Archandra Tahar

Menteri ESDM Archandra Tahar--RAKA DENNY/JAWAPOS
Archandra Tahar

Nyaris tak ada yang menyangka, namanya tiba-tiba menyentakkan publik negeri ini. Bak meteor jatuh, keberadaannya pun langsung diburu. Tak urung, berdasar hasil pelacakan mesin serba tahu, Google, kata kunci menggunakan namanya terbanyak di-searching.
Dari sebelumnya tak masuk dalam radar perbincangan para elite politisi negeri ini, kini dia menjadi obrolan paling menarik diperbincangkan. Ada yang meragukan, memandang sebelah mata dan menganggapnya terlalu muda mengelola salah satu institusi yang memberikan kontribusi besar bagi keuangan negeri ini.
Tak hanya level di nasional, namanya juga jadi perbincangan di kampung halamannya. Primordial kedaerahaan pun menguat. Ada mengklaim dia orang Padang, karena memang rumah orangtuanya berada di Tabing, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Namun warga kampung asalnya di Pariaman pun tak kalah garangnya, label anak nagari pun disematkan.
Begitu juga teman-temannya sewaktu sekolah di taman kanak-kanak, sekolah dasar, SMP, dan SMA pun, turut bangga. Sampai-sampai teman alumninya di SMA 2 Padang bersama jajaran pimpinan SMA secara khusus menggelar halalbihalal, sekaligus syukuran seiring salah seorang alumninya terpilih jadi menteri.
‘Si anak hilang’ yang dulunya tidak pernah dianggap dan dihargai di negeri bahkan kampung halamannya sendiri itu, kini dianggap pahlawan dan dielu-elukan semua orang. Semua orang tiba-tiba menganggapnya saudara, sahabat, paman, mamak, orang kampung dan sebutan lainnya.
Ya, nama yang begitu bersinar terang seterang kilauan mutiara itu tak lain Archandra Tahar. Setelah puluhan tahun berkiprah di negeri Obama, kini dia dipanggil mengabdi di negeri sendiri. Bukan pilihan mudah tentunya bagi pria dua anak ini. Bukan apa-apa, bicara penghasilan ataupun kehormatan, jelas bukan tempatnya di Indonesia.
Malahan, banyak ilmuwan muda yang dikuliahkan menggunakan uang negara dan diharuskan kembali seusai studinya selesai, banyak di antara mereka enggan pulang. Tentunya, banyak alasan bagi mereka malas pulang, di samping iming-iming penghasilan wah bekerja di luar negeri, juga ada pula yang beralasan ingin kehidupan lebih tenang. Tak ingin diuber-uber aparat, padahal apa yang dilakukannya itu hanya demi kemajuan negara.
Mereka tak ingin seperti Dasep Ahmadi, inovator mobil listrik yang akhirnya harus mengurut dada dan kecewa berat. Perjuangan penuh pengorbanan yang dia lakukan demi memajukan teknologi mobil listrik di negerinya sendiri, berakhir sia-sia. Bukannya mendapat penghormatan, malahan dia ditetapkan jadi tersangka dan harus duduk di kursi pesakitan.
Belum lagi koleganya sesama putra petir sesuai sebutan Dahlan Iskan, Ricky Elson. Semangatnya mengabdi di negeri sendiri mengembangkan mobil listrik, juga berakhir kecewa berat. Nyaris tak ada penghargaan terhadap jerih payah putra Padang ini. Dengan terpaksa, akhirnya dia mengambil tawaran negara jiran guna mengembangkan teknologi mobil listrik di sana.
Sebetulnya hal yang sama juga dialami mantan presiden BJ Habibie. Keinginannya mengembangkan industri dirgantara di Indonesia, bak bertepuk sebelah tangan. Kendati bisa membuat bangga negeri ini seusai berhasil membuat dan menerbangkan pesawat CN250, namun selepas itu namanya nyaris tenggelam.
Namun berkat ketabahan dan komitmen kuat mengabdi pada negeri ini, dia berhasil memberi pengabdian bagi negeri ini sampai sekarang.

Kini, pilihan itu sudah diambil Archandra Tahar. Dengan menyepakati permintaan Presiden Jokowi dengan menjadi menteri ESDM, berarti Archandra Tahar sudah siap berkorban tak sedikit. Dari penghasilan misalnya, dari gaji lebih Rp 1,5 miliar, kini dia hanya menerima gaji sekitar Rp 80 juta saja per bulan.
Kita tentu tak berharap pengorbanan yang diambil Archandra Tahar, berakhir sia-sia pula. Malahan sebaliknya, Archandra Tahar bisa berbuat lebih pada negeri ini. Etos kerja yang sudah dia bangun sewaktu bekerja di Houston dulu, bisa pula ditularkan di negeri ini. Selamat bekerja Uda Archandra Tahar. (*)
Email: pandeka2005@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s