Lanjutkan atau Ganti?

wordAkhirnya, sesuai prediksi rematch/ tarung ulang Jokowi versus Probowo tersaji dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2019 mendatang. Bedanya, keduanya bertukar pasangan. Bila Jokowi memilih Ketua MUI Ma’ruf Amin, sedangkan Probowo lebih memilih Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. Kali ini Jokowi diusung 7 parpol pengusung plus 2 pendukung. Di kubu sebelah, diusung 4 parpol plus 1 pendukung. Lantas siapa bakal melenggang kali ini, kubu teruskan atau ganti presiden?
Jelas sulit memprediksi. Banyak kalangan berpandangan bahwa Jokowi bakal melenggang mudah melanjutkan kepemimpinannya 5 tahun mendatang. Keberhasilannya hampir lima tahun belakangan menjadi garansi. Lihatlah bagaimana gencarnya pembangunan infrastruktur di era Jokowi, misalnya jalan tol. Biarpun juga tak terlepas dari dukungan Wakil Presiden Jusuf Kalla, namun tetap saja secara keseluruhan nama Jokowi paling disebut. Begitulah, nasib menjadi orang nomor dua.
Anggapan ini semakin membesar, menyusul keputusan Jokowi di detik-detik akhir menjatuhkan pilihan kepada Ma’ruf Amin menjadi cawapres, ketimbang Mahfud MD. Dengan menggandeng ulama, jelas Jokowi berupaya memperbaiki citranya yang dinilai banyak kalangan kurang mesra dengan ulama. Lebih-lebih, imbas pilgub DKI Jakarta secara terang-terangan Jokowi mendukung mantan koleganya Basuki Tjahaja Purnama/ Ahok. Waktu itu, banyak menyita energi bangsa.
Namun tak sedikit pula, kalangan menyebut peluang Probowo memenangkan pilpres-nya ketiga (2009 Cawapres Megawati, 2014 Capres Hatta Rajasa dan 2019 Capres Sandiaga Uno), lebih mudah. Masuknya Partai Demokrat menjadi parpol pengusung, jadi salah satu garansinya. Figur mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), jelas masih menjadi magnet bagi pemilih. Plus, keberadaan Ketua Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Pria satu ini, diyakini mampu menjadi daya tarik bagi kaum milenial.
Apalagi, berbeda dengan Pilpres 2014 lalu, sepak terjang Jokowi memimpin negara sudah terbaca. Siapa saja bisa menilai apa yang sudah diperbuat mantan Gubernur DKI Jakarta ini hampir lima tahun belakang. Bagi mereka yang belum puas dan tidak sejalan, pilihannya jelas memilih Prabowo lewat slogan ganti presiden-nya. Apalagi, slogan ini sudah jauh-jauh hari bergulir di tengah masyarakat dan kerap juga memicu persiteruan dan berujung bentrok.
Bagaimana dalam konteks Sumbar? Memang sulit pula menebaknya. Bisa jadi kubu Prabowo masih berkeyakinan mampu memenangkan pertarungan seperti tahun 2014 lalu. Waktu itu, kubu Prabowo menang telak dengan selisih 53,84 persen suara. Apalagi orang Minang dalam memilih pemimpin itu masih mengacu kepada takah, tageh dan tokoh (3T). Melihat dua pasangan capres sekarang, jelas keunggulan masih di kubu Prabowo dengan sokongan Sandiaga Uno-nya. Di samping muda dan ganteng, dia juga kelahiran Pekanbaru, 28 Juni 1969. Stigma sama-sama orang Sumatera bisa menjadi harga jual.
Namun, sebetulnya tak bisa seperti itu juga. Bisa saja, sekarang ini pilihan orang Sumbar mulai mencair. Ini jelas tak terlepas dari support dan jiwa besar yang ditunjukkan pemerintahan Jokowi-JK kepada Sumbar. Biarpun kalah telak, Jokowi dalam percepatan pembangunan bangsa tetap mengikutsertakan Sumbar. Malahan, banyak daerah lain iri terhadap Sumbar. Misalnya, dana alokasi khusus (DAK)-nya bisa lebih besar dibandingkan provinsi lain yang waktu Pilpres 2014 lalu, Jokowi menang di sana. Jokowi pun hampir lima tahun terakhir, termasuk presiden paling sering datang ke Sumbar.
Nah, merujuk analisa ringan seperti di atas, jelas tergambar masing-masing pasangan capres punya keunggulan masing-masing. Jadi, siapa pemenang Pilpres 2019 mendatang? Ya, seperti di atas sulit ditebak. Tentu paling menentukan, bagaimana kedua pasangan capres memaksimalkan waktu yang ada. Selain memanaskan mesin parpol koalisi masing-masing, juga mampu mengemas isu-isu yang ada semenarik mungkin dan rasional. Di samping itu, tentu program yang ditawarkan benar-benar menyentuh masyarakat.
Walau sekarang ini angka kemiskinan sesuai data BPS sudah satu digit, namun perlu diingat bahwa orang yang berada di pinggir jurang kemiskinan banyaknya minta ampun. Lihat juga kekhawatiran banyak kalangan terhadap utang Indonesia lebih Rp 4.000 triliun, rupiah tergerus dalam. Khusus utang, bila dikalkulasikan, saat ini setiap orang Indonesia harus menanggung utang Rp 13-16 juta per orang. Bila kondisi ini tak segera disikapi, bukan tak mungkin negara ini akan bangkrut.
Terpenting sekarang, siapa pun kita, apa pun latar belakangan dan pilihan, NKRI mesti tetap harga mati. Tentu semua orang tak menginginkan, Indonesia tinggal nama hanya gara-gara perbedaan pilihan dalam pilpres. Berbeda boleh, namun kemampuan berpikir rasional dan bijak tetap dikedepankan. Mau pilih Jokowi atau Prabowo nantinya, satu yang harus dipegang ”jadilah pendukung, pemilih atau simpatisan yang mengedepankan keutuhan NKRI dan kepentingan bangsa. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s