Berburu Lailatul Qadar di Mekkah

Djohermansyah Djohan—Mantan Dirjen Otoda Kemendagri
DUA tahun lalu, momen Ramadhan begitu spesial saya jalani bersama istri. Tepatnya 10 hari sebelum Lebaran 1435 Hijriah lalu. Ya, waktu itu saya dan istri memutuskan mengikuti paket umrah. Kendati relatif singkat (10 hari), namun saya betul-betul merasakan bagaimana suasana berpuasa sesungguhnya selama di sana.
Nuansa yang bertolak belakang dengan apa yang saya rasakan selama berpuasa di Indonesia. Biasanya bila sudah 10 hari terakhir Ramadhan, saya kesulitan untuk fokus menjalani ibadah. Bukan semata-mata akibat pekerjaan di kantor, namun lebih banyak mengikuti kegiatan yang di luar perencanaan. Salah satunya, tentu mengikuti buka puasa bersama dengan berbagai instansi, kolega, angkatan sekolah dan lainnya. Akibatnya, Shalat Tarawih pun kerap dilaksanakan di rumah.
Belum lagi, memikirkan tunjangan hari raya (THR), berbelanja buat kebutuhan Lebaran ataupun mempersiapkan mudik ke Padang. Setelah orangtua meninggal, agenda mudik memang tak lagi “wajib” bagi saya. Kalaupun mudik, ya biasanya beberapa hari seusai Lebaran menunggu pemudik lain balik. Bila tidak begitu, pastilah macet di mana-mana.
Yang selama ini membuat saya prihatin, masjid-masjid justru makin sepi jamaah pada 10 terakhir Ramadhan. Sehingga ada guyonan lebih banyak tiang masjid ketimbang jamaahnya.
Selama umrah di Mekkah, saya bersama istri bisa lebih fokus beribadah. Kebetulan hotel tempat saya menginap juga dekat dengan Masjidil Haram. Cukup berjalan kaki. Hal yang sama juga dilakukan jutaan jamaah lainnya dari seluruh dunia. Dalam pikiran mereka, hanya memikirkan ibadah saja.
Saya pun begitu, hampir seluruh waktu saya lebih banyak digunakan untuk beribadah. Mau tak mau, saya pun larut beribadah dengan jamaah lainnya. Selama saya menjalankan ibadah puasa sejak kelas 1 sekolah rakyat (SR atau SD) di Padang, baru kali inilah saya merasakan bagaimana berpuasa seutuhnya.
Waktu-waktu berbuka ataupun sahur, menjadi momen begitu berkesan bagi saya. Shalat Magrib sampai Shalat Tarawih berjamaah. Masjidil Haram tetap ramai dipadati jamaah yang menjalankan iktikaf. Terutama pada malam-malam ganjil menanti lailatul qadar.
Jamaah makin sesak pada malam ke-27 Ramadhan. Banyak orang meyakini, malam ke-27 adalah malam penuh keberkahan. Setelah dua tahun, keinginan menjalani ibadah puasa di Mekkah, kembali membuncah. Bila ada rezeki dan Allah SWT mengabulkannya, saya dan istri berniat kembali umrah ke Mekkah.
Saya beruntung memiliki orangtua yang berlatar belakang kuat beragama. Nilai-nilai agama mulai ditanamkan sejak berusia dini. Masih melekat di benak saya ketika dinasihati bunda karena diam-diam ingin membatalkan puasa. “Anak laki-laki harus kuat. Kita harus merasakan kesusahan dan kesulitan orang tak berpunya lewat berpuasa.” Begitu nasihat ibu saya pada masa-masa berat bagi Sumbar setelah pecahnya PRRI.
Sejak mendapat nasihat itu, sejak kelas I SR sampai sekarang saya tak pernah membatalkan puasa bila tidak sakit. Termasuk waktu kuliah di Amerika. Kendati masa berpuasa sampai pukul 20.00, tak membuat saya lelah dan membatalkan puasa. (rdo)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s