perlambatan ekonomi. Biarpun begitu, fungsi intermediasi bank umum di Sumbar masih membaik dan tetap berada pada level tinggi. Setidaknya, tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) sebesar 139,4% pada triwulan III 2015,” ujarnya.
Namun, tambah Puji, peningkatan kredit ini belum disertai dengan membaiknya kualitas penyaluran kredit. Rasio non performing loans (NPL) kredit meningkat dari 3,0% pada triwulan II 2015 menjadi 3,1% pada triwulan III 2015. Peningkatan NPL lebih tinggi terjadi pada kredit UMKM dari 6,2% pada triwulan II 2015 menjadi 6,7% pada triwulan III 2015. Sedangkan NPL kredit mikro 3,0%, kredit kecil 6,5% dan kredit menengah 9,1%.
“Kita memprediksi pertumbuhan ekonomi Sumbar bakal membaik pada triwulan IV 2015 dengan kisaran 4,7%-5,1% (yoy),” ucapnya. Kondisi itu tak terlepas dari peningkatan konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah dan investasi.
“Lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, lapangan usaha konstruksi, lapangan usaha industri pengolahan, dan lapangan usaha transportasi dan pergudangan, diperkirakan menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi Sumbar pada triwulan IV 2015,” ujarnya.
Sedangkan laju inflasi Sumbar dari awal tahun cenderung menurun. Menurut Puji, akhir tahun ini diprediksi berada pada level terendah dengan kisaran 0,3%-0,7% (yoy). Itu karena terkendalinya pasokan bahan makanan, khususnya komoditas cabai merah seiring musim panen di sejumlah daerah pemasok.
Selain itu, tambahnya, juga dampak turunnya harga bahan bakar minyak (BBM), tarif dasar listrik (TDL), dan gas seiring dikeluarkannya paket kebijakan ekonomi pemerintah. “Secara tahunan, penurunan ini akibat beberapa faktor, seperti menurunnya daya beli masyarakat, membaiknya koordinasi program Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah (TPID),” ujarnya.
Begitu juga relatif tidak adanya kebijakan kenaikan harga-harga komoditas yang diatur pemerintah (administered price), adanya base effect dari kenaikan harga BBM bersubsidi akhir tahun 2014 lalu. Lalu, membaiknya pasokan beberapa komoditas pangan, seperti cabai merah, beras dan bawang merah.
Menyikapi penurunan PE Sumbar ini, ekonom asal Universitas Andalas (Unand) Prof Elfindri melihat, semua ini lebih banyak akibat tekanan eksternal dampak melambatnya ekonomi global. Terutama, jatuhnya harga komoditi ekspor utama Sumbar berupa karet dan cruide palm oil (CPO), udang dan seluruh sektor pertambangan.
“Harga udang justru turun sekitar -28,9%, harga CPO turun -19,11%, karet -19,9%. Hanya harga cokelat satu-satunya komoditas pertanian ‘seksi’ yang masih naik selama satu tahun terakhir, sekitar 310 US$/kg tahun 2014 menjadi 320 US$/kg,” ujarnya. Begitupun sektor pariwisata, juga mengalami penurunan.
Menyikapi itu, Elfindri menekankan agar bupati/wali kota lebih kreatif dan mendorong tumbuhnya proyek-proyek padat karya. “Jangan cuma menunggu program-program pusat dan provinsi. Di samping itu, lebih cepat mencairkan anggaran infrastruktur guna lebih menggairahkan perekonomian jelang tutup buku,” sebutnya.
Elfindri memprediksi PE Sumbar akan meningkat paling tinggi 5,5 persen pada triwulan IV menyusul banyaknya proyek pemerintah yang “kejar tayang” jelang akhir tahun. “Selama ini kecenderungannya memang seperti itu, triwulan IV PE meningkat dibandingkan tirwulan sebelumnya,” sebutnya. (ayu/rdo)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s