Melihat Terobosan Pasangan Bupati-Wakil Bupati Termuda (1)

Akui Nol Pengalaman, tapi Punya Niat Baik
SUTAN RESKA1Pilkada serentak 2015 bermunculan calon pemimpin muda di seantero Nusantara. Calon Bupati Dharmasraya, Sumatera Barat, Sutan Riska, memecahkan rekor sebagai bupati termuda di Indonesia dengan usia 26 tahun. Raja Kotobesar ini menjungkalkan calon incumbent (petahana).
MINGGU (13/12) pagi, Jorong Tanahabang, Nagari Sungairumbai, Kecamatan Sungairumbai, Dharmasraya masih lengang. Begitu juga di rumah pribadi Sutan Riska Tuanku Kerajaan, calon bupati terpilih Dharmasraya. Begitu Padang Ekspres sampai di rumah raja bergelar Sultan Sri Maharaja Diraja, penjaga rumah mengatakan sang raja dalam perjalanan pulang dan mempersilakan untuk menunggu.
Tak lama kemudian, sebuah mobil Pajero Sport memasuki halaman rumah. Seorang pengawal turun dari pintu depan dan membukakan pintu belakang. Seorang pria berperawakan tinggi besar turun dari mobil.
Dialah Sutan Riska Tuanku Kerajaan. Berpasangan dengan Amrizal Dt Rajo Medan, dia diusung PDIP, Partai Hanura dan PAN pada pilkada serentak 2015 ini. Berdasarkan hasil hitung TPS (form C1) yang dilansir KPU di situs pilkada2015.kpu.go.id, Sutan Riska Tuanku Kerajaan-Amrizal Dt Rajo Medan memperoleh suara 61.775 (63,75 persen) mengalahkan incumbent Adi Gunawan dan Jonson Putra yang hanya memperoleh 35.122 suara (36,25 persen).
Bisa dipastikan, pasangan ini tinggal menunggu pelantikan pada awal 2016. Selisih suara yang terpaut jauh menutup celah sengketa pada pilkada Dharmasraya. Selain itu, rival mereka Adi Gunawan dan Jonson Putra sudah legowo, dan memberikan ucapan selamat kepada Sutan Riska Tuanku Kerajaan.
Ketika berbincang dengan Padang Ekspres, pria kelahiran Solok 27 Mei 1989 ini mengatakan, keputusannya maju pada pilkada Dharmasraya adalah wujud rasa keprihatinannya setelah melihat kondisi masyarakat di perbatasan Sumbar-Jambi itu.
Sebagai raja, dia sering didatangi masyarakat yang menyampaikan keluhan. Namun, dia hanya bisa membantu sebatas kemampuannya. Tak jarang dia harus mengelus dada dan geregetan apabila ada pengaduan masyarakat, namun dia tidak bisa mengatasinya.
Pengaduannya menyangkut biaya sekolah anak, biaya pengobatan, hingga sulitnya berurusan di suatu instansi. “Saya hanya bisa membantu uang. Kadang, saya bantu mengurusnya. Tapi, saya tidak bisa membantu dengan kebijakan,” ujarnya.
Dia sering miris mendapati masyarakat yang tinggal di perbatasan Sumbar dan Jambi ini harus kesulitan mendapatkan akses kesehatan. Suatu kali, Sutan Riska ketika mendampingi ibunya cuci darah ke RSUD Sawahlunto. Dia mendapati seorang anak membawa ibunya yang sakit dengan sepeda motor. Ibunya diikat dengan selembar kain panjang.
“Saya saja yang diberi titipan rezeki oleh Allah SWT, sangat berat bolak-balik menemani ibu ke RS untuk cuci darah dua kali seminggu. Bagaimana pula masyarakat biasa yang hidupnya pas-pasan,” ujar pria yang biasa dipanggil Tuanku ini.
Dia lantas mencari tahu jumlah warga Dharmasraya yang menjalani cuci darah di Sawahlunto. Ternyata, ada 25 orang. Ada juga cuci darah di Padang. Artinya, dua kali seminggu ada puluhan warga Dharmasraya menempuh perjalanan ratusan kilometer untuk mendapatkan layanan cuci darah.
Dia sempat mengusulkan pengadaan alat cuci darah kepada pihak terkait, namun belum dikabulkan. “Saya mengatakan kepada ibu saya, seandainya saya jadi bupati, tentu saya akan berusaha menyediakan alat cuci darah di Dharmasraya,” papar anak dari pasangan Rasul Hamidi dan Puti Jawanis ini.
