Masyarakat Inginkan Perubahan

Banyaknya calon incumbent bertumbangan pada pilkada serentak kali ini, menjadi perhatian sejumlah kalangan. Semua ini menunjukkan bahwa masyarakat menginginkan perubahan.
Pengamat Hukum dan Politik IAIN Imam Bonjol Padang Muhammad Taufik saat dihubungi Padang Ekspres, Kamis malam (10/12) memperkirakan, hal ini akibat para incumbent kurang diminati oleh pemilih. “Namun, faktor dominan mereka ditinggalkan, karena mereka dinilai kurang prestasi dalam memimpin daerah sebelumnya,” ungkap Taufik.
Hal itu, katanya, muncul akibat masyarakat ingin melihat proses demokrasi di luar intervensi politik baik dari sang calon maupun partai pengusung calon tersebut.
Dia mencontohkan Kota Bukittinggi. “Kota itu bisa menghadirkan pelajaran yang berharga pada kita, di mana figur dan partai sama-sama dikalahkan oleh calon perseorangan (independen),” jelas Taufik lagi.
Hal lain juga terjadi di Kabupaten Pesisir Selatan. Di daerah itu juga muncul tokoh baru. Di kabupaten tersebut, suara incumbent tampaknya kalah saing dengan perolehan suara calon baru. “Ini jelas menunjukan masyarakat butuh hal yang baru bagi daerahnya,” kata Taufik.
Kondisi di atas, menurut dosen IAIN Imam Bonjol Padang itu, juga akibat kurangnya inter-aksi pemimpin dengan masyarakat sewaktu menjabat. “Hal itu menjadikan mereka kurang dekat dengan masyarakat, ditambah lagi kurang prestasi dalam kepemimpinan mereka,” kata Taufik.
Di sisi lain, mantan gubernur Sumbar Irwan Prayitno memiliki pandangan tersendiri terhadap persoalan ini. Dia melihat semua ini tak terlepas dari karakter orang Minang yang tak mau puas. Setidaknya, terlihat dari dua kali pilkada di Sumbar, 2010 dan 2015 ini.
“Di dua pilkada itu, umumnya calon incumbent bertumbangan. Bila tahun 2010 hanya menyisakan bupati Pessel Nasrul Abit dan bupati Tanahdatar Shadiq Pasadigoe. Tahun ini, hanya menyisakan bupati Padangpariaman Ali Mukhni dan Bupati Agam Indra Catri. Intinya, masyarakat memang menginginkan yang baru,” sebutnya.
Inilah (tak mau puas, red), menurut Irwan, sudah menjadi karakter orang Minang. Misalnya, dalam hal pendidikan. Bila orang sudah cukup tamat sarjana, namun orang Minang ingin S-2 atau S-3. “Jadi, hal-hal seperti ini perlu dicermati juga bila ingin jadi pemimpin di daerah ini,” sebutnya. (zil/rdo)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s