Kiprah Para Penggerak Pembangunan dari Nagari di Sumbar

Jadikan Nagari Terbaik Nasional, Hasilkan Produk Paten
eri-gasTak mesti harus menjadi pejabat atau pemegang kekuasaan, bila ingin menunjukkan pengabdian. Dua dosen Universitas Andalas (Unand) ini membuktikan ungkapan itu. Kendati ” dosen biasa, namun keduanya tanpa kenal lelah mendorong percepatan pembangunan daerah dari nagari-nagari yang mereka dampingi.    
EMOSI Dr Ir Eri Gas Ekaputra MS tiba-tiba meledak. Dia tak bisa menerima laporan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unand menyebutkan bahwa 67 lanjut usia (lansia) di Nagari Sumanik, Kecamatan Salimpaung, Kebupaten Tanahdatar, Sumbar, telantar. Sebanyak 200 orang lainnya, tak punya mata pencarian.
”Jelas-jelas tak bisa diterima. Saya saja selaku anak Nagari Sumanik tak pernah mendapat laporan seperti itu,” ungkap Eri Gas mengenang kejadian tahun 2007 silam yang seakan menampar wajahnya itu. Lebih-lebih, waktu itu dia langsung menjadi DPL (Dosen Pendamping Lapangan) mahasiswa KKN tersebut.
Di tengah amarahnya, Eri Gas tetap memuji laporan itu. Selaku akademisi, pria kelahiran Sumanik pada 5 Desember 1962 itu, tertarik menguji kebenaran laporan tersebut. Dia mulai melakukan penelitian kecil-kecilan menghimpun data primer dan sekunder di lapangan.
”Akhirnya, saya harus angkat tangan kepada mereka (mahasiswa KKN, red). Ternyata, laporan mereka benar adanya,” ujar dosen Fakultas Teknologi Pertanian itu. Berawal dari situlah, Eri terpanggil menyelesaikan persoalan lansia di kampungnya.
Dia pun mengorganisir perantau setempat turut serta menyelesaikan masalah lansia.  Ketika itu, dia menyakini bahwa potensi perantau memang harus dimaksimalkan. “Kita tahu, hubungan emosional perantau dengan kampung sulit diputus,” tukas dia.
Ternyata, dugaan Ketua Nagari Development Center Unand ini tepat. Kepiawaiannya menyakinkan perantau plus rekam jejaknya relatif bersih, membuat Eri mendapat kepercayaan. Setelah dana terkumpul, Eri pun mulai menjalankan program home care guna merawat para lansia itu.
Waktu itu, dia merekrut tiga perawat yang sehari-harinya bertugas merawat para lansia. Tak sekadar memeriksa kesehatan, namun mereka bertanggung jawab penuh terhadap apapun kebutuhan orang lanjut usia itu. “Mulai memandikan, memberi makan, pedampingan dan lainnya. Masing-masing perawat digaji Rp 2 juta per bulan,” sebut Eri Gas
Tak sampai di situ, Eri juga membuat program-program pemberdayaan terhadap lansia. Dengan begitu, mereka tetap memiliki aktivitas dan menghasilkan.  ”Alhamduliilah, program ini tetap berjalan sampai sekarang. Di samping memiliki dana operasional Rp 490 juta,  sekarang kami sedang membangun gedung senilai Rp 500 juta. Kini, realisasinya sudah 80 persen,” jelasnya.
Selain itu, Eri memegang andil dalam renovasi pasar nagari, balai adat nagari yang dibangun baru, plus pembangunan masjid. Pengembangan sumber daya nagari (SDM) juga mendapat perhatian. Dia pun membentuk sekolah pengembangan bakat anak nagari.
”Terhitung mulai tahun 2007 sampai 2017, dana yang bergulir di nagari mencapai Rp 3 miliar. Semuanya murni berasal dari rantau. Nyaris, tak ada bantuan pemerintah daerah,” ujar lulusan program doktor bidang teknik sumber daya air Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu.
Keberhasilan memberdayakan masyarakat Nagari Sumanik, membuat Eri termotivasi turut memberi andil bagi nagari lain di Sumbar. Di samping Sumanik, kini Eri terlibat dalam pemberdayaan 10 nagari lainnya. Di awali keterlibatannya memberdayakan Nagari Simarasok, Kecamatan Baso, Agam tahun 2010.
Di sini bersama tiga koleganya, yakni Dr Rudi Ferial, Dr Masri Syukur dan Taufik MT, mendampingi wali nagari setempat sebagai staf ahli. Di samping pengembangan kawasan organik dengan memproduksi beras organik hingga dikembangkan biogas menghasilkan listrik 800 watt.  ”Alhamdulillah, Nagari Simarasok berhasil menjadi nagari terbaik pertama tingkat nasional tahun 2011,” ujar bapak dua anak ini.
Dia pun terlibat dalam program 10 Gerbang (Gerakan Pembangunan) Kecamatan Ampekangkek, terdiri dari tujuh nagari terhitung tahun 2012-2014. Masing-masingnya, Ampanggadang, Balaigurah, Batutaba, Biarogadang, Lambah, Panampuang dan Pasia. Pemberdayaan di Kecamatan Ampekangkek ini berhasil mengantarkan Camat Ampekangkek Hendrizal menjadi camat terbaik tahun 2015.
