Rizanda Machmud, Guru Besar Ilmu Kesehatan

Kampanyekan Peduli TB lewat Randai
rizanda12Bagi sebagian orang, penyakit tuberculosis (TB) menjadi momok menakutkan. Tak jarang, pasien TB “dibuang” dari kampung halamannya atau paling kurang dikucilkan. Prof Dr dr Rizanda Machmud Mkes, guru besar Ilmu Kesehatan Masyarakat, justru intens menyuarakan perlunya memperhatikan pasien TB.
DITEMUI seusai prosesi wisuda III Universitas Andalas (Unand) di Rektorat, Kampus Unand Limaumanih, Pauh, Padang, Sabtu (27/8), Rizanda menyambut ramah Padang Ekspres. “Apa yang bisa saya bantu,” ujar dia.
Setelah Padang Ekspres mengutarakan maksud kedatangan, ibu tiga anak ini antusias menceritakan seputar TB.
Awal mula dia terpanggil meneliti sekaligus mengampanyekan perlunya semua kalangan, termasuk pemerintah memberikan perhatian kepada pasien TB, tak terlepas dari keprihatinannya melihat derita pasien TB. Sudahlah menderita penyakit berbahaya, mereka pun dikucilkan. Bahkan oleh keluarga sendiri.
“Beranjak dari situ, saya memulai penelitian yang dikerjasamakan dengan USAID (United States Agency for International Development/ Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat, red). Bukan hanya di Sumbar, penelitian juga dilakukan di Sumut dan DKI Jakarta,” ujar peserta summer course di Harvard School of Public Health itu.
Khusus Sumbar, penelitian dilakukan Padang, Padangpariaman, Tanahdatar, Pasaman, Kabupaten Solok, dan Kepulauan Mentawai, menjadi daerah objek penelitian. “Keenam daerah ini, berdasarkan survei menjadi daerah paling banyak pasien TB-nya dibandingkan kabupaten/kota lainnya,” ujar doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia itu.
Bukan semata-mata alasan itu. Kriteria sulit dijangkau, terpencil, banyak gizi buruk dan kemiskinan yang tinggi, juga menjadi bahan pertimbangan. “Berdasarkan survei, ya daerah-daerah seperti itu paling banyak pasien TB,” jelas Rizanda yang juga Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Unand.
Bukan hal mudah bagi Rizanda melaksanakan penelitian ini. Terlebih di tengah masyarakat, imej bahwa orang berpenyakit TB ini terkena guna-guna masih kental. Belum lagi anggapan bahwa penyakit ini obatnya hanya kematian saja.
“Makanya, banyak kasus yang ditemukan di lapangan, pasien TB ini cenderung dikucilkan masyarakat. Parahnya, mereka umumnya berlatar belakang keluarga tidak mampu,” tutur perempuan kelahiran Jakarta, 8 Desember 1967 itu.
Salah satu kasusnya, seorang janda beranak tiga diceraikan suaminya setelah diketahui positif terjangkit TB. Ada juga sekeluarga diusir dari kampungnya, akibat masyarakat tak ingin terjangkit penyakit yang bisa menular lewat udara ini.
“Kalau diuraikan satu-satu, sedih mendengarnya. Meski obat bagi pasien TB ini sudah gratis, ternyata belum juga menyelesaikan masalah. Harusnya, pemerintah lebih berperan di sini,” ucapnya.
Di salah satu kasus lain, misalnya. Seorang penjaja makanan di Pasar Raya, Padang yang positif terkena TB, enggan berobat secara rutin ke puskesmas. Padahal, obatnya gratis. “Waktu itu, kader kita sempat kewalahan mencarinya. Soalnya, tetangganya hanya bilang dia berjualan makanan di Pasar Raya,” tukas istri dari Ir Asri Mukhtar MM.
