Huthayfa Nabeel Iesa Jabari, Mubalig Palestina

Galang Dana dari Masjid ke Masjid
palestinaPenindasan berkepanjangan berujung pada genosida bangsa Palestina yang dilakukan negara Zionis Israel, tak lantas mengubur harapan negeri para nabi itu. Selain angkat senjata, sebagian di antara mereka berjuang dari masjid ke masjid menghimpun bantuan. Salah seorangnya bernama Huthayfa Nabeel Iesa Jabari, 25, delapan hari terakhir mengunjungi Sumbar. Bagaimana perjuangannya?
SEORANG bocah tengah berlari menuju sekolah. Dengan napas tersengal, dia memasuki kelasnya yang ternyata sudah dimulai proses belajar. Dia terlambat masuk sekolah. Tanpa banyak bertanya, sang guru langsung memukul tangannya. Air matanya pun menetes.
Ketika bel berbunyi, tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar, dia bergegas menuju rumahnya yang sudah tinggal puing. Sang kakak yang sedianya masuk siang, sudah lama menunggu untuk gantian mengenakan seragam sekolah yang dikenakan sang adik. Alhasil, dia pun terlambat ke sekolah sehingga harus menerima sanksi dari guru.
Sampai suatu kali, sang guru melintas di depan rumah kedua pelajar miskin itu. Hatinya terenyuh melihat kondisi rumah kedua muridnya itu. Esoknya, seperti biasa, kedua pelajar miskin itu kembali terlambat. Tanpa diminta, mereka mengulurkan kedua tangannya untuk dipukul sang guru. Namun kali ini reaksi sang guru berbeda. Dia menghampiri pelajar itu dan memeluknya.
Begitulah cuplikan video mengisahkan bagaimana jeratan kemiskinan memamah negara itu akibat perang berkepanjangan. Video itu sengaja diputar Huthayfa Nabeel Iesa Jabari di hadapan siswa SDIT dan SMPIT Adzkia, majelis guru dan orangtua siswa di masjid kompleks Yayasan Adzkia Sumbar, kemarin (14/6). Dia ingin memberi gambaran seperti inilah penderitaan rakyat Palestina.
“Saya ingin menggugah semua orang, beginilah sebetulnya kondisi masyarakat Palestina sekarang ini. Setiap hari, paling kurang 10 orang pemuda Palestina ditangkapi Israel. Mereka dihukum 5-10 tahun tanpa proses yang jelas,” sebut pria lajang yang baru dua bulan ini mengambil program doktoral jurusan akuntansi di Universitas Malaya, Malaysia.
Peraih lisensi/izin dari ulama/syekh Palestina menggalang dana untuk membantu penghidupan janda dan anak-anak korban perang ini, tak mengharapkan apa-apa dari kegiatannya ini. Dia hanya terpanggil menginformasikan kepada semua kalangan soal kondisi riil Palestina saat ini, terutama kebengisan Israel.
Selaku putra kelahiran Kahalil, dekat Jalur Gaza, Huthayfa Nabeel Iesa Jabari merasakan sendiri bagaimana aksi genosida bangsa Palestina yang dilakukan Israel. Bagaimana pula, banyak di antara putra-putra Palestina berguguran, atau terpaksa mengasingkan diri ke luar Palestina. Huthayfa Nabeel Iesa Jabari, termasuk salah seorangnya.
Dia terpaksa menghabiskan waktunya di Yordania. Di negara inilah Huthayfa Nabeel Iesa Jabari melanjutkan pendidikan strata-1 dan strata-2. Walau tersisih, dia tetap menjalin komunikasi dengan keluarga dan teman-temannya di Palestina melalui media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan lainnya.
Panggilan jihad (menghimpun dana) ke Indonesia, khususnya Sumbar, dia dapatkan setelah dihubungi aktivis KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina). Aktivitas itu dilakukannya sejak pertama Ramadhan sampai kemarin. Selama delapan hari di Sumbar, dia mengunjungi Padang, Pariaman, Bukittinggi, Payakumbuh, Agam, Pasaman Barat, Tanahdatar, dan Padangpanjang.
Selama di Sumbar, aktivitas Huthayfa Nabeel Iesa Jabari diisi dengan mengunjungi sejumlah masjid, memenuhi undangan kepala daerah dan mendatangi sekolah-sekolah. Meski jadwal relatif padat harus dijalaninya, namun tak membuat semangatnya mengendor. Setiap kali menghadiri pertemuan itu, seakan semangatnya bertambah melihat respons yang diperlihatkan jamaah atau pun siswa.
Sampai hari terakhir, aksi penggalangan dana yang dilakukan Huthayfa Nabeel Iesa Jabari bersama Dr Ahmad Shalaheldin Saleh Iesa (doktor Pendidikan Yordania) yang terlebih dahulu meninggalkan Sumbar, setidaknya berhasil dihimpun dana sekitar Rp 1 miliar. Bantuan ini langsung diserahkan ke Palestina melalui KNRP Pusat.
Soal kemungkinan dia berjuang angkat senjata, Huthayfa Nabeel Iesa Jabari menyebut peranan masing-masing putra Palestina sudah dibagi-bagi.”Saya ditunjuk berjuang melalui cara ini (menggalang dana, red). Makanya, saya harus siap diminta untuk menggalang dana ke mana pun, termasuk di Sumbar,” kata dia.
Bendahara KNRP Sumbar, Darman mengatakan, aksi penggalangan dana ini memang rutin dilakukan setiap tahun. “Kita kan tahu bagaimana kondisi Palestina sekarang ini, makanya lewat penggalangan dana dan doalah yang memungkinkan bisa kita lakukan membantu rakyat Palestina,” ujar dia. (rdo)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s