Sekarang Eri juga tercatat sebagai staf ahli Nagari Bukikbatabuah, Agam, bersama Prof Dr Dedi Prima Putra dan Fadli Isyad STP MSi mulai tahun 2015. Tahun lalu, Nagari Bukikbatabuah berhasil menjadi Nagari Terbaik I Tingkat Kabupaten Agam. Mulai tahun lalu, Eri mendampingi Nagari Sungaikamuyang dengan memberdayakan agrowisata dan BUMNag.
Tahun ini, dia mendapat tambahan kepercayaan mendampingi Nagari Simabur (Tanahdatar), Nagari Panti (Pasaman). Lalu, Kotosidempuan (Pasaman), serta Padanglaweh.  ”Bagi saya, memberi tidak akan mengurangi. Saya bisa menemukan masalah dan ide-ide guna dibuat proposal. “Alhamdulilllah, terhitung sejak tahun 2007 sampai 2017 paling kurang dua proposal saya tiap tahunnya dengan anggaran Rp 50-100 juta lolos,” ujarnya.
Kendati disibukan program-program pemberdayaan, Eri tetap tak melupakan tugas pokoknya selaku dosen. Bila mahasiswa ingin bertemu di luar jam kuliah, Eri menyediakan waktu untuk bertemu di rumahnnya. Bahkan, dia menyediakan kamar khusus bagi mahasiswa yang berurusan dengannya.  ”Khusus Sabtu-Minggu, saya mengkhususkan waktu bersama keluarga,” ujar dia.
Merasa Tertantang
endangLain lagi dengan Prof drh Hj Endang Purwati MS PhD. Keterlibatannya dalam pemberdayaan masyarakat nagari berawal ketika dia melakukan program penyuluhan peternakan yang di-handle Unand tahun 2014 lalu di Bangunrejo, Solok Selatan (Solsel).
Di sela-sela penyuluhan itu, selintas Endang mendengar sentimen negatif disampaikan masyarakat setempat.  ”Masak hanya sekadar penyuluhan-penyuluhan saja. Harus, konkret lah,” ujar peraih Profesi Award 2012 Citra Wanita Berprestasi Indonesia Profesi Indonesia itu, mengulang apa yang didengarnya waktu itu.
Kritikan pedas itu sempat membuat perempuan kelahiran Salatiga, 17 Maret 1951 tersebut terhenyak. ”Sudah jauh-jauh kita ke sana dengan mengorbankan banyak waktu, masak tak dianggap,” ujar peraih IPTEKDA LIPI Award dari LIPI tahun 2012.
Setelah dipikir-pikir, Endang merasa pernyataan itu ada benarnya. Beranjak dari situlah, dia merasa tertantang membuktikan bahwa kalangan akademisi tak hanya pandai berteori. Memanfaatkan jaringannya ke LIPI, Endang pun mengajukan program pemberdayaan.  ”Alhamdulillah, tahun 2015 proposal yang kami ajukan tahun 2014 lolos,” ujar Endang.
Pembuatan pupuk organik dan biogas, menjadi fokus pemberdayaan Endang. Memanfaatkan kotoran sapi, Endang bersama tim mengolahnya menjadi biogas dan pupuk organik untuk selanjutnya dijual ke pasaran. ”Selain di Bangunrejo, kami juga kembangkan di Sukabumi, Solsel,” terang dia.
Ternyata, program yang digulirkannya mendapat respons positif dari masyarakat. Semakin banyak masyarakat yang mengikuti programnya.
Melihat kenyataan itu, Endang termotivasi lebih mengembangkan program tersebut. Lagi-lagi, dia mengajukan proposal ke LIPI tahun lalu. Setelah melihat hasil yang didapatkan selama ini, LIPI menambah alokasi anggaran menjadi Rp 150 juta.
Anggaran sebesar itu, di antaranya dialokasikan untuk pembuatan pupuk organik dan pengembangan kopi. Tahun ini, juga dialokasikan pengadaan inkubator dengan anggaran Rp 150 juta.  ”Lewat ini semua, kami berupaya meningkatkan pendapatan pengusaha pribumi berdasarkan teknologi,” sebutnya.
Sejumlah prestasi berhasil didapatkan dalam permberdayaan itu. Salah satunya, berhasil diterbitkannya dua HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual), khususnya terhadap pakan ternak dan pupuk organik.  ”Seusai mengantongi HAKI, ternyata permintaan pakan ternak dan pupuk organik meningkat. Bahkan, peternak kewalahan memenuhi permintaan,” tukasnya.
Khusus pengadaan pakan organik, dia memanfaatkan limbah-limbah atau bahan terbuang. Di antaranya, sisa kulit kopi dan kakao yang banyak ditemukan di sana. Bila sudah dilakukan pengujian lebih mendalam, Endang yakin produk tersebut bisa diproduksi secara massal.
Berkat keberhasilannya ini, peraih Award of Women Sientific dari International Islamic Malaysia tahun 2012 itu, diundang ke sejumlah negara guna memaparkan program pemberdayaannya. Di antaranya,  Thailand, Spanyol dan lainnya.
Pemprov Sumbar pun juga sudah menunjuk Solsel menjadi tuan rumah ajang Livestock Expo, kontes ternak tingkat Provinsi Sumbar tahun ini.
”Kami berharap apa yang sudah dilakukan ini, bisa lebih berkembang dan diadopsi daerah lainnya di Sumbar,” harap keynote speaker terbaik pada seminar internasional probiotik Bioteknologi. (***)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s