Mujur, ibu itu ketemu juga. Kepada para kader, dia mengaku bila berobat ke puskesmas, pastilah tak bisa berjualan. Bila sudah begitu, keluarganya tak bisa makan seharian. ”Kalau sudah begini, ya bagaimana lagi. Makanya, memang betul ajaran nabi bahwa orang miskin itu harus kita datangi, bukan sebaliknya,” ujarnya lirih.
Tak sekadar melakukan penelitian, Rizanda juga gencar mengampanyekan kesadaran bagaimana sebetulnya penyakit TB itu. Dalam mengampayekan ini, Rizanda mendekati tokoh masyarakat. “Kita kan tahu, kalau di Sumbar itu peranan tokoh masyarakat masih kuat. Itulah dasar kita mendekati tokoh masyarakat ini,” ujar perempuan yang pernah menjadi dokter PTT (pegawai tidak tetap) pada Puskesmas Andalas, Padang itu.
Khusus di Mentawai, pola pendekatan Rizanda lain lagi. Di sini, dia bekerja sama dengan pendeta. Sebab, peranan tokoh agama di Mentawai masih kuat. “Paling kurang penduduk yang tinggal di daerah terisolir dan rentan TB, seminggu sekali sembahyang ke gereja,” ujar dia.
Media lain yang digunakan Rizanda, adalah memanfaatkan tukang dendang randai. “Khusus dalam hal ini, saya hanya memberikan poin-poin untuk disampaikan ke masyarakat lewat dendang randai. Nantinya, tukang dendang melagukannya dalam randai,” kata Rizanda.
Kampanye lewat media randai ini, dia lakukan di Kabupaten Solok. Pasalnya, tradisi randai masih hidup di tengah masyarakat setempat. “Bukan hanya itu, kita juga memanfaatkan media radio, media cetak dan lainnya dalam mengampanyekan peduli TB ini,” ujar Rizanda.
Kegigihan Rizanda mendorong semua kalangan peduli TB, juga melalui pendekatan anggaran kepada pemerintah daerah, terutama terhadap keenam daerah yang jadi objek penelitian. Lewat pendekatan tak kenal lelah, akhirnya keenam daerah ini bersedia meningkatkan alokasi anggarannya terhadap penanggulangan penyakit ini. Setidaknya, terlihat dari alokasi anggaran di APBD masing-masing daerah. “Grafiknya meningkat dua-tiga tahun terakhir,” tukas Rizanda.
Yang menonjol dilakukan Pemkab Tanahdatar. Bila di awal penelitian tahun 2013, alokasi anggaran hanya Rp 70 juta, tahun ini meningkat jadi Rp 157,9 juta. Begitu juga Padang, dari Rp 21 juta jadi Rp 42,9 juta. “Kita tentu berharap, semua peduli terhadap penyakit satu ini. Bukan hanya orang miskin bisa terjangkit penyakit ini, orang kaya pun rentan terjangkit,” ingat Rizanda yang sudah mempresentasikan hasil penelitian ini sampai Amerika Serikat.
Tetap jadi Ibu
Kendati terbilang sibuk, bukan berarti Rizanda melupakan peranannya sebagai istri dan ibu bagi ketiga anaknya. Setiap akhir pekan, Rizanda meluangkan waktunya hanya untuk melayani keluarga.
“Kadang menyempatkan jalan-jalan keluar daerah. Bila sudah begitu, tugas saya hanya melayani mereka,” tukas Rizanda yang mengaku tak terlalu memilih dalam berpakaian. Baginya, hal paling penting adalah bagaimana orang bisa nyaman memandang pakaian yang dikenakan.
Guna mengajarkan anak-anaknya bersosialisasi pada masyarakat, sang profesor juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan di kompleks perumahan. “Saya pernah menjadi Ketua TPA Al Amin dan pelaksana Pesantren Ramadhan di kompleks tempat tinggal. Alhamdulillah, kita pernah menjadi yang terbaik melaksanakan Pesantren Ramadhan di Padang. Senang rasanya,” ucapnya. (rommi delfiano—padang)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s