Panutan

topengMENCARI figur panutan di negeri penuh kepalsuan ini, gampang-gampang susah. Terkadang banyak di antara kita terpukau setelah melihat penampilan seseorang di hadapan publik. Dia seakan tanpa cela, suka mengasihi dan suka pula berbuat bagi sesama, namun setelah ditelisik barulah kita tahu seperti apa sosok dia sebenarnya.
Dimas Kanjeng, misalnya. Siapa tak kenal sosok penuh kontroversi satu ini. Kemampuan “spritual” ditopang kemahirannya “menguasai” pemikiran lawan bicara, membuat dia dikenal banyak kalangan. Pengikutnya tak main-main, mulai orang tak berpunya, pejabat tinggi, aparat penegak hukum dan lainnya. Saking manutnya pada sang pemimpin, apapun yang dilakukannya dianggap benar.
Atau sosok Mario Teguh. Motivator kenamaan ini jelas bukan sembarang orang. Kata-kata yang terucap di bibirnya, mengandung spirit luar biasa. Bahkan, mampu “membakar” alam bawah sadar siapapun yang mendengarnya. Saking fanatiknya, tak sedikit penggemarnya mengelu-elukan kehadirannya.
Terdekat, tentu sosok Irman Gusman. Biarpun belum sepenuhnya tuduhan yang dialamatkan kepadanya terbukti, namun kalau sudah berurusan dengan KPK, jarang yang bisa lolos. Sejauh ini baru Budi Gunawan, mantan calon Kapolri sekarang kepala BIN dan Hadi Poernomo, mantan Gubernur Bank Indonesia, berhasil lolos dari KPK. Kita tentu berharap, tokoh Sumbar ini tidak salah.
Ketiga sosok di atas jelas bukan sembarang orang. Punya pengikut dan jadi panutan banyak orang. Tak sedikit pula anak-anak muda yang mengidolakannya. Bisa saja berfoto dengan bersangkutan, sudah menjadi kebanggaan luar biasa bagi anak-anak muda itu.
Namun sekarang bagaimana, jelas tetap jadi pro-kontra. Ada tetap bersimpati dan tak sedikit pula beralih menjadi antipati. Bagi yang simpati, tetap meyakini sang anutan orang bersih, tanpa cela. Dia tetap mengelu-elukan sosok bersangkutan. Khusus Dimas Kanjeng, sosok Marwah Daud Ibrahim bisa jadi contoh pendukungnya. Profesor satu ini rela menanggalkan apa saja guna mendukungnya.
Namun sebaliknya, banyak pula orang kecewa dan merasa sudah dikhianati. Alih-alih memberi dukungan, kini kalangan ini jadi orang paling getol menyuarakan ketidaksukaannya. Bahkan, tak sedikit pula melaporkan tokoh bersangkutan ke hadapan hukum.
Ya, begitulah, bukan perkara mudah menjadi panutan di negeri penuh kepalsuan ini. Lantas, haruskah kita menyerah dengan ini semua? Atau, membuat pelarian dengan menjadikan artis, aktor atau kalangan selebritis lainnya jadi panutan. Tentu, pilihan ini tidaklah bisa dianggap tepat.
Sebetulnya, bila ditelisik lebih dalam, ternyata masih banyak yang bisa dijadikan panutan di negeri ini. Ya, salah satunya duta-duta Sumbar yang berhasil mengharumkan nama daerah ini di kancah nasional PON XIX Jawa Barat lalu. Dengan penuh keterbatasan, mereka ini rela mengorbankan apa saja untuk mengharumkan nama daerah ini.
Boleh jadi banyak orang menilai hanya lewat pemberian bonus kepada bersangkutan, semuanya sudah cukup. Namun, yakinlah semua itu belum cukup untuk membayar apa yang sudah diberikannya pada Sumbar. Masih jauh dari cukup. Bagi mereka paling penting apa yang sudah dilakukannya, bisa dijadikan spirit bagi kita semua. Yakinlah, mereka ini pantas jadi panutan. (*)
Pandeka2005@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s