Hasilkan Dadiah Aneka Rasa

Amna Suresti
amna-surestiMulai langkanya makanan tradisional dadiah di pasaran, membuat Ir Amna Suresti Msi terpanggil. Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas (Unand) ini bersama koleganya menawarkan produk olahan dadiah aneka rasa.
Keprihatinan Amna bukan tanpa sebab. Mengingat banyaknya khasiat yang dikandung produk makanan olahan berasal dari hasil fermentasi susu kerbau sebar itu. Malahan, banyak kalangan menyebut dadiah sebagai “yoghurt”-nya Sumbar.
“Perlu diketahui bahwa dadiah memiliki banyak khasiat. Di antaranya, menurunkan kadar kolesterol dalam darah, mencegah kanker usus, anti karsinogenik, mencegah enterik bakteri patogen, termasuk meningkatkan daya tahan tubuh. Hanya saja, sejak beberapa tahun terakhir, keberadaan dadiah mulai langka,” sebut Amna.
Keprihatinan Amna bertambah, belakangan banyak generasi muda Sumbar tahu apa yang namanya dadiah. Mereka lebih mengetahui yoghurt ketimbang dadiah. “Bila dilakukan survei sekarang ini, hasilnya bisa ditebak. Banyak generasi muda kurang mengetahui apa itu dadiah, pembuatan maupun khasiatnya,” sebut Amna.
Di samping kemasan dadiah terlalu sederhana hanya menggunakan tabung bambu, plus rasanya asam, diyakini Amna menjadi beberapa penyebab kurang dikenal. “Padahal, rasa asam itulah yang menghambat pertumbuhan beberapa jenis mikro organisame yang tidak diinginkan tubuh,” ujarnya.
Merujuk itulah, Amna bersama koleganya sesama dosen Unand masing-masing Prof Dr Ir James Hellyward MS (Dekan Fakultas Peternakan Unand), Ir Amrizal Anas MP (Wakil Dekan III) dan Rahmi Wati SPt MSi plus didukung tenaga ahli dari program studi Teknologi Hasil Ternak Unand Prof Dr Ir Salam Ningsih Aritonang MS dan Dr Ir Elly Roza MS, merancang penelitian yang ditujukan agar dadiah kembali disukai semua kalangan.
Amna yang juga Ketua Tim Peneliti menyebutkan, pihaknya mengembangkan produk olahan dadiah ini lewat penelitian bernama Iptek berbasis masyarakat (Ibm). Di antara rasa yang ditawarkan jus dadiah aneka rasa, puding dadiah, sup buah dadiah dan saus dadiah. “Ke semuanya, memiliki citra rasa tersendiri,” sebut dia.
Di awal-awal pengenalan produk olahan dadiah ini, diakui Amna, banyak penyuka dadiah terheran-heran. Terlebih, selama ini orang hanya mengenal ampiang dadiah. “Namun setelah kita yakinkan, rata-rata mereka menyukai produk makanan olahan dadiah tersebut,” ujar Amna.
Produk olahan dadiah ini, menurutnya, sudah bisa dinikmati masyarakat. Cuma karena masih baru, dia menempatkan di beberapa bofet yang berlokasi di Bukittinggi dan Tilatangkamang, Agam. “Kita melihat respons masyarakat dulu. Bila mereka menyukainya, barulah diproduksi secara missal,” ucap Amna.
Pemilik Bofet Soto H Minah, Firman Agus menyebutkan bahwa produk olahan dadiah ini menambah varian rasa dadiah. “Bila selama ini orang lebih mengenal ampaing dadiah, sekarang ada aneka rasa dadiah,” sebutnya, beberapa waktu lalu.
Khusus di Bukittinggi, diakui Firman, penyuka dadiah masih cukup banyak. Biarpun mayoritas penyukanya berusia di atas 40 tahun, namun juga ada anak-anak berusia 8 tahun. Setiap minggunya (di luar libur), biasanya habis 8-10 tabung dadiah. Sedangkan akhir pekan dan Minggu bisa menghabiskan 25-30 tabung dadiah. Khusus selama 10 hari pasca Lebaran Idul Fitri lalu, pihaknya bisa menghabiskan 300-400 tabung. (rommi delfiano)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s