Tanpa disadari, niat tulusnya membantu masyarakat membuat namanya mencuat ketika masyarakat berbincang tentang tokoh yang layak dicalonkan pada pilkada serentak 2015. Banyak tokoh partai, adat hingga tokoh masyarakat yang menghubungi dan memintanya maju pada pilkada Dharmasraya.
Awalnya, Sutan Riska belum memikirkannya secara serius. Namun, dari waktu ke waktu, desakan itu semakin kuat. Setelah berpikir matang-matang, dia pun meminta restu kepada ibunya. “Ibu saya menangis dan memeluk saya. Kata beliau, jika niat saya memang untuk membantu masyarakat, beliau mengizinkan dan akan mendoakan agar perjuangan saya berhasil,” kenang pengusaha SPBU ini.
Sejak awal memasang niat, jalan berliku harus dilalui Sutan Riska. Usianya yang masih 26 tahun menjadi perbincangan. Banyak pihak mencemoohnya. Memandang sebelah mata. Bahkan, disebut anak kemarin sore yang belum berpengalaman. Meski sudah mendapatkan partai yang akan mengusung, dia sempat kesulitan mencari pasangannya.
“Sejak pendaftaran hingga penetapan sebagai calon, banyak halangan dan rintangan. Itu membuat saya lebih dewasa dan menjadi cambuk agar lebih baik,” kenangnya.
Sadar lawan yang dihadapinya sangat berat, sejak memutuskan untuk maju, dia mulai bergerilya ke semua jorong dan nagari di Dharmasraya. Dia berbagi tugas dengan istrinya Dewi Lopita Sari dan keluarga besarnya blusukan ke pelosok-pelosok nagari meminta restu masyarakat.
Sutan Riska bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat, sedangkan istrinya mengikuti pengajian-pengajian dan majelis taklim. Sutan Riska menyadari bahwa dia belum berpengalaman dalam bidang pemerintahan. Namun, optimistis tidak akan gagap dalam menjalankan roda pemerintahan. Sebab, sejak lama dia sudah belajar dari mantan kepala daerah yang sukses di Sumbar.
Di antaranya, Shadiq Pasadigoe yang menjadikan Tanahdatar unggul dalam pendidikan, Syuir Syam sukses menjadikan Padangpanjang unggul di bidang kesehatan, Amran Nur yang sukses menjadikan Sawahlunto jadi kota wisata. Selain itu, tokoh-tokoh Dharmasraya, seperti mantan Bupati Dharmasraya Marlon Martua, mantan Wakil Bupati Syafrudin R, dan anggota DPR RI asal Sumbar juga menyatakan siap membantunya.
Menurut Sutan Riska, ada beberapa hal yang akan menjadi program prioritasnya dalam pembangunan Dharmasraya, yaitu pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan kebudayaan. “Bayangkan, saat ini pendidikan Dharmasraya berada pada posisi 17 dari 19 kabupaten/kota di Sumbar. Ini pekerjaan rumah yang harus dituntaskan. Saya bertekad menyediakan beasiswa sebanyak-banyaknya kepada anak usia sekolah di Dharmasraya,” ujarnya.
Di bidang kesehatan, dia bertekad menjadikan RSUD Sei Dareh jadi rumah sakit rujukan regional. Artinya, rumah sakit tersebut tidak hanya mengobati pasien asal Dharmasraya, namun pasien asal kabupaten atau provinsi tetangga.
“Kita ciptakan bagaimana masyarakat dari Sijunjung, Muarobungo Jambi, dan Kuantan Riau bisa berobat ke Dharmasraya, sekolah ke Dharmasraya, serta berwisata dan berbelanja ke Dharmasraya,” kata Direktur PT Putra Rumbai Mandiri ini.
Di bidang infrastruktur, Sutan Riska bertekad menjadikan Dharmasraya jadi kabupaten percontohan di bidang infrastruktur. Selama ini, dia melihat, banyak masyarakat Dharmasraya di daerah pedalaman yang memiliki rumah bagus, namun akses ke daerah mereka tidak ada.
“Mereka mengatakan kepada saya, soal hidup mereka sudah cukup, mereka hanya butuh infrastruktur dan jaringan seluler di wilayah mereka,” ujarnya.
Jika infrastruktur sudah memadai, menurut dia, barulah pariwisata Dharmasraya bisa dijual dengan maksimal. Berada di lintas timur Sumatera, Dharmasraya berpeluang menjadi daerah perdagangan dan pariwisata.
“Untuk pembangunan infrastruktur, kita bertekad menjadi percontohan di Sumbar. Ini akan kita wujudkan dengan menarik dana pusat sebanyak-banyaknya ke daerah,” ucap kader PDIP ini. (Hijrah Adi Sukrial—Dharmasraya/bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s