Dari Ujian Terbuka Program Doktor Denas Symond MCN

Ayah Berperan Vital Ubah Status Anak Gizi Kurang
denas123”Banyak kekhilafan dan kesalahan yang kita perbuat. Namun, kejahatan kita yang paling nista adalah kejahatan mengabaikan anak-anak kita. Melalaikan mata air hayat kita. Kita bisa menunda berbagai kebutuhan kita. Kebutuhan anak kita tidak bisa ditunda. Pada saat ini, tulang belulangnya sedang dibentuk, darahnya dibuat, dan susunan syarafnya tengah disusun. Kepadanya kita tidak bisa berkata “besok”. Namaya adalah “Kini!”
Begitulah kutipan ucapan penyair Chili Gabriela Mistral, peraih Nobel Sastra yang diutarakan Dr Denas Symond MCN ketika memberi sambutan seusai memastikan berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan penguji di aula Fakultas Kedokteran Unand, Rabu (3/2). Denas jelas bukan sembarangan mengutip ucapan penyair yang diterjemahkan dengan indah oleh sastrawan sekaligus penyair Indonesia kelahiran Bukittinggi, Taufik Ismail.
Denas berupaya mengambil padanan makna yang menekankan betapa pentingnya memberi perhatian terhadap tumbuh kembang anak. Orangtua bisa saja menunda memenuhi kebutuhannya terhadap sesuatu, namun tak begitu bagi anak. Ibarat ungkapan ”Indak ado kayu, janjang dikapiang”, menekankan bahwa orangtua harusnya bisa mengadakan apa saja guna memberi jaminan terhadap tumbuh kembang anak. Bila tidak, jelas bisa membuat tumbuh kembang anak-anak terganggu.
Nah, pesan inilah yang menjadi bahan kajian Denas dalam disertasinya berjudul ”Pengaruh Suplementasi Makanan Berbasis Lokal dan Optimalisasi Dukungan Ayah terhadap Perubahan Kadar Albumin, Hemoglobin, Immunoglobulin A, dan Antropometri pada Anak Gizi Kurang di Kabupaten Padangpariaman”. Kurang Energi Protein (KEP) pada anak balita, diakui Denas, tetap menjadi salah satu masalah gizi di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di Sumbar.
Secara nasional berdasarkan data 2013, menurut Denas, prevalensi balita gizi kurang mencapai 18,6%. Sedangkan di Kabupaten Padangpariaman tempat objek penelitian prevalensinya 14,3%. Penyebab utama kurang energi protein ini lebih kepada anak belum mendapatkan makanan yang baik dalam jumlah dan kualitasnya. Apakah energi, protein, zat besi, vitamin A, asam folat, vitamin dan mineralnya ”Termasuk, perawatan orangtua terhadap anak belum optimal,” ujar Denas.
Melalui penelitian bersifat quasi eksperiment pre-post test with control group design, Denas memusatkan penelitiannya di Nagari Tapakis, Ulakan dan Ketaping Padangpariaman Maret-Oktober 2015 lalu. Melibatkan 80 anak usia 2-4 tahun terkategori gizi kurang yang dibagi dalam empat kelompok. ”Saya sengaja memilih Nagari Tapakis dan Ketaping, selain akses ke sana (dari Padang, red) lebih dekat, juga karena memang fakta di lapangan banyak anak gizi kurang di sana. Rata-rata orangtuanya korban gempa 30 September 2009 lalu yang sengaja pindah ke sana atas pertimbangan akses ke Padang lebih dekat, tempat kerjanya,” jelas Denas.
Diakui Denas, kebijakan pemerintah menghentikan bantuan suplemen pemberian makanan tambahan (PMT), jadi salah satu pemicu masalah kurang gizi. Kondisi ini akibat kemampuan atau daya beli sebagian besar keluarga penderita kurang gizi tergolong rendah. Kondisi ini ditambah lagi dengan belum memadainya tingkat pengetahuan orangtua. Makanya, para orangtua ini tak memiliki cukup uang guna memenuhi standar gizi anak-anaknya. Lambat laun, merebaklah kasus anak gizi kurang.
”Nah, di sinilah perlunya diadakan pemberian makanan tambahan yang terjangkau dari segi ekonomi tanpa mengurangi kandungan gizinya. Selain itu, juga harus aman dikonsumsi bagi penderita kurang gizi, serta efektif meningkatkan pertumbuhan dana daya tahan tubuh. Dalam penelitian ini, saya menggunakan tempe sebagai bahan utama. Pasalnya, berdasarkan kajian Almatsier tahun 2005, tempe dapat mencegah anemia dan fortifikasi ZN yang berperan penting dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan memperbaiki nafsu makan,” kata Denas.
Di samping itu, Denas juga memanfaatkan umbi bengkuang terbilang kaya serat pangan dan berpotensi jadi sumber prebiotik, sehingga baik bagi kesehatan terutama imunitas. Selain itu, juga digunakan tepung beras merah selaku sumber energi. Bahan makanan inilah yang diolah menjadi suplemen makanan tambahan, berbentuk kue kering bahan lokal. Selain kue kering bahan lokal ini, Denas juga memanfaatkan biskuit buatan pabrik.
Dalam disertasi ini, Denas melakukan empat perlakukan terdiri dari, pemberian PMT lokal, biskuit, kombinasi lokal dan peran ayah, serta kombinasi biskuit plus peran ayah. Ternyata, berdasarkan hasil penelitian Denas ini, terbukti peran ayah berperan penting dalam mendorong ketercukupan gizi anak. Tentunya, lewat kepatuhan ibu dalam mengatur asupan gizi anak, sekaligus mendorong kepatuhan anak dalam menerima makanan. ”Selain itu, dukungan ayah memberi stressor terhadap sel-sel otak. Muara ini semua, mampu mempengaruhi status gizi seseorang,” sebutnya.
Dalam hal ini, Denas menekankan bahwa perlu diberikan penerangan pada ayah dalam penanggulangan anak balita kurang gizi berupa; Pertama, asupan gizi anak, terdiri dari pentingnya anak mendapatkan porsi makanan prioritas dalam keluarga, makan bergizi tidak hanya bersumber dari daging hewani, tapi makanan bersumber dari kacang-kacangan juga mengandung gizi tinggi. ”Kedua, penyakit infeksi, terdiri dari kebersihan diri anak dan lingkungan rumah sangat penting guna mencegah cacingan. Lalu, ayah juga perlu diberi pengetahuan soal pentingnya obat cacing sebagai program rutin bagi anak kurang gizi,” ujarnya.
Hadir dalam kesempatan itu Wakil Rektor IV Dr Ir Endry Martius MSc, Dekan Fakultas Kedokteran Dr dr Masrul MSc SpGK, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Prof dr Nur Indrawati Lipoeto MSc PhD SpGK, Promotor Utama Prof Dr dr Fadil Oenzil PhD SpGK, Ketua Program Studi S-3 Ilmu Kedokteran Pascasarjana Unand Prof Dr dr Yanwirasti PA (K) dan lainnya. Endry Martius mengucapkan selamat kepada Denas. (Rommi Delfiano